Oleh: Ki Damar*
ANTASENA mematung mendengar jawaban Antareja.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Kamu salah kalau mengatakan negara tak memberi apa-apa kepadamu!," sergah sang adik.
"Sebaliknya, apa yang sudah kamu berbuat kepada negaramu," imbuhnya.
Antareja yang geram langsung mengusir Antasena.
Sang adik dilarang menginjakkan kaki kembali ke di Jangkarbumi.
Antasena yang sakit hati langsung pergi dengan mengepalkan tangan ke arah Sengkuni.
Melihat itu, Sengkuni tersenyum lalu memeluk Antareja.
Sengkuni berjanji, Antareja akan diwisuda menjadi senopati dan panglima perang Astina, dengan kedudukan sama dengan Raja Ngawangga Narpati Basusena.
Mendengar itu, Antareja berterima kasih kepada Sengkuni.
Ia kemudian pamit, hendak menyusul sang adik. Sengkuni paham.
"Kenapa kamu mengejar adikmu?," tanya Sengkuni.
"Apa tidak bahaya melepaskan Antasena untuk pergi ke Amarta?," jawab Antareja.
Sengkuni tersenyum. "Nah, itu tadi yang mau saya katakan. Syukur kamu peka, ternyata kamu cerdas," ujarnya.
"Jadi, sebaiknya bagaimana, eyang?"
Sengkuni menunjukkan tabiat bengisnya.
"Kamu harus singkirkan Antasena sekalipun dia adalah adikmu. Selain karena ia saudara beda ibu denganmu, Antasena juga menjadi penghalang kemajuanmu," ujar Sengkuni.
"Atau jangan-jangan kamu tidak naik jabatan juga karena Antasena yang memihak Gatutkaca?." (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani