alexametrics
25.6 C
Madiun
Thursday, May 12, 2022

Ketika Mantan Arsitek Balon Udara Itu Pensiun

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Balon udara lambang gotong royong. Hal itu ditunjukkan sedari proses penggalangan dana, pembuatan, hingga menerbangkannya. Sayangnya, tradisi itu kerap membahayakan keselamatan manusia.

Video Edukasi Diputar Seluruh Bandara di Indonesia

BARNO, mantan arsitek balon udara, itu merenung berhari-hari. Memikirkan positif-negatif balon udara. Pada 2013 silam, dia dipercaya warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, menjadi kepala desa. Dia sadar harus menjadi panutan dan teladan bagi warga di desanya. ‘’Untuk apa gotong royong jika membuat celaka nyawa orang banyak?’’ tanya balik pria kelahiran 24 Januari 1979 itu pada Jumat (29/4).

Sejak itulah, Barno memutuskan ’’pensiun’’ sebagai arsitek maupun penggalang dana balon udara. Dia terpanggil menyuarakan bahaya balon udara ke tiap musala, arisan, dan setiap acara di desanya. Bahkan, ketika pasrah temanten, Barno menyentil tentang mudaratnya balon udara. ‘’Perlahan warga mulai ikutan sadar,’’ katanya.

Butuh waktu panjang bagi Barno untuk membebaskan desanya dari cap rawan balon udara. Tahun-tahun sebelumnya, tak kurang dari 100-an balon udara diterbangkan setiap Lebaran. Mulai yang berdiameter 1×2-3 meter hingga 5×30 meter. ‘’Donatur juga saya ajak menyetop aliran dana,’’ ujarnya.

Sejak 2018 silam, desanya benar-benar bersih dari balon udara. Meski ada satu-dua yang sembunyi-sembunyi. Paling tidak, upaya Barno membuahkan hasil. Para donatur dari desanya yang bekerja di Taiwan, Malaysia, Hongkong, dan Korea Selatan kini tiarap. ‘’Desa saya disyuting untuk video edukasi tentang bahaya balon udara dan diputar di seluruh bandara di Indonesia,’’ tuturnya.

Jauh sebelum menjadi kepala desa, Barno merupakan arsitek balon udara di desanya. Sejak SD dia telah diajari kakeknya. Kemampuannya semakin terasah ketika beranjak dewasa. Tugasnya mengatur perhitungan bentuk balon udara. Saat menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia 1997-2001 silam, dia pun sempat menjadi donatur pembuatan balon udara. ‘’Setelah pulang dari Malaysia, dipercaya kawan-kawan PMI mengumpulkan dana untuk membuat balon itu,’’ sebutnya.

Barno pernah membuat balon raksasa berdiameter lima meter dengan tinggi 30 meter. Menghabiskan dana sedikitnya Rp 10 juta. Kebutuhan paling banyak untuk membeli petasan. Semakin raksasa ukuran balon, semakin banyak pula petasan yang ikut diterbangkan. Tren gede-gedean balon udara mulai muncul sekitar 2010. ‘’Kenapa berlomba-lomba buat balon udara besar? Ya, agar mercon (petasan, Red) ukuran besar yang banyak itu dapat ikut terbang dan meledak di atas,’’ terangnya.

Baca Juga :  Akademisi Dukung Rebranding Angkutan Cerdas Sekolah Milik Pemkab Ponorogo

Dengan ukuran raksasa, balon udara sanggup mengangkat 250-400 mercon dengan berbagai ukuran. Paling besar petasan berukuran 10-20 sentimeter. Dikaitkan dengan sumbu silang sehingga dapat meletus bergiliran ketika tersulut api dari sumbu balon udara. ‘’Nah, yang merangkai mercon juga ada ahlinya sendiri,’’ ungkapnya.

Dulu, Barno lebih memilih memesan langsung pada pembuat petasan. Sementara, bahan utama balon udara dari plastik yang direkatkan menggunakan selotip bening. Menyambungkan potongan plastik hingga membentuk tabung membutuhkan waktu lama. ‘’Penyambungannya diatur sedemikian rupa agar presisi dan bagus bentuknya,’’ jelas Barno.

Kerangka bawah (blengker) dibuat dari bambu yang diraut tipis. Kemudian dibentuk melingkar dengan ukuran diameter menyesuaikan keinginan dan ukuran balon udara. Plastik yang telah tersambung dan membentuk wujud balon itu kemudian direkatkan dengan blengker menggunakan selotip bening. Untuk menyelesaikan balon berukuran raksasa itu dikerjakan sedikitnya 10-12 orang dalam waktu satu pekan.

Tahap terakhirnya membuat sumbu. Bahannya dari 5-10 biji lilin yang dibungkus kain handuk hingga berbentuk bulat seukuran bola. Lalu, direndam minyak goreng atau minyak tanah selama 2-3 hari. Setelah itu, tinggal menerbangkan. ‘’Diisi asap dari pembakaran blarak (daun kering pohon kelapa, Red) atau kayu, atau carang (ranting pohon bambu kering). Kurang lebih 15-30 menit sudah penuh, sumbu dinyalakan, sudah terbang,’’ paparnya.

