Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Sudah Lima Tahun (2)        

Budhi Prasetya • Minggu, 10 September 2023 | 04:00 WIB

Bupati Magetan Suprawoto
Bupati Magetan Suprawoto

Oleh : Suprawoto, Bupati Magetan

HAMPIR setiap hari Alun-alun Magetan ramai. Apalagi malam hari libur. Bisa dipastikan banyak pengunjung. Tak sedikit keluarga menjadikan alun-alun tempat wisata murah. Anak-anak bisa main di tempat bermain. Berlarian di rerumputan yang menghijau, karena setiap hari disiram dan dirawat. Siapa yang tidak senang melihat kegembiraan seperti itu.

Selain program yang perlu dipercepat, agar hasilnya segera dirasakan masyarakat, juga melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Stadion Yosonegoro Magetan yang lama mangkrak menjadi pikiran saya. Kalau malam sering digunakan untuk perbuatan yang kurang baik. Demikian juga GOR Ki Mageti, banyak atap bocor. Semakin parah karena terkena puting-beliung.

Saya minta dianggarkan untuk menyelesaikan. Agar wajah Kota Magetan semakin baik. Bayangkan, setiap orang masuk disuguhi bangunan yang demikian kumuh dan tak terawat. Dikpora sebagai dinas yang bertanggung jawab, saya minta segera mempersiapkan segala persiapan adminstrasi. Lelang jangan sampai gagal.

Dengan semangat ingin menyelesaikan beban program yang belum selesai, akhirnya pemenang lelang berhasil ditetapkan. Pembangunan kedua tempat olahraga kebanggaan masyarakat Magetan mulai dikerjakan. Dan hasilnya bisa disaksikan saat ini. Stadion Yosonegoro sudah kelihatan wajahnya. Pun, GOR Ki Mageti yang sudah bisa digunakan untuk event olahraga maupun kegiatan masyarakat lainnya.

Suatu malam saya kedatangan tamu beberapa tokoh dari Singolangu, Kelurahan Sarangan, dipimpin Mbah Wo. Sebagai bupati baru, tentu saya wajib mendengarkan keluhan. Salah satu yang disampaikan, agar peternakan sapi perah di Singolangu menjadi maju. Karena selama ini, hasil susu yang dihasilkan hanya disetorkan ke pengepul di Ponorogo.

Yang menjadi cita-citanya, bagaimana susu yang dihasilkan peternak bisa menyejahterakan petani. Saya tergerak bagaimana caranya memajukan Singolangu. Akhirnya ketemu konsep, Singolangu akan disulap sebagai Kampung Susu Singolangu (KSS) yang nantinya bisa menjadi destinasi wisata. Dekat dengan Sarangan yang sudah terkenal.

Gayung bersambut. Saya bertemu Mas Parni Hadi sebagai pendiri Dompet Dhuafa (DD). Beliau akhirnya bersedia membantu bagaimana mengembangkan KSS. Konsep pengembangan dibuat. Sarana prasarana mulai dibangun. Peternak diberikan pelatihan pengolahan susu. Pada akhirnya, KSS bisa menghasilkan 27 olahan susu. Hasilnya, tidak lagi dijual mentah. Namun sudah dalam bentuk olahan.

Datangnya Covid-19 seperti menghentikan semua impian. Semua sumber daya digunakan untuk menanggulangi dan melindungi masyarakat dari wabah. Masyarakat banyak menjadi korban. Obat dan vaksin yang belum ada, menjadikan semua negara di dunia kalang kabut. Termasuk Magetan.

Setiap peristiwa sepahit apapun, tentu harus bisa diambil positifnya. Dari pandemi Covid-19, kita bisa belajar ternyata sarana prasarana kesehatan masih kurang. Cari masker dan oksigen susah. Semua kamar perawatan penuh. Harus membuka RS darurat. Ruang operasi bertekanan negatif tidak punya. Saudara kita yang jauh dari pusat kota seperti Kecamatan Lembeyan, Nguntoronadi, dan Parang, jauh dari rumah sakit.

