alexametrics
24.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Pijar Lava Api di Pekarangan Rumah Warga

Api membara di pekarangan rumah Natun di Dusun Ringinsurup, Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal. Dua pekan tak padam. Keberadaannya mengundang perhatian dari warga dan pemerintah desa setempat.

=================

DILA RAHMATIKA, PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo

DAUN kering yang sengaja dijatuhkan ke liang kecil itu langsung dijilati api. Permukaan tanah di pekarangan itu tidak rata. Sensasi panasnya langsung terasa jika kaki menginjak tanah tersebut. Banyak lubang dan bongkahan tanah berwarna kehitaman disertai abu. ‘’Hati-hati, tanahnya ambles,’’ teriak seorang warga mengingatkan koran ini Kamis (26/9).

Kini, pekarangan seluas 70 meter persegi itu dikitari tali rafia sepanjang 14×8 meter persegi. Garis pembatas itu demi keamanan warga yang kian hari kian banyak berdatangan. ‘’Dangu ngoten niku kelip-kelip teng pinggir radosan (Sudah lama apinya terlihat menyala dari tepi jalan, Red),’’ kata Turji, warga setempat.

Jika malam hari, nyala api terlihat lebih jelas. Dari retakannya terlihat tanah diselimuti rona kemerahan. Sekilas menyerupai pijar lava api. Fenomena ini diketahui warga sejak dua pekan terakhir. Sampai sekarang, bongkahan tanah kehitaman kian meluas. ‘’Warga tahunya saat panen ketela. Dari tanah dilihat kok ada api, sudah dipadamkan warga pakai Sanyo dua kali, masih tetap ada apinya,’’ timpal Gumanto, perangkat desa setempat.

Baca Juga :  Cinta Ditolak Sepupu Bertindak

Natun menanam jagung dan ketela di pekarangan tersebut. Setelah dipanen, pekarangan itu dibiarkan kosong untuk mengantisipasi kebakaran. Lantaran lokasinya dekat permukiman warga. Setahu warga, lahan tersebut dulunya milik Kasemi, warga Wringinanom, Sambit. ‘’Kasemi bakul jamu, ampas empon-empon dibuang di lahan itu,’’ imbuh Gumanto.

Ketika dibeli, kondisi tanahnya tidak rata alias banyak lubang. ‘’Karena sudah ada jeglongan (lubang, Red), kemudian diuruk kira-kira dua meter untuk limbah jamu (ampas perasan sisa empon-empon). Setelah itu diuruk lagi,’’ bebernya.

Kini, api dari dalam tanah terus menjadi tontonan warga. Sejak dipagari tali rafia, warga hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Baru kemarin (26/9) Polsek Bungkal memagarinya dengan garis polisi. Memperketat akses demi keselamatan warga. ‘’Antisipasi kebakaran dari limbah jamu. Yang dikhawatirkan, tanah yang terbakar ini ambles,’’ ucap Kanit Sabhara Polsek Bungkal Aiptu Suyitno. ***(fin/c1)

Api membara di pekarangan rumah Natun di Dusun Ringinsurup, Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal. Dua pekan tak padam. Keberadaannya mengundang perhatian dari warga dan pemerintah desa setempat.

=================

DILA RAHMATIKA, PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo

DAUN kering yang sengaja dijatuhkan ke liang kecil itu langsung dijilati api. Permukaan tanah di pekarangan itu tidak rata. Sensasi panasnya langsung terasa jika kaki menginjak tanah tersebut. Banyak lubang dan bongkahan tanah berwarna kehitaman disertai abu. ‘’Hati-hati, tanahnya ambles,’’ teriak seorang warga mengingatkan koran ini Kamis (26/9).

Kini, pekarangan seluas 70 meter persegi itu dikitari tali rafia sepanjang 14×8 meter persegi. Garis pembatas itu demi keamanan warga yang kian hari kian banyak berdatangan. ‘’Dangu ngoten niku kelip-kelip teng pinggir radosan (Sudah lama apinya terlihat menyala dari tepi jalan, Red),’’ kata Turji, warga setempat.

Jika malam hari, nyala api terlihat lebih jelas. Dari retakannya terlihat tanah diselimuti rona kemerahan. Sekilas menyerupai pijar lava api. Fenomena ini diketahui warga sejak dua pekan terakhir. Sampai sekarang, bongkahan tanah kehitaman kian meluas. ‘’Warga tahunya saat panen ketela. Dari tanah dilihat kok ada api, sudah dipadamkan warga pakai Sanyo dua kali, masih tetap ada apinya,’’ timpal Gumanto, perangkat desa setempat.

Baca Juga :  RS di Kota Madiun Kosong, Nakes Diminta Turun ke Lapangan

Natun menanam jagung dan ketela di pekarangan tersebut. Setelah dipanen, pekarangan itu dibiarkan kosong untuk mengantisipasi kebakaran. Lantaran lokasinya dekat permukiman warga. Setahu warga, lahan tersebut dulunya milik Kasemi, warga Wringinanom, Sambit. ‘’Kasemi bakul jamu, ampas empon-empon dibuang di lahan itu,’’ imbuh Gumanto.

Ketika dibeli, kondisi tanahnya tidak rata alias banyak lubang. ‘’Karena sudah ada jeglongan (lubang, Red), kemudian diuruk kira-kira dua meter untuk limbah jamu (ampas perasan sisa empon-empon). Setelah itu diuruk lagi,’’ bebernya.

Kini, api dari dalam tanah terus menjadi tontonan warga. Sejak dipagari tali rafia, warga hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Baru kemarin (26/9) Polsek Bungkal memagarinya dengan garis polisi. Memperketat akses demi keselamatan warga. ‘’Antisipasi kebakaran dari limbah jamu. Yang dikhawatirkan, tanah yang terbakar ini ambles,’’ ucap Kanit Sabhara Polsek Bungkal Aiptu Suyitno. ***(fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/