TOKOH wayang bernama Dursasana adalah salah satu dari Kurawa, putra Prabu Dretarastra (Raja Gajahoyo) dan Dewi Gendari.
Ia memiliki istri bernama Dewi Sultani, putri adipati Banjarjumut, yang melahirkan seorang putra bernama Dursala.
Dalam wayang versi Jogja, Dursasana dikenal dengan perwatakan yang suka berbuat sewenang-wenang, sombong, dan suka meremehkan orang lain.
Ia juga sering memamerkan kekayaannya dan cenderung manja.
Dalam berbagai lakon, Dursasana digambarkan dengan wajah jambon dan tubuh gembleng.
Dalam pencarian wahyu, Dursasana melakukan tapabrata, yang dikabulkan oleh dewata.
Namun, wahyu yang diperolehnya hanya bertahan sebentar, karena perwatakan buruknya yang menghalangi kekuatan wahyu tersebut.
Dalam babak V Baratayudha, Dursasana menemui ajalnya di tangan Werkudara.
Ia terbunuh dengan tubuh hancur, akibat tusukan kuku Pancanaka di dadanya.
Darahnya yang memancar digunakan untuk mencuci rambut Dewi Draupadi, sebagai pembalasan atas perbuatannya yang menghina.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani