
Cerpen Lakon Wayang Oleh: Ki Damar
Senja itu, Astina tampak berbeda dari biasanya. Di bangsal agung, aroma dupa bercampur dengan hawa ketegangan.
Puntadewa akan segera dinobatkan menjadi raja. Namun, di balik senyum para Kurawa, ada racun yang tengah diracik perlahan. Sengkuni berdiri di sudut ruangan.
Matanya licik, senyumnya tajam bak pisau yang disembunyikan di balik kain sutra.
"Kanjeng Prabu Dretarastra," ujar Sengkuni dengan suara lembut yang dibuat-buat, "sebelum Puntadewa jumeneng raja, alangkah baiknya jika Pandawa dan Kurawa bertirakat terlebih dahulu. Biar hati mereka bersih, biar wahyu turun. Hamba mengusulkan agar dibangun sebuah bale yang indah di Hutan Waranawata. Namanya Bale Gala-Gala. Di sana sejuk dan tenang, cocok untuk prihatin."
Dretarastra, yang buta matanya sekaligus lebih buta hatinya, mengangguk setuju.
"Usul yang bagus, Paman Sengkuni. Bangunlah bale itu. Biar anak-anakku semua bisa bertirakat bersama."
Pandawa mengangguk patuh. Namun, Kunthi, sang ibu, hanya terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, setiap kali Sengkuni tersenyum manis, pasti ada maut yang mengintai di baliknya.
Sengkuni tersenyum semakin lebar dalam hati.
"Beres," bisiknya kepada Duryudana. "Bale itu akan kubuat dari kayu, damar, dan segala bahan yang mudah terbakar. Purocana yang akan membangunnya. Begitu Pandawa tertidur pulas, kita bakar! Habis sudah Pandawa. Astina akan menjadi milikmu, Duryudana."

