Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Dua Belas Jam dalam Ingatan

Mizan Ahsani • Jumat, 1 Desember 2023 | 05:00 WIB
Ilustrasi cerpen Dua Belas Jam dalam Ingatan (DANI ERWANTO/RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen Dua Belas Jam dalam Ingatan (DANI ERWANTO/RADAR MADIUN)

Cerpen: Mochamad Bayu Ari Sasmita*

PADA jam sarapan aku mengenalkan diriku kepadanya. Pada jam makan malam aku juga melakukan hal sama sebelum menyantap hidangan yang telah disiapkan olehnya. Hal itu kulakukan sejak sekitar sepuluh tahun belakangan, sejak setahun setelah aku menikahinya.

Jika tempat penyimpanan ingatan di dalam diri kita diibaratkan sebagai kartu memori yang berukuran mikro, mungkin seseorang –tanpa kami sadari– telah menukar kartu memori berdaya tampung besar yang tertanam di kepala istriku dengan sebuah kartu memori yang berdaya tampung rendah.

Ketika mencapai batas maksimal, kartu memori itu akan mengalami error dan akhirnya melakukan pemulihan otomatis dengan cara mengosongkan dirinya. Begitulah, pada pukul enam pagi dan enam malam, ingatannya tentang orang lain akan menghilang –untungnya dia tidak melupakan cara berjalan, berpakaian, dan hal-hal lain semacam itu. Aku akan memperkenalkan diriku lagi kepadanya, tanpa sedikit pun merasa lelah atau bosan.

“Namaku Deru dan aku adalah suamimu, Malta.”

Ketika kuucapkan kata-kata itu, dia akan mengangguk. Pada dasarnya dia masih ingat bahwa dia telah menikah, hanya saja dia lupa tentang suaminya. Dia akan langsung meyakini bahwa seseorang yang kali pertama menunjukkan fakta –mengaku– kepadanya, dia akan menerimanya begitu saja fakta itu karena dia memang tidak ingat apa-apa lagi.

Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah percaya, dan kurasa aku adalah seseorang yang cukup layak untuk dipercaya. Berdasarkan situasi tersebut, jika ada orang lain yang mengaku sebagai suami Malta lebih dulu dariku pada pukul enam pagi atau enam sore, aku harus menunggu selama dua belas jam sebelum dapat merebut kembali posisiku.

Mungkin, selama dua belas jam itu aku akan dibuat gelisah dengan berbagai kemungkinan: tubuh telanjang istriku yang dijamah oleh pria lain; masakan enak istriku, yang dia masak dengan penuh kasih sayang, disantap dengan lahap oleh pria lain yang mengaku sebagai suaminya meskipun sebenarnya bukan; dan, yang paling buruk, mungkin saja istriku tidak mengalami pengosongan ingatan sekali lagi dalam dua belas jam setelah pengosongan ingatan terakhir.

Sehingga ingatannya akan terus bertahan dan dia akan terus meyakini bahwa seseorang yang mengaku kali terakhir itu sebagai suaminya untuk selamanya.

Jika itu terjadi, mungkin, rasanya setara dengan ketika anggota keluargamu dimakan oleh seorang kanibal tepat di depan matamu, sementara kau diikat pada sebuah pohon, tidak bisa bergerak, dan hanya sanggup melolong dalam hati karena mulutmu tersumpal kain. Mungkin semacam itu.

Surat nikah? Begitu ada yang mengaku untuk kali pertama, istriku tidak akan memercayai bukti-bukti lain. Baginya, bisa saja surat nikah itu palsu dan telah disiapkan jauh-jauh hari untuk memanipulasinya. Dia pernah mengatakannya sendiri kepadaku ketika aku bertanya kepadanya. Ini keuntungan besar sekaligus kerugian besar.

Seorang pelatih sepak bola, ketika tim yang diasuh digadang-gadang menyabet seluruh trofi dari setiap turnamen yang timnya ikuti, pernah berkata bahwa jika kalian ingin meraih sesuatu yang besar, maka kalian juga harus siap untuk kegagalan terbesar. Jika aku terlambat mengaku kepadanya sementara orang lain telah mendahuluiku, tamat sudah diriku untuk dua belas jam ke depan.

Meski istriku memiliki kondisi khusus seperti itu, kutegaskan bahwa aku tidak pernah sekali pun berlaku serong. Ada begitu banyak kesempatan bagiku untuk melakukan perbuatan tercela macam demikian.

Tetapi aku terus menjaga diriku agar terhindar dari nista. Untuk pertahanan diri, aku tidak lagi mengikuti undangan karaoke dari teman-teman sekantor, acara reuni kelas, atau acara-acara semacamnya. Mungkin ini bisa disebut sebagai bentuk ketidakpercayaan diri, tapi tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pertahanan kokoh yang tidak akan sanggup ditembus oleh siapa pun.

Tidak ada seorang pun selain kami berdua yang mengetahui kondisi ini. Sejak kali pertama kondisi khusus itu bermula, aku tidak pernah membawa istriku ke dokter, orang pintar, tabib, atau semacamnya. Gagasan itu datang seperti guntur di hari panas. Aku langsung memiliki gagasan bahwa tak seorang pun boleh tahu tentang hal ini.

Saat itu, dia telah menyiapkan sarapan dan menata semuanya di atas meja. Ketika aku sampai di ruang makan, dia berdiri seperti patung. Dia memegang piring yang di atasnya ada beberapa sempol ayam yang diolah dengan kecap. Dia tampak baru saja hendak meletakkan piring itu di atas meja.

“Ada apa, Malta?” kataku.

Pertanyaan itu membuatnya terkejut. Dia lepaskan pegangannya pada piring dan menimbulkan suara tak sekali yang tidak terlalu keras. Dia kemudian memandang kepadaku dengan penuh pertanyaan.

“Malta?” kataku lagi. Kucoba untuk menghampirinya. Tapi, begitu melihatnya ketakutan, kuurungkan niatku.

“Si-siapa?”

“Namaku Deru dan aku adalah suamimu, Malta.”

“Maaf, aku tidak bisa mengingatnya. Tapi, aku akan memercayaimu sejak saat ini.”

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu. Banyak hal yang tiba-tiba terasa asing. Aku tidak mengenal siapa pun.”

Saat itulah gagasan tersebut muncul. Aku langsung menelepon kantor tempatku bekerja saat itu juga dan meminta cuti untuk beberapa hari. Mereka, tentu saja, senang karena akhirnya aku mengambil jatah cutiku. Sebelumnya mereka terlihat gelisah karena aku tidak kunjung menggunakan hakku itu.

Di hari itu juga kami pindah ke sebuah vila di lereng gunung. Tempat itu adalah warisan kakekku karena aku satu-satunya cucu yang bisa dipercaya olehnya. Kami mengosongkan tempat tinggal kami dan memindahkan seluruh perabotan dengan jasa pindah rumah. Malta tidak berbicara apa pun. Dia hanya mengamati setiap perabotan diangkat oleh para petugas menuju mobil boks untuk kemudian diangkut menuju vila.

Kami memulai sebuah kehidupan baru dengan kondisi khusus di tempat baru. Kami menjauhkan diri dari hubungan dengan orang lain. Letak vila jelas mendukung untuk hal demikian karena cukup jauh dari permukiman warga setempat.

Dengan berat hati aku memberhentikan para pegawai yang sudah sejak lama ditugaskan kakekku untuk mengurus bangunan ini. Padahal setiap hari mereka setia untuk membersihkan dan memastikan bahwa tidak ada pencuri yang mengambil satu per satu barang di dalam rumah.

Kami mengunci pagar rapat-rapat. Semua kebutuhan pokok kami beli secara daring melalui jasa antar. Kami menggunakan uang digital untuk pembayaran. Setiap kurir hanya perlu meletakkan pesanan di sebuah kotak yang fungsinya mirip kotak pos. Aku membuatnya secara tiba-tiba untuk menangani hal semacam ini. Di jam-jam tertentu, Malta atau aku akan mengambilnya.

Malta tidak pernah keluar dari area vila. Aku seperti penyihir jahat yang telah memenjarakannya dalam sebuah kastil. Mungkin dia menunggu seorang pangeran tampan atau kesatria gagah pemberani untuk membebaskannya. Memikirkan itu membuatku terlihat seperti tokoh jahat dalam sebuah cerita. Seperti seorang penyihir tua yang hendak menjadikan Malta sebagai campuran ramuan agar aku dapat hidup abadi dan menguasai dunia.

Di hari pertama datangnya kondisi khusus itu, aku mulai berhitung. Maksudku, aku menghitung berapa lama Malta, istriku, dapat mengingat. Pada pukul enam sore rupanya aku harus memperkenalkan diriku sekali lagi. Hal semacam itu terus berulang setiap dua belas jam.

Memperkenalkan diri telah kulakukan selama sepuluh tahun. Mungkin, jika ada penganugerahan gelar untuk hal semacam itu, aku bisa menjadi orang pertama yang diakui secara resmi sebagai seseorang yang ahli dalam memperkenalkan diri.

“Namaku Deru dan aku adalah suamimu, Malta.”

Kata-kata perkenalan diri itu tidak pernah berubah. Suatu kali aku pernah ingin melakukan improvisasi, tapi kuurungkan niatku. Kurasa, tidak ada bentuk kalimat yang lebih pas lagi untuk memperkenalkan diri dalam situasi seperti ini.

Orang mungkin berpikir bahwa tindakanku sia-sia, seperti Sisifus yang mendorong batu ke puncak gunung dan, dengan suatu alasan, batu itu tergelincir ke bawah lagi sehingga Sisifus harus memulai semuanya dari awal.

Memang, aku jenuh pada awalnya. Ada pikiran buruk yang muncul ke permukaan, ”aku harus pergi,” atau ”ini sia-sia,” atau ”aku harus mulai mencari istri baru,” atau semacamnya. Tapi, begitu tiga puluh hari berlangsung, dan tentu saja selama tiga puluh hari itu aku telah memperkenalkan diriku lagi dan lagi kepada Malta sebanyak enam puluh kali tanpa pernah absen sekali pun, aku mulai menikmati hal ini.

Aku mulai terbiasa dan merasa akan tidak nyaman ketika rutinitas itu tiba-tiba menghilang dari kehidupanku. Aku pun mulai berharap bahwa kartu memori istriku yang daya tampungnya lebih besar itu tidak pernah kembali lagi. Kuharap siapa pun kau yang telah mencurinya dan menukarnya dengan kartu memori berdaya tampung rendah tidak pernah mengembalikan benda itu lagi kepada Malta, istriku tersayang. []

*Mochamad Bayu Ari Sasmita. Alumnus S-1 Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang (2021). Tinggal di Mojokerto.

Cerpen ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Madiun pada 12 Juni 2022

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #ingatan