alexametrics
31.3 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Kerusakan Jalur Ponorogo-Pacitan Km 225 Tak Ada Solusi Perbaikan Permanen

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Debaran jantung pengendara yang melintasi Jalan Raya Ponorogo-Pacitan (Poci) tampaknya bakal berdegup panjang. Pasalnya, penanganan kerusakan jalan di Km 225-226 masuk Desa Wates, Slahung, itu belum menemukan solusi. Pasca tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) diterjunkan ke lokasi melakukan kajian setahun silam.

Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan (PJJ) UPT PJJ Madiun Jawa Timur Jarwoto membeberkan, hasil kajian menunjukkan bahwa bidang geser di kedalaman 30 meter dari permukaan jalan. Bidang geser itulah yang menjadi biang tanah gerak. Ditambah kontur tanah labil yang turut menyebabkan kawasan tersebut rawan longsor. ‘’Sebenarnya tim dari ITS Surabaya dan UB Malang juga telah diterjunkan untuk merumuskan langkah perbaikan. Tapi, sampai saat ini belum ada rekomendasi,’’ katanya, Selasa (29/3).

Merujuk hasil kajian tim UGM, maka butuh kerja keras agar kerusakan dapat segera tertangani. Sebab, perbaikan dengan pemasangan tiang pancang yang biasa digunakan untuk menangani jalan rawan longsor tak berlaku untuk perbaikan di jalur tersebut. Mengingat tiang pancang maksimal hanya mampu menembus kedalaman 12 meter dari permukaan jalan. ‘’Bidang gesernya 30 meter. Kalau pakai tiang pancang, potensi rusak lagi di kemudian hari,’’ ujarnya.

Baca Juga :  TPS di Rutan Bisa Difasilitasi KPU Pusat

Pihaknya masih menantikan perbaikan permanen kerusakan jalur Poci Km 225-226. Kerusakan parah di jalur itu tersebar di tiga titik. Kerusakan terbaru di Km 226 saat longsor Minggu (27/3). Akibat longsor tersebut, badan jalan ambles dan menganga selebar 4 meter dengan kedalaman 5-7 meter.

Kerusakan titik kedua berada tidak jauh dari lokasi tersebut. Jalur sepanjang 200-an meter menyerupai jalan makadam. Aspal tertimbun gundukan material tanah dan batu yang diakibatkan longsoran kecil berulang kali. Kerusakan ketiga berada di sebelah utara, tepatnya depan Masjid Darussalam di Dusun Bukul yang terjadi dalam kurun tiga tahun terakhir. Di titik ketiga itu, badan jalan menganga selebar 3 meter dengan panjang 12 meter tak kunjung tersentuh perbaikan. ‘’Sambil menunggu rumusan perbaikan permanen, kami uruk lubang menggunakan sirtu (pasir dan batu),’’ jelasnya. (kid/c1/fin/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Debaran jantung pengendara yang melintasi Jalan Raya Ponorogo-Pacitan (Poci) tampaknya bakal berdegup panjang. Pasalnya, penanganan kerusakan jalan di Km 225-226 masuk Desa Wates, Slahung, itu belum menemukan solusi. Pasca tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) diterjunkan ke lokasi melakukan kajian setahun silam.

Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan (PJJ) UPT PJJ Madiun Jawa Timur Jarwoto membeberkan, hasil kajian menunjukkan bahwa bidang geser di kedalaman 30 meter dari permukaan jalan. Bidang geser itulah yang menjadi biang tanah gerak. Ditambah kontur tanah labil yang turut menyebabkan kawasan tersebut rawan longsor. ‘’Sebenarnya tim dari ITS Surabaya dan UB Malang juga telah diterjunkan untuk merumuskan langkah perbaikan. Tapi, sampai saat ini belum ada rekomendasi,’’ katanya, Selasa (29/3).

Merujuk hasil kajian tim UGM, maka butuh kerja keras agar kerusakan dapat segera tertangani. Sebab, perbaikan dengan pemasangan tiang pancang yang biasa digunakan untuk menangani jalan rawan longsor tak berlaku untuk perbaikan di jalur tersebut. Mengingat tiang pancang maksimal hanya mampu menembus kedalaman 12 meter dari permukaan jalan. ‘’Bidang gesernya 30 meter. Kalau pakai tiang pancang, potensi rusak lagi di kemudian hari,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dewan Naikkan Target PAD Ponorogo hingga Rp 305 Miliar

Pihaknya masih menantikan perbaikan permanen kerusakan jalur Poci Km 225-226. Kerusakan parah di jalur itu tersebar di tiga titik. Kerusakan terbaru di Km 226 saat longsor Minggu (27/3). Akibat longsor tersebut, badan jalan ambles dan menganga selebar 4 meter dengan kedalaman 5-7 meter.

Kerusakan titik kedua berada tidak jauh dari lokasi tersebut. Jalur sepanjang 200-an meter menyerupai jalan makadam. Aspal tertimbun gundukan material tanah dan batu yang diakibatkan longsoran kecil berulang kali. Kerusakan ketiga berada di sebelah utara, tepatnya depan Masjid Darussalam di Dusun Bukul yang terjadi dalam kurun tiga tahun terakhir. Di titik ketiga itu, badan jalan menganga selebar 3 meter dengan panjang 12 meter tak kunjung tersentuh perbaikan. ‘’Sambil menunggu rumusan perbaikan permanen, kami uruk lubang menggunakan sirtu (pasir dan batu),’’ jelasnya. (kid/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/