alexametrics
26.2 C
Madiun
Sunday, May 29, 2022

Pengembang Hilang, Konsumen Meradang, Dreamland Plalangan Dipolisikan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Konsumen perumahan Dreamland Plalangan di Jenangan melaporkan PT Cahaya Indah Mulia (PT CIM) ke Mapolres Ponorogo Senin (27/1).

Konsumen merasa dirugikan lantaran pengembangnya dianggap menghilang sejak 2018 silam. Padahal, konsumen sudah membayar puluhan hingga ratusan juta rupiah. ‘’Kami sudah mengangsur. Bahkan, ada yang sudah lunas . Rumah belum jadi, pengembangnya hilang,’’ kata Agus Nugroho, salah seorang konsumen perumahan tersebut.

Agus beserta 16 korban mendatangi Mapolres Ponorogo sekitar pukul 10.00. Ditemui awak media, Agus hanya bisa geleng-geleng mendapati dirinya merasa tertipu PT CIM. Mereka menawarkan hunian tipe 36 dan 45 sejumlah 45 unit di Plalangan. Dengan metode pembayaran langsung cash atau cash berkala. Agus mengaku telah melunasi pembayaran pada 2017. Agus termasuk beruntung lantaran rumahnya sudah seratus persen jadi. Tapi, janji mendapat sertifikat hak milik (SHM) atas rumah tidak kunjung ditepati. ‘’Ketika pembayaran sudah 50 persen, pengembang janji mulai membangun. Ketika sudah seratus persen lunas, dijanjikan rumah jadi dan sertifikat diberikan. Tapi, sampai sekarang saya belum menerima sertifikat itu,’’ ungkapnya.

Konsumen lain rata-rata juga mulai melunasi pembayaran pada 2017 hingga 2018. Malangnya, sampai kini belum dapat melihat rumah idaman yang dijanjikan. Seperti Agung Subiantoro. Dia dijanjikan rumah dua kavling bertipe 45 seharga Rp 175 juta. Sudah dibayar lunas Desember 2017. Kala itu PT CIM menjanjikan rumah selesai dibangun dalam waktu empat bulan. Sampai sekarang, hanya fondasi rumah yang dia dapat. ‘’Mulai 2018 sudah tidak ada kegiatan. Pengembangnya pergi tidak tahu ke mana,’’ kata Agung.

Baca Juga :  Bupati Sugiri Berupaya Entaskan Kemiskinan Lewat Pendidikan

Agung memperkirakan kerugian total para konsumen mencapai miliaran rupiah. Pasalnya, rata-rata sudah mengangsur minimal Rp 50 juta atau Rp 100 juta. Bahkan sebagian sudah melunasi pembayaran. Agung menyesalkan sikap pengembang. Padahal, Agung dan lainnya sudah menyelesaikan kewajiban mereka. ‘’Kami berharap segera ada kejelasan,’’ desaknya.

Ari Hersofiawanudin, kuasa hukum para korban, menyatakan bahwa pengembang telah menggadaikan sertifikat tanah perumahan itu ke BPR Ekadharma, Magetan. Ditengarai mendapat pinjaman Rp 800 juta, namun sampai jatuh tempo gagal melunasi. ‘’Rencananya oleh pihak BPR akan dilelang. Tapi, kami sudah mengajukan gugatan,’’ ungkapnya.

Pihak bank belakangan mendaftarkan lelang tanah yang diagunkan PT CIM lantaran gagal melunasi pinjaman sampai jatuh tempo. ‘’Selama tahap mediasi, pengembangnya tidak pernah datang. KPKNL sudah membatalkan lelang,’’ bebernya.

Ari memandang pembatalan lelang sudah tepat lantaran yang diajukan BPR melanggar perundangan. Sebab, para pemohon gugatan juga mempunyai hak milik atas objek yang akan dilelang tersebut. ‘’Dibatalkan karena jual beli antara konsumen perumahan dengan PT CIM secara aturan sudah sah. Kalau 45 hunian seluruhnya sudah dibeli, maka kerugian materiilnya bisa mencapai sekitar Rp 4,5 miliar,’’ terang Ari.

Ada 17 korban dalam daftar pelapor dugaan penipuan ini. Kemarin mereka langsung diajak mengikuti pengumpulan data di lapangan oleh tim penyidik Satreskrim Polres Ponorogo. Lokasi pembangunan perumahan seolah menempati lahan bekas galian. Tampak dari tebing seolah usai dikeruk yang mengelilingi perumahan kecil tersebut. ‘’Hanya tujuh rumah yang berdiri. Baru empat unit yang sudah bisa ditempati,’’ tandasnya. (naz/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Konsumen perumahan Dreamland Plalangan di Jenangan melaporkan PT Cahaya Indah Mulia (PT CIM) ke Mapolres Ponorogo Senin (27/1).

Konsumen merasa dirugikan lantaran pengembangnya dianggap menghilang sejak 2018 silam. Padahal, konsumen sudah membayar puluhan hingga ratusan juta rupiah. ‘’Kami sudah mengangsur. Bahkan, ada yang sudah lunas . Rumah belum jadi, pengembangnya hilang,’’ kata Agus Nugroho, salah seorang konsumen perumahan tersebut.

Agus beserta 16 korban mendatangi Mapolres Ponorogo sekitar pukul 10.00. Ditemui awak media, Agus hanya bisa geleng-geleng mendapati dirinya merasa tertipu PT CIM. Mereka menawarkan hunian tipe 36 dan 45 sejumlah 45 unit di Plalangan. Dengan metode pembayaran langsung cash atau cash berkala. Agus mengaku telah melunasi pembayaran pada 2017. Agus termasuk beruntung lantaran rumahnya sudah seratus persen jadi. Tapi, janji mendapat sertifikat hak milik (SHM) atas rumah tidak kunjung ditepati. ‘’Ketika pembayaran sudah 50 persen, pengembang janji mulai membangun. Ketika sudah seratus persen lunas, dijanjikan rumah jadi dan sertifikat diberikan. Tapi, sampai sekarang saya belum menerima sertifikat itu,’’ ungkapnya.

Konsumen lain rata-rata juga mulai melunasi pembayaran pada 2017 hingga 2018. Malangnya, sampai kini belum dapat melihat rumah idaman yang dijanjikan. Seperti Agung Subiantoro. Dia dijanjikan rumah dua kavling bertipe 45 seharga Rp 175 juta. Sudah dibayar lunas Desember 2017. Kala itu PT CIM menjanjikan rumah selesai dibangun dalam waktu empat bulan. Sampai sekarang, hanya fondasi rumah yang dia dapat. ‘’Mulai 2018 sudah tidak ada kegiatan. Pengembangnya pergi tidak tahu ke mana,’’ kata Agung.

Baca Juga :  Masih Ada Saja, Kepergok Ngopi Disanksi Push Up

Agung memperkirakan kerugian total para konsumen mencapai miliaran rupiah. Pasalnya, rata-rata sudah mengangsur minimal Rp 50 juta atau Rp 100 juta. Bahkan sebagian sudah melunasi pembayaran. Agung menyesalkan sikap pengembang. Padahal, Agung dan lainnya sudah menyelesaikan kewajiban mereka. ‘’Kami berharap segera ada kejelasan,’’ desaknya.

Ari Hersofiawanudin, kuasa hukum para korban, menyatakan bahwa pengembang telah menggadaikan sertifikat tanah perumahan itu ke BPR Ekadharma, Magetan. Ditengarai mendapat pinjaman Rp 800 juta, namun sampai jatuh tempo gagal melunasi. ‘’Rencananya oleh pihak BPR akan dilelang. Tapi, kami sudah mengajukan gugatan,’’ ungkapnya.

Pihak bank belakangan mendaftarkan lelang tanah yang diagunkan PT CIM lantaran gagal melunasi pinjaman sampai jatuh tempo. ‘’Selama tahap mediasi, pengembangnya tidak pernah datang. KPKNL sudah membatalkan lelang,’’ bebernya.

Ari memandang pembatalan lelang sudah tepat lantaran yang diajukan BPR melanggar perundangan. Sebab, para pemohon gugatan juga mempunyai hak milik atas objek yang akan dilelang tersebut. ‘’Dibatalkan karena jual beli antara konsumen perumahan dengan PT CIM secara aturan sudah sah. Kalau 45 hunian seluruhnya sudah dibeli, maka kerugian materiilnya bisa mencapai sekitar Rp 4,5 miliar,’’ terang Ari.

Ada 17 korban dalam daftar pelapor dugaan penipuan ini. Kemarin mereka langsung diajak mengikuti pengumpulan data di lapangan oleh tim penyidik Satreskrim Polres Ponorogo. Lokasi pembangunan perumahan seolah menempati lahan bekas galian. Tampak dari tebing seolah usai dikeruk yang mengelilingi perumahan kecil tersebut. ‘’Hanya tujuh rumah yang berdiri. Baru empat unit yang sudah bisa ditempati,’’ tandasnya. (naz/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/