DALAM Wayang Purwa, tokoh bernama Seto, yang juga dikenal sebagai Arya Seta, menduduki posisi penting dalam cerita.
Ia digambarkan sebagai sosok yang gagah perkasa dengan kulit putih bersih, menonjol sebagai putra sulung Matsyapati, raja Kerajaan Wirata.
Arya Seta dikenal tidak hanya karena ketampanannya tapi juga karena kehebatan dan kekuatannya dalam peperangan.
Tokoh wayang ini dalam versi Jogja diceritakan menikah dengan bidadari bernama Kanekawati, putri Narada yang turun ke dunia dalam penyamaran sebagai raja bernama Kanekanata.
Pernikahan ini, yang dipenuhi cerita magis dan intervensi dewata, terjadi berkat Abyasa yang berperan sebagai perantara.
Ia merupakan tokoh yang dihormati sebagai kakek para Pandawa dan Kurawa.
Arya Seta juga terkenal karena kemampuannya dalam ilmu sakti-mandraguna, memiliki ajian khusus bernama Narantaka.
Ajian ini sangat dahsyat. Dikatakan bahwa siapa saja yang terkena pukulan dari ajian ini akan segera binasa.
Kekuatan besar ini kemudian diwariskan kepada Gatutkaca, putra Bima, yang berguru pada Arya Seta.
Kisah Arya Seta berakhir dengan tragedi heroik, dimana ia gugur di tangan Bisma di medan Kurusetra, setelah kematian kedua adiknya, Utara dan Wratsangka.
Kematian Arya Seta merupakan bagian dari serangkaian peristiwa dramatis yang menandai hari-hari penuh pertumpahan darah dalam epik Mahabharata.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani