alexametrics
30.3 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Reyog Ponorogo Jadi Nominasi Tunggal Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kesenian Reyog Ponorogo berhasil menjadi nominasi tunggal Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage/ICH) yang akan diusulkan Indonesia ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sebelumnya, Reyog Ponorogo telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI pada 2013 lalu.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendukung penuh dan mengajak semua masyarakat Indonesia turut mendukung, baik melalui testimoni maupun melalui sosial media. Khofifah berharap reyog berhasil lolos sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Sehingga, kesenian kebanggaan masyarakat Ponorogo, Jawa Timur (Jatim), serta Indonesia ini akan semakin mendunia dan membawa nama baik Indonesia.

“Kenapa disebut nominasi tunggal, karena  memang reyog hanya ada di Ponorogo. Kalaupun reyog dimainkan di Medan atau di Makassar misalnya, ya namanya tetap Reyog Ponorogo, bukan reyog Medan dan seterusnya. Saya yakin bahwa kesenian reyog ini telah memiliki nilai luar biasa sebagai syarat untuk mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda dunia dari UNESCO,” kata Khofifah saat acara Kenduri Seni Reyog Ponorogo di Pendapa Pemkab Ponorogo, Sabtu (26/2) malam.

Khofifah mengatakan, dalam seleksi wawancara dengan UNESCO, Bupati Ponorogo juga telah memberikan penjelasan terkait penggunaan bulu merak dan kulit harimau dalam kesenian ini. Bahwa bulu merak tersebut bukan dicabut, akan tetapi memang dalam kurun waktu tertentu bulu merak lepas sendiri dari tubuh merak.

“Kemudian yang belasan tahunan lalu menggunakan kulit harimau saat ini sudah diganti kulit kambing yang kemudian diformat seperti kulit harimau. Kalau dua hal ini sudah terjawab dan meyakinkan UNESCO, insya Allah Reyog Ponorogo akan lolos sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO,” ujar orang nomor satu di Jatim itu.

Khofifah mengajak seluruh masyarakat Jatim, terutama kepada para pegiat media sosial (medsos) untuk memberikan dukungan pada Reyog Ponorogo agar lolos sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. Caranya, dengan mempromosikan dan memviralkan melalui medsos dan kanal youtube.

“Saya yakin banyak masyarakat Jatim, terutama kaum muda ini yang sering bermedsos. Bahkan banyak yang jadi youtuber. Nah mulai sekarang kita bisa mempromosikan kebudayaan kita, kesenian kita. Salah satunya Reyog Ponorogo ini dengan mengunggah di medsos agar semakin dikenal luas di dunia,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, pengajuan Reyog Ponorogo ke dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO ini menjadi bagian penting sebagai upaya menjaga hak kekayaan intelektual. Dengan pengajuan ini, hal ini menjadi bagian dalam menjaga agar seni khas Indonesia ini tidak diklaim oleh negara lain.

Baca Juga :  Tren Remiten Turun Imbas Pandemi

“Ketika dilakukan proses identifikasi kemudian diusulkan sebagai warisan budaya tak benda semoga akan menjadi unggulan yang diajukan oleh pemerintah Indonesia, sehingga seluruh inisiator dan proses budaya yang luar biasa oleh masyarakat Ponorogo menjadi mendunia,” katanya.

“Mohon doa dari kita semua, tidak hanya warga Ponorogo tapi semua di antara kita masyarakat Jatim, masyarakat Indonesia bisa saling memberikan support,” imbuh Khofifah.

Lebih lanjut, menurut Khofifah, masuknya Reyog Ponorogo sebagai nominasi tunggal ini mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia. Serta pentingnya menjaga keberlanjutan dan eksistensi budaya dalam hal ini Reyog Ponorogo.

“Tidak hanya menjaga eksistensinya, tapi juga membentuk regenerasi dan ekosistem seni Reyog Ponorogo yang tangguh. Yakni dengan memanfaatkan sekolah, sanggar atau bahkan membangun jaringan dengan komunitas reyog yang ada di wilayah lain,” katanya.

“Juga yang tak kalah penting bagaimana membina para perajin alat-alat kesenian reyog, membantu mereka baik dalam pengembangan keahlian, kreativitas produk, dan kualitas yang juga bisa dipadukan dengan pengembangan destinisasi wisata yang terpadu dengan kesenian Reyog Ponorogo,” tambahnya.

SENI: Reyog Ponorogo menjadi nominasi tunggal warisan budaya dunia tak benda yang diusulkan ke Unesco. (HUMAS PEMPROV JATIM)

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan bahwa pihaknya akan terus berusaha dan kerja keras agar dunia mau mengakui Reyog Ponorogo. Ia pun menyampaikan terima kasih atas dukungan Gubernur Khofifah kepada Reyog Ponorogo. “Matur nuwun sanget dukungannya ibu gubernur. Kami akan terus bekerja keras agar ini bisa berhasil lolos. Mohon doanya juga kepada seluruh masyarakat Ponorogo,” pungkasnya.

Sebagai informasi, setiap tahun Kemendikbud selalu ada proses seleksi bagi warisan budaya tak benda di Indonesia. Kemudian, warisan budaya tak benda Indonesia ini yang menjadi unggulan akan dilanjutkan ke UNESCO.

Pemkab Ponorogo sendiri pernah mengusulkan Reyog Ponorogo ke dalam daftar ICH UNESCO pada tahun 2018, namun belum berhasil. Di tahun tersebut, justru Gamelan Indonesia yang lolos dan berhasil diakui UNESCO pada 15 Desember 2021.

Reyog Ponorogo adalah seni pertunjukan tradisional rakyat Ponorogo yang di dalamnya terdapat unsur-unsur penari warok, jatil, bujang ganong, klono sewandono, dan barongan. Tarian tersebut diiringi dengan seperangkat instrumen pengiring reyog khas ponoragan yang terdiri dari kendang, kempul (gong), kethuk- kenong, slompret, tipung, dan angklung.

Turut hadir Wakil Bupati Ponorogo Lisdyarita, forkopimda Kabupaten Ponorogo, beberapa kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim,  khususnya kadis Budpar Jatim serta para seniman Reyog Ponorogo. (*/aan/adv)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kesenian Reyog Ponorogo berhasil menjadi nominasi tunggal Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage/ICH) yang akan diusulkan Indonesia ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sebelumnya, Reyog Ponorogo telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI pada 2013 lalu.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendukung penuh dan mengajak semua masyarakat Indonesia turut mendukung, baik melalui testimoni maupun melalui sosial media. Khofifah berharap reyog berhasil lolos sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Sehingga, kesenian kebanggaan masyarakat Ponorogo, Jawa Timur (Jatim), serta Indonesia ini akan semakin mendunia dan membawa nama baik Indonesia.

“Kenapa disebut nominasi tunggal, karena  memang reyog hanya ada di Ponorogo. Kalaupun reyog dimainkan di Medan atau di Makassar misalnya, ya namanya tetap Reyog Ponorogo, bukan reyog Medan dan seterusnya. Saya yakin bahwa kesenian reyog ini telah memiliki nilai luar biasa sebagai syarat untuk mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda dunia dari UNESCO,” kata Khofifah saat acara Kenduri Seni Reyog Ponorogo di Pendapa Pemkab Ponorogo, Sabtu (26/2) malam.

Khofifah mengatakan, dalam seleksi wawancara dengan UNESCO, Bupati Ponorogo juga telah memberikan penjelasan terkait penggunaan bulu merak dan kulit harimau dalam kesenian ini. Bahwa bulu merak tersebut bukan dicabut, akan tetapi memang dalam kurun waktu tertentu bulu merak lepas sendiri dari tubuh merak.

“Kemudian yang belasan tahunan lalu menggunakan kulit harimau saat ini sudah diganti kulit kambing yang kemudian diformat seperti kulit harimau. Kalau dua hal ini sudah terjawab dan meyakinkan UNESCO, insya Allah Reyog Ponorogo akan lolos sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO,” ujar orang nomor satu di Jatim itu.

Khofifah mengajak seluruh masyarakat Jatim, terutama kepada para pegiat media sosial (medsos) untuk memberikan dukungan pada Reyog Ponorogo agar lolos sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. Caranya, dengan mempromosikan dan memviralkan melalui medsos dan kanal youtube.

