"APAKAH dari kalian ada yang mampu melawan Durna? Aku yakin tidak, karena dia adalah guru kalian," tuturnya.
"Arjuna, Bima, bukankah kalian merasa berat untuk melawan gurumu sendiri?" tanya Drupada, menatap Arjuna dan Bima yang hanya terdiam.
Drupada terus berusaha meyakinkan Puntadewa.
"Aku satu-satunya yang sanggup melawannya, karena aku juga murid dari Rama Bargawa, sama seperti dia."
Kresna yang bijak kemudian menyarankan Puntadewa untuk merestui Drupada.
"Baratayudha adalah perang pembalasan, anak Prabu. Hutang mati dibayar mati, hutang malu dibayar malu. Berikanlah izin pada Prabu Drupada," kata Kresna.
Akhirnya, dengan berat hati, Puntadewa memberikan izinnya.
"Namun, mohon selalu berhati-hati, Rama Prabu, ingatlah bahwa Drupadi menunggu ayahnya pulang dengan selamat," ucap Puntadewa.
Drupada kemudian bersiap-siap.
Ia lalu bergabung dengan prajurit Pancala dan Wirata di medan perang.
Langit cerah, seakan menyaksikan pertarungan dua satria sakti yang dulu satu perguruan di bawah Begawan Rama Bargawa. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani