27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Pemilihan BBM Sesuaikan Jenis Kendaraan, Pertalite atau Pertamax? 

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun ­– Beredar kabar bahwa pertalite saat ini lebih boros ketimbang sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) awal bulan lalu. Informasi simpang siur itu juga menyebut bahwa ada perbedaan pada kandungan pertalite. Fakta atau hoaks?

PT Pertamina menegaskan bahwa informasi itu tidak benar. Lewat siaran persnya kemarin (26/9), Pertamina memastikan kualitas dan kandungan BBM jenis pertalite tidak berubah.

Pertalite research octane number (RON) 90 yang dipasarkan melalui lembaga penyalur resmi telah sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Migas Nomor 0486.K/10/DJM.S/2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 90 yang Dipasarkan di Dalam Negeri.

Pertamina juga berpesan agar masyarakat mengikuti ketentuan yang termaktub dalam buku panduan kendaraan bermotor. Pihak pabrikan telah menyesuaikan bahan bakar yang dijual di pasaran dengan jenis kendaraan. Pun pergantian isi jenis BBM dengan kadar oktan atau RON yang berbeda juga tidak direkomendasikan.

‘’Borosnya penggunaan BBM bisa disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya penggunaan BBM yang tidak sesuai dengan kompresi mesin,’’ kata Section Head Communication of Pertamina Patra Niaga East Java, Bali, & Nusa Tenggara Arya Yusa Dwicandra.

Pertamina mengimbau masyarakat untuk mengisi BBM sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam buku panduan kendaraan bermotor yang telah ditentukan tiap pabrikan. Pergantian isi jenis BBM dengan kadar oktan (RON) yang berbeda juga tidak direkomendasikan. ‘’BBM yang tidak sesuai kompresi mesin dapat menyebabkan kerusakan, mesin kotor, BBM boros, dan gangguan lain,’’ bebernya.

Baca Juga :  Pasutri Asal Ponorogo Jadi Korban Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air

Sementara itu, Kaprodi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Ponorogo Yoyok Winardi menyampaikan bahwa borosnya kendaraan dipengaruhi berbagai faktor. Selain jenis kendaraan, penggunaan BBM yang tidak sesuai, juga cara berkendara, turut berpengaruh terhadap jumlah konsumsi BBM. ‘’Pabrikan motor telah menentukan dan melakukan riset jenis bahan bakar atau tingkat RON yang boleh dan cocok serta baik bagi produk mereka,’’ kata Yoyok.

Yoyok menambahkan, banyak faktor yang memengaruhi mengapa pertalite dirasa lebih boros dibandingkan dengan pertamax. Pihaknya telah melakukan penelitian terkait hal itu dengan mempertimbangkan berbagai indikator. Mulai jenis kendaraan, jarak tempuh, jenis BBM, jumlah muatan kendaraan, medan jalan, hingga kecepatan. ‘’Penelitian ini perlu lanjutan agar hasilnya sempurna,’’ ungkapnya.

Menurutnya, perbedaan jenis pertalite dan pertamax terletak pada perbandingan RON. Pertalite memiliki kadar oktan atau RON di angka 90. Sedangkan pertamax dengan RON 92. Nah, kadar oktan ini yang berpengaruh terhadap kandungan sisa pembuangan serta kesempurnaan pembakaran mesin.

‘’Pertamax menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna, energi yang dihasilkan lebih tinggi sehingga pembuangan nyaris minim. Pertalite kebalikannya, butuh banyak untuk pembakaran, walaupun sebenarnya tergantung jenis motornya juga,’’ pungkasnya. (mg2/kid/c1/fin) 

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun ­– Beredar kabar bahwa pertalite saat ini lebih boros ketimbang sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) awal bulan lalu. Informasi simpang siur itu juga menyebut bahwa ada perbedaan pada kandungan pertalite. Fakta atau hoaks?

PT Pertamina menegaskan bahwa informasi itu tidak benar. Lewat siaran persnya kemarin (26/9), Pertamina memastikan kualitas dan kandungan BBM jenis pertalite tidak berubah.

Pertalite research octane number (RON) 90 yang dipasarkan melalui lembaga penyalur resmi telah sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Migas Nomor 0486.K/10/DJM.S/2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 90 yang Dipasarkan di Dalam Negeri.

Pertamina juga berpesan agar masyarakat mengikuti ketentuan yang termaktub dalam buku panduan kendaraan bermotor. Pihak pabrikan telah menyesuaikan bahan bakar yang dijual di pasaran dengan jenis kendaraan. Pun pergantian isi jenis BBM dengan kadar oktan atau RON yang berbeda juga tidak direkomendasikan.

‘’Borosnya penggunaan BBM bisa disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya penggunaan BBM yang tidak sesuai dengan kompresi mesin,’’ kata Section Head Communication of Pertamina Patra Niaga East Java, Bali, & Nusa Tenggara Arya Yusa Dwicandra.

Pertamina mengimbau masyarakat untuk mengisi BBM sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam buku panduan kendaraan bermotor yang telah ditentukan tiap pabrikan. Pergantian isi jenis BBM dengan kadar oktan (RON) yang berbeda juga tidak direkomendasikan. ‘’BBM yang tidak sesuai kompresi mesin dapat menyebabkan kerusakan, mesin kotor, BBM boros, dan gangguan lain,’’ bebernya.

Baca Juga :  Kelompok Binaan CSR Pertamina Perkenalkan Pakan Ternak via Maggot di Bazar UMKM

Sementara itu, Kaprodi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Ponorogo Yoyok Winardi menyampaikan bahwa borosnya kendaraan dipengaruhi berbagai faktor. Selain jenis kendaraan, penggunaan BBM yang tidak sesuai, juga cara berkendara, turut berpengaruh terhadap jumlah konsumsi BBM. ‘’Pabrikan motor telah menentukan dan melakukan riset jenis bahan bakar atau tingkat RON yang boleh dan cocok serta baik bagi produk mereka,’’ kata Yoyok.

Yoyok menambahkan, banyak faktor yang memengaruhi mengapa pertalite dirasa lebih boros dibandingkan dengan pertamax. Pihaknya telah melakukan penelitian terkait hal itu dengan mempertimbangkan berbagai indikator. Mulai jenis kendaraan, jarak tempuh, jenis BBM, jumlah muatan kendaraan, medan jalan, hingga kecepatan. ‘’Penelitian ini perlu lanjutan agar hasilnya sempurna,’’ ungkapnya.

Menurutnya, perbedaan jenis pertalite dan pertamax terletak pada perbandingan RON. Pertalite memiliki kadar oktan atau RON di angka 90. Sedangkan pertamax dengan RON 92. Nah, kadar oktan ini yang berpengaruh terhadap kandungan sisa pembuangan serta kesempurnaan pembakaran mesin.

‘’Pertamax menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna, energi yang dihasilkan lebih tinggi sehingga pembuangan nyaris minim. Pertalite kebalikannya, butuh banyak untuk pembakaran, walaupun sebenarnya tergantung jenis motornya juga,’’ pungkasnya. (mg2/kid/c1/fin) 

Most Read

Artikel Terbaru

/