Lakon Wayang Begawan Tambrapeta oleh Ki Damar*
BEGAWAN Tambrapeta menjelaskan bahwa ruwatan adalah upaya spiritual untuk membersihkan sukerta dan menolak bala.
“Manusia boleh berusaha agar terhindar dari keburukan. Ruwatan adalah ikhtiar memohon pada Tuhan agar hidup terbebas dari musibah,” ucapnya lembut.
Mendengar itu, Endang Soka memegang tangan adiknya, lalu bertanya,
“Lalu kita harus pergi kemana, Bapa?”
“Kita harus menemui Kyai Semar, pamomong agