Lakon Wayang Abimanyu Dakwa oleh Ki Damar*
KETEGANGAN di istana Amarta semakin memuncak. Bima yang terkenal tegas meminta Kresna berbicara terus terang.
“Katakan saja pada kami. Pandawa bukan orang yang mudah kaget atau gampang terkejut,” ujar Werkudara (nama lain Bima) lantang.
Kresna menatap para Pandawa dengan serius. “Baiklah. Tapi, bagaimana bila pencurinya ternyata masih saudara kalian sendiri?”.
Bima menjawab tanpa ragu, “Tetap akan kami hukum. Pandawa tidak akan pandang bulu. Bila keluarga sendiri berbuat salah, maka ia tetap harus diadili,”.
Kresna pun mengucapkan kata-kata mengejutkan, “Bagus, Werkudara. Ketahuilah, Yayi Puntadewa. Sesungguhnya pencuri Jamus Kalimasada adalah anak Arjuna sendiri, si Abimanyu,”.
Seluruh yang hadir terdiam. Bima yang sudah bersumpah akan menegakkan keadilan tetap bersikeras dengan pendiriannya.
Namun, Arjuna merasa malu luar biasa. Baginya, tuduhan bahwa Abimanyu, anaknya sendiri, mencuri pusaka panutan rakyat Amarta adalah aib besar.
Arjuna segera meninggalkan istana untuk mencari Abimanyu.
Dia tahu, menjelang siang Abimanyu pasti menjenguk ibunya, Dewi Subadra di Madukara.
Puntadewa kemudian memerintahkan Bima untuk menyusul Arjuna.
“Jika kau tidak menahannya, Werkudara, bila terjadi apa-apa pada Abimanyu, engkau juga akan kehilangan anakmu. Kau tahu sendiri akibatnya,” ujar Puntadewa.
Bima sangat menyayangi Abimanyu, keponakan sekaligus sahabat putranya, Gatotkaca.
Jika Abimanyu benar-benar celaka di tangan Arjuna, perselisihan antara Pandawa bisa pecah.
Tanpa banyak kata, Bima langsung melangkah cepat meninggalkan istana.
Di luar istana, Kresna yang keluar dengan wajah berseri tampak bergembira dan bahkan berjoget kecil.
Dia tidak menyadari, gelagatnya sedang diawasi dengan seksama oleh dua tokoh sakti: Antasena dan Antareja. (den)
*Penulis Lakon Wayang Abimanyu Dakwa alumnus ISI Surakarta.
Editor : Deni Kurniawan