alexametrics
24.2 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Sehari 10 Kali Makamkan Pasien Covid

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Petugas pemulasaraan jenazah di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo harus kerja ekstra sebulan belakangan ini. Mereka biasa memakamkan jenazah dengan prosedur tetap (protap) pasien Covid-19 sebanyak tiga hingga 10 kali dalam sehari. Pemulasaraan jenazah itu tanpa mengenal waktu, jarak, dan tempat. ‘’Periode April menjadi yang terbanyak,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono, Jumat (30/4).

Dia mencatat Rabu lalu (28/4) sebagai rekor pemulasaraan jenazah dengan prosedur pasien Covid-19 terbanyak. Petugas BPBD harus 10 kali ulang-alik ke makam. Mereka wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap yang membuat gerah badan itu. Budi merasa prihatin atas tingginya angka kematian akibat coronavirus di Ponorogo. Pihaknya sempat kewalahan memulasarakan jenazah. ‘’Masyarakat seharusnya sadar dengan kondisi yang sedang terjadi. Virus Covid-19 masih ada, jangan menyepelekannya,’’ tegas Budi.

Baca Juga :  17 Kali Listrik Padam gegara Layangan

Menurut dia, longgarnya pembatasan kegiatan bukan berarti pandemi sudah berakhir. Celakanya, masyarakat juga mengendurkan disiplin terhadap protokol kesehatan. Dia berharap khalayak juga menimbang kerja keras petugas yang berjibaku memakamkan jenazah dengan aturan ketat. ‘’Pikirkan juga keselamatan kami,’’ pintanya. (mg4/c1/hw)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Petugas pemulasaraan jenazah di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo harus kerja ekstra sebulan belakangan ini. Mereka biasa memakamkan jenazah dengan prosedur tetap (protap) pasien Covid-19 sebanyak tiga hingga 10 kali dalam sehari. Pemulasaraan jenazah itu tanpa mengenal waktu, jarak, dan tempat. ‘’Periode April menjadi yang terbanyak,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono, Jumat (30/4).

Dia mencatat Rabu lalu (28/4) sebagai rekor pemulasaraan jenazah dengan prosedur pasien Covid-19 terbanyak. Petugas BPBD harus 10 kali ulang-alik ke makam. Mereka wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap yang membuat gerah badan itu. Budi merasa prihatin atas tingginya angka kematian akibat coronavirus di Ponorogo. Pihaknya sempat kewalahan memulasarakan jenazah. ‘’Masyarakat seharusnya sadar dengan kondisi yang sedang terjadi. Virus Covid-19 masih ada, jangan menyepelekannya,’’ tegas Budi.

Baca Juga :  Delapan Hari, Makamkan 132 Warga Ponorogo Suspect dan Positif Covid-19

Menurut dia, longgarnya pembatasan kegiatan bukan berarti pandemi sudah berakhir. Celakanya, masyarakat juga mengendurkan disiplin terhadap protokol kesehatan. Dia berharap khalayak juga menimbang kerja keras petugas yang berjibaku memakamkan jenazah dengan aturan ketat. ‘’Pikirkan juga keselamatan kami,’’ pintanya. (mg4/c1/hw)

Most Read

Artikel Terbaru

/