“Saya yakin banyak masyarakat Jatim, terutama kaum muda ini yang sering bermedsos. Bahkan banyak yang jadi youtuber. Nah mulai sekarang kita bisa mempromosikan kebudayaan kita, kesenian kita. Salah satunya Reyog Ponorogo ini dengan mengunggah di medsos agar semakin dikenal luas di dunia,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, pengajuan Reyog Ponorogo ke dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO ini menjadi bagian penting sebagai upaya menjaga hak kekayaan intelektual. Dengan pengajuan ini, hal ini menjadi bagian dalam menjaga agar seni khas Indonesia ini tidak diklaim oleh negara lain.

Baca Juga :  Ikut OPOP Expo, Pertamina Dukung Pemberdayaan Pesantren di Jatim

“Ketika dilakukan proses identifikasi kemudian diusulkan sebagai warisan budaya tak benda semoga akan menjadi unggulan yang diajukan oleh pemerintah Indonesia, sehingga seluruh inisiator dan proses budaya yang luar biasa oleh masyarakat Ponorogo menjadi mendunia,” katanya.

“Mohon doa dari kita semua, tidak hanya warga Ponorogo tapi semua di antara kita masyarakat Jatim, masyarakat Indonesia bisa saling memberikan support,” imbuh Khofifah.

Lebih lanjut, menurut Khofifah, masuknya Reyog Ponorogo sebagai nominasi tunggal ini mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia. Serta pentingnya menjaga keberlanjutan dan eksistensi budaya dalam hal ini Reyog Ponorogo.

“Tidak hanya menjaga eksistensinya, tapi juga membentuk regenerasi dan ekosistem seni Reyog Ponorogo yang tangguh. Yakni dengan memanfaatkan sekolah, sanggar atau bahkan membangun jaringan dengan komunitas reyog yang ada di wilayah lain,” katanya.

“Juga yang tak kalah penting bagaimana membina para perajin alat-alat kesenian reyog, membantu mereka baik dalam pengembangan keahlian, kreativitas produk, dan kualitas yang juga bisa dipadukan dengan pengembangan destinisasi wisata yang terpadu dengan kesenian Reyog Ponorogo,” tambahnya.

SENI: Reyog Ponorogo menjadi nominasi tunggal warisan budaya dunia tak benda yang diusulkan ke Unesco. (HUMAS PEMPROV JATIM)

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan bahwa pihaknya akan terus berusaha dan kerja keras agar dunia mau mengakui Reyog Ponorogo. Ia pun menyampaikan terima kasih atas dukungan Gubernur Khofifah kepada Reyog Ponorogo. “Matur nuwun sanget dukungannya ibu gubernur. Kami akan terus bekerja keras agar ini bisa berhasil lolos. Mohon doanya juga kepada seluruh masyarakat Ponorogo,” pungkasnya.

Sebagai informasi, setiap tahun Kemendikbud selalu ada proses seleksi bagi warisan budaya tak benda di Indonesia. Kemudian, warisan budaya tak benda Indonesia ini yang menjadi unggulan akan dilanjutkan ke UNESCO.

Pemkab Ponorogo sendiri pernah mengusulkan Reyog Ponorogo ke dalam daftar ICH UNESCO pada tahun 2018, namun belum berhasil. Di tahun tersebut, justru Gamelan Indonesia yang lolos dan berhasil diakui UNESCO pada 15 Desember 2021.

Reyog Ponorogo adalah seni pertunjukan tradisional rakyat Ponorogo yang di dalamnya terdapat unsur-unsur penari warok, jatil, bujang ganong, klono sewandono, dan barongan. Tarian tersebut diiringi dengan seperangkat instrumen pengiring reyog khas ponoragan yang terdiri dari kendang, kempul (gong), kethuk- kenong, slompret, tipung, dan angklung.

Turut hadir Wakil Bupati Ponorogo Lisdyarita, forkopimda Kabupaten Ponorogo, beberapa kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim,  khususnya kadis Budpar Jatim serta para seniman Reyog Ponorogo. (*/aan/adv)

Most Read

Artikel Terbaru

/