Belajar dari situlah saya merintis pembangunan RS di Lembeyan dan Panekan sebagai rintisan RS tipe D. Demikian juga mesin oksigen di RSUD dr. Sayidiman. Termasuk ruang operasi bertekanan negatif. Laboratorium kesehatan daerah dipindahkan ke tempat strategis, pintu masuk kota. Sarana prasarana puskesmas dilengkapi. SDM nakes ditingkatkan. Baik melalui pendidikan maupun pelatihan.

Selama Covid-19, semua aktivitas dibatasi. Namun kita tidak boleh kehilangan momentum. Selama Covid-19, program yang tidak memerlukan biaya APBD didorong. Seperti penghijauan. Bahkan saya mengeluarkan peraturan bupati untuk calon pengantin, ASN baru diangkat, yang naik pangkat, harus menanam pohon. Pinggir jalan ditanam pohon asam dan ketapang kencana. Menghijaukan mata air Dawuhan di Desa Trosono yang mengecil dengan menanam pohon beringin.

Dibantu diaspora Magetan, mengadakan gerakan penghijauan di Magetan. Lebih dari 600 ribu pohon ditanam diberbagai tempat. Hutan kota dibangun. Dibangun Taman Sehat seluas empat hektare dengan tanaman spesifik beringin. Hasilnya, mulai kita lihat. Misal di beberapa ruas jalan hidup pohon asam. Saat kualitas udara di Jakarta saat ini menjadi sangat buruk, kita sudah mulai menyadari sejak awal dengan program menanam. Setiap musim hujan kita maknai waktu yang baik menanam.

Sebagai bupati baru, saya juga banyak menerima pesan WhatsApp dari warga. Maraknya pinjaman tidak resmi di kampung-kampung yang sangat meresahkan dan memberatkan masyarakat. Tentu semua masukan menjadi pertimbangan untuk dipecahkan. Sedang Magetan memiliki BPRS yang maksud pendiriannya untuk membantu masyarakat kecil.

Segera saya memanggil jajaran direksi dan dewas untuk ikut memecahkan masalah ini. Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka demikian agresif dengan memberi pinjaman tanpa agunan dengan bunga yang tinggi. Dan masyarakat banyak yang meminjam dan akhirnya terjerat.

Belajar dari situlah kemudian BPRS saya minta membuat program yang lebih agresif. Kemudian lahirlah program Pembiayaan Mutabarok Bunda Sejahtera. Keunggulan dari program ini adalah tanpa agunan, sistem bagi hasil yang kompetitif, tanpa potongan, sistem jemput bola, dan proses cepat. Walau plafon pembiayaan maksimal 5 juta, namun program ini sedikit banyak sudah membantu masyarakat.

Angka kemiskinan di Magetan ketika jadi bupati masih di atas 10 persen. Saat ini sudah mulai turun menjadi sekitar 9,8 persen. Saya ingin sekali melihat fakta di lapangan kondisi masyarakat miskin. Kemudian dilakukan uji petik. Beberapa tempat saya melihat fakta yang sangat memprihatinkan. Masyarakat miskin ternyata ada yang sudah hidup sendiri dan usia tua. Bahkan, ada yang sudah tidak bisa apa-apa. Hanya menanti kebaikan tetangga.

Melihat kenyataan demikian, akhirnya saya membuat program Bunda Kasih. Bagi lansia yang sudah hidup sendiri dan tidak mungkin bisa bekerja kita jamin makanannya setiap harinya. Sedang yang menyiapkan makanan adalah warung/tetangga yang bersedia. Dan biaya makan ditanggung pemda dengan cara transfer langsung kepada yang memasakkan.

Di era digital saat ini, pasar menjadi berkurang pengunjungnya. Bahkan cenderung sepi. Ketika saya berjalan-jalan di Pasar Baru yang letaknya di jantung kota Magetan kondisinya sangat memprihatinkan. Selain sepi, kondisi pasar sangat kumuh. Bekas gedung bioskop di lantai dua penuh kelelawar. Jangan bayangkan kondisi dan baunya.

Asosiasi pedagang pasar mengeluh. Saya harus ikut memecahkan. Akhirnya segera saya lakukan rapat pertemuan. Pertama, MPP saya letakkan di Pasar Baru agar menambah keramaian pasar. Kedua, tempatnya gampang diakses dari mana-mana.

Segera saya menganggarkan itu selama tiga tahun. Tidak mungkin membangun dalam waktu singkat. Anggaran terbatas. Mulai 2020 dilakukan pembangunan bertahap. Pedagang semua ditata. Baik yang di dalam maupun di luar. Pada 2023, Pasar Baru akan selesai. Selain sudah berganti wajah, juga terdapat MPP yang menjadi kebanggaan masyarakat.

Saya juga melihat birokrasi di Magetan terasa tidak ramah. Salah satu indikatornya, kantor-kantor dipagar rapat. Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan dikelilingi tembok tinggi. Kantor Pemda dikelilingi tembok yang kokoh.

Saya minta pagar muka dibuka agar kelihatan ramah dengan masyarakat. Demikian juga perpustakaan. Setelah dibuka kelihatan halaman yang cukup luas. Yang menjadikan ramah bagi pengunjung. Kantor kesbangpol yang dulunya jadi satu, saya pindahkan di Tri Pandita. Tentu hal-hal sepele seperti ini diperlukan untuk mengubah persepsi birokrasi yang selama ini dinilai selalu negatif.

Magetan walau kabupaten kecil tidak boleh kecil dalam prestasinya. PAD yang kecil tidak boleh mengecilkan cara berpikir. Kebetulan pada 2019 dilakukan pemilihan 184 kepala desa dengan biaya sekitar Rp 17 miliar. Biaya itu tentu sangat besar bagi Magetan yang PAD-nya hanya sekitar Rp 200 miliar.

Untuk menghemat, saya punya gagasan menggunakan e-voting. Namun caranya tidak serentak. Bergelombang setiap minggu. Misal minggu pertama 50 desa. Kemudian minggu kedua 50 desa, minggu ketiga 50 desa, dan sisanya minggu keempat. Komputer bisa dipindahkan. Kalau serentak tentu menjadi sangat mahal.

Dengan pilkades bergelombang dan memakai e-voting akan menghemat 50 persen anggaran. Namun sayang, Kemendagri tidak mengizinkan. Pilkades harus dilaksanakan serentak. Saya tidak kekurangan akal. Saya tetapkan sebagai uji coba, setiap kecamatan kita gunakan e-voting hanya satu desa dengan catatan penduduk yang paling banyak.

Setelah dilaksanakan, terbukti ternyata dengan menggunakan e-voting selesai lebih cepat. Kalau biasanya dengan sistem manual bisa selesai sampai pukul 20.00. E-voting, sekitar pukul 14.00 sudah selesai. Setelag selesai pemilihan tidak perlu dihitung, tinggal di-print saja. Selesai lebih cepat, akurat, dan tidak ada sengketa. Bekas komputer bisa dipakai lagi.

Oleh sebab itu pilkades pada 2023 saya tetapkan pakai e-voting semua. Ada 30 desa pelaksana. Dengan ini, tentu menjadikan Magetan tidak lagi berada di belakang. Di Jatim, baru beberapa kabupaten yang menerapak e-voting. Di Madiun Raya, Kabupaten Magetan yang pertama. Ini sangat membanggakan.

Ternyata membantu masyarakat itu tidak selamanya harus dengan modal. Namun kebijakan yang memihak itu justru lebih jitu. Sudah menjadi ketentuan, ASN setiap hari Kamis-Jumat memakai batik. Dengan ASN sekitar 8.000, diperlukan anggaran sebesar Rp 2,9 miliar per tahun untuk membeli seragam batik.

Pengadaan seragam harus tender. Pemenangnya bisa dari luar kota. Magetan hanya mendapat coraknya saja. Secara ekonomi justru masyarakat di luar Magetan yang mendapat keuntungan. Saya mencoba mencari jalan keluar.

Saya putuskan Kamis-Jumat tidak perlu seragam. Uang untuk seragam bisa digunakan untuk memperbaiki jalan atau program yang lain. Peraturan bupati saya ubah. Untuk hari Kamis-Jumat saya bebaskan tidak seragam, tetapi memakai batik khas Magetan. Hanya dengan kebijakan yang memihak masyarakat, perajin batik Magetan tumbuh. Dulunya hanya tujuh, saat ini telah berkambang menjadi lebih dari 67 perajin batik. (bersambung)           

Editor : Budhi Prasetya
#magetan #Alun Alun Magetan #Stadion Yosonegoro #GOR Ki Mageti