Meski kemampuan merakit balon udara itu diwariskan turun-temurun dari keluarganya, Barno tak segan mengakhiri tradisi tersebut. ‘’Tradisi iya, tapi jelas melanggar aturan. Yang buat kena, penyokong dana kena, menerbangkan juga kena, yang ambil foto atau video juga kena hukuman semua,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Balon udara lambang gotong royong. Hal itu ditunjukkan sedari proses penggalangan dana, pembuatan, hingga menerbangkannya. Sayangnya, tradisi itu kerap membahayakan keselamatan manusia.

Video Edukasi Diputar Seluruh Bandara di Indonesia

BARNO, mantan arsitek balon udara, itu merenung berhari-hari. Memikirkan positif-negatif balon udara. Pada 2013 silam, dia dipercaya warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, menjadi kepala desa. Dia sadar harus menjadi panutan dan teladan bagi warga di desanya. ‘’Untuk apa gotong royong jika membuat celaka nyawa orang banyak?’’ tanya balik pria kelahiran 24 Januari 1979 itu pada Jumat (29/4).

Sejak itulah, Barno memutuskan ’’pensiun’’ sebagai arsitek maupun penggalang dana balon udara. Dia terpanggil menyuarakan bahaya balon udara ke tiap musala, arisan, dan setiap acara di desanya. Bahkan, ketika pasrah temanten, Barno menyentil tentang mudaratnya balon udara. ‘’Perlahan warga mulai ikutan sadar,’’ katanya.

Butuh waktu panjang bagi Barno untuk membebaskan desanya dari cap rawan balon udara. Tahun-tahun sebelumnya, tak kurang dari 100-an balon udara diterbangkan setiap Lebaran. Mulai yang berdiameter 1×2-3 meter hingga 5×30 meter. ‘’Donatur juga saya ajak menyetop aliran dana,’’ ujarnya.

Sejak 2018 silam, desanya benar-benar bersih dari balon udara. Meski ada satu-dua yang sembunyi-sembunyi. Paling tidak, upaya Barno membuahkan hasil. Para donatur dari desanya yang bekerja di Taiwan, Malaysia, Hongkong, dan Korea Selatan kini tiarap. ‘’Desa saya disyuting untuk video edukasi tentang bahaya balon udara dan diputar di seluruh bandara di Indonesia,’’ tuturnya.

Jauh sebelum menjadi kepala desa, Barno merupakan arsitek balon udara di desanya. Sejak SD dia telah diajari kakeknya. Kemampuannya semakin terasah ketika beranjak dewasa. Tugasnya mengatur perhitungan bentuk balon udara. Saat menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia 1997-2001 silam, dia pun sempat menjadi donatur pembuatan balon udara. ‘’Setelah pulang dari Malaysia, dipercaya kawan-kawan PMI mengumpulkan dana untuk membuat balon itu,’’ sebutnya.

Barno pernah membuat balon raksasa berdiameter lima meter dengan tinggi 30 meter. Menghabiskan dana sedikitnya Rp 10 juta. Kebutuhan paling banyak untuk membeli petasan. Semakin raksasa ukuran balon, semakin banyak pula petasan yang ikut diterbangkan. Tren gede-gedean balon udara mulai muncul sekitar 2010. ‘’Kenapa berlomba-lomba buat balon udara besar? Ya, agar mercon (petasan, Red) ukuran besar yang banyak itu dapat ikut terbang dan meledak di atas,’’ terangnya.

Baca Juga :  Spanduk Erick Thohir Capres 2024 Penuhi Bumi Reog Ponorogo

Dengan ukuran raksasa, balon udara sanggup mengangkat 250-400 mercon dengan berbagai ukuran. Paling besar petasan berukuran 10-20 sentimeter. Dikaitkan dengan sumbu silang sehingga dapat meletus bergiliran ketika tersulut api dari sumbu balon udara. ‘’Nah, yang merangkai mercon juga ada ahlinya sendiri,’’ ungkapnya.

Dulu, Barno lebih memilih memesan langsung pada pembuat petasan. Sementara, bahan utama balon udara dari plastik yang direkatkan menggunakan selotip bening. Menyambungkan potongan plastik hingga membentuk tabung membutuhkan waktu lama. ‘’Penyambungannya diatur sedemikian rupa agar presisi dan bagus bentuknya,’’ jelas Barno.

Kerangka bawah (blengker) dibuat dari bambu yang diraut tipis. Kemudian dibentuk melingkar dengan ukuran diameter menyesuaikan keinginan dan ukuran balon udara. Plastik yang telah tersambung dan membentuk wujud balon itu kemudian direkatkan dengan blengker menggunakan selotip bening. Untuk menyelesaikan balon berukuran raksasa itu dikerjakan sedikitnya 10-12 orang dalam waktu satu pekan.

Tahap terakhirnya membuat sumbu. Bahannya dari 5-10 biji lilin yang dibungkus kain handuk hingga berbentuk bulat seukuran bola. Lalu, direndam minyak goreng atau minyak tanah selama 2-3 hari. Setelah itu, tinggal menerbangkan. ‘’Diisi asap dari pembakaran blarak (daun kering pohon kelapa, Red) atau kayu, atau carang (ranting pohon bambu kering). Kurang lebih 15-30 menit sudah penuh, sumbu dinyalakan, sudah terbang,’’ paparnya.

Meski kemampuan merakit balon udara itu diwariskan turun-temurun dari keluarganya, Barno tak segan mengakhiri tradisi tersebut. ‘’Tradisi iya, tapi jelas melanggar aturan. Yang buat kena, penyokong dana kena, menerbangkan juga kena, yang ambil foto atau video juga kena hukuman semua,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/