alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Penulisan yang Benar Reyog atau Reog?

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Reyog atau reog? Sama-sama benar. Baik pakai ‘y’ maupun tidak. Perbedaan satu huruf itu dipandang sebagai kekayaan dari khazanah warisan adiluhung leluhur Ponorogo. ‘’Hasil riset kami di lapangan, 90 persen seniman tidak terlalu mementingkan apakah pakai ‘y’’ atau tidak. Yang penting mereka bisa pentas,’’ kata Hamy Wahjunianto, koordinator Tim Asistensi Reyog Ponorogo, Selasa (29/3).

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Palapa Nusantara (STIE Yapan) Surabaya itu menyebut bahwa keberagaman penamaan seni tradisi asli Ponorogo tersebut natural. Keberagaman itu turut menjadi pertimbangan dalam penilaian Intangible Cultural Heritage (ICH) oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). ‘’ICH UNESCO justru menghindari standardisasi karena ini budaya yang tidak menutup kemungkinan memiliki dinamika,’’ papar Hamy.

Hamy menerangkan, pengusulan ke daftar ICH UNESCO menggunakan penulisan reog tanpa dibubuhkan huruf ‘y’. Itu tidak lepas dari penetapan warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Kemendikbud (sekarang Kemendikbudristek) 2013 lalu. Ketika itu, Kemendikbud menetapkan reog (tanpa ‘y’) sebagai WBTB. Berdasarkan penetapan itulah, penulisan versi reog tanpa ‘y’ diusulkan ke daftar ICH UNESCO. ‘’Misalkan yang ditetapkan Kemendikbud ketika itu pakai ‘y’, maka yang kami usulkan ya reyog,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Aturan KLA Masuk Prolegda

Sejatinya penyebutan kesenian asal Ponorogo ini beragam. Karena itu, tim asistensi mencantumkan penulisan versi reyog sebagai penulisan atau penyebutan lain. Hal itu turut dituliskan dalam isian dossier (data) yang menjadi lampiran dalam naskah akademik. ‘’UNESCO akan menilai bahwa penulisan reog atau reyog itu semuanya benar. Apa itu? Kesenian asal Ponorogo yang menjadi ikon masyarakat daerah ini,’’ ungkapnya.

Keberagaman penulisan turut menunjukkan adanya kreativitas yang menjadi poin penilaian selanjutnya. Kreativitas merujuk pada getolnya warga dan pemerintah dalam nguri-uri budaya agar kesenian ini lestari. ‘Uniknya itu nggak boleh ada standardisasi kata,’’ tegas Hamy. (kid/c1/fin/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Reyog atau reog? Sama-sama benar. Baik pakai ‘y’ maupun tidak. Perbedaan satu huruf itu dipandang sebagai kekayaan dari khazanah warisan adiluhung leluhur Ponorogo. ‘’Hasil riset kami di lapangan, 90 persen seniman tidak terlalu mementingkan apakah pakai ‘y’’ atau tidak. Yang penting mereka bisa pentas,’’ kata Hamy Wahjunianto, koordinator Tim Asistensi Reyog Ponorogo, Selasa (29/3).

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Palapa Nusantara (STIE Yapan) Surabaya itu menyebut bahwa keberagaman penamaan seni tradisi asli Ponorogo tersebut natural. Keberagaman itu turut menjadi pertimbangan dalam penilaian Intangible Cultural Heritage (ICH) oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). ‘’ICH UNESCO justru menghindari standardisasi karena ini budaya yang tidak menutup kemungkinan memiliki dinamika,’’ papar Hamy.

Hamy menerangkan, pengusulan ke daftar ICH UNESCO menggunakan penulisan reog tanpa dibubuhkan huruf ‘y’. Itu tidak lepas dari penetapan warisan budaya tak benda (WBTB) oleh Kemendikbud (sekarang Kemendikbudristek) 2013 lalu. Ketika itu, Kemendikbud menetapkan reog (tanpa ‘y’) sebagai WBTB. Berdasarkan penetapan itulah, penulisan versi reog tanpa ‘y’ diusulkan ke daftar ICH UNESCO. ‘’Misalkan yang ditetapkan Kemendikbud ketika itu pakai ‘y’, maka yang kami usulkan ya reyog,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Putus Mata Rantai Pedofilia

Sejatinya penyebutan kesenian asal Ponorogo ini beragam. Karena itu, tim asistensi mencantumkan penulisan versi reyog sebagai penulisan atau penyebutan lain. Hal itu turut dituliskan dalam isian dossier (data) yang menjadi lampiran dalam naskah akademik. ‘’UNESCO akan menilai bahwa penulisan reog atau reyog itu semuanya benar. Apa itu? Kesenian asal Ponorogo yang menjadi ikon masyarakat daerah ini,’’ ungkapnya.

Keberagaman penulisan turut menunjukkan adanya kreativitas yang menjadi poin penilaian selanjutnya. Kreativitas merujuk pada getolnya warga dan pemerintah dalam nguri-uri budaya agar kesenian ini lestari. ‘Uniknya itu nggak boleh ada standardisasi kata,’’ tegas Hamy. (kid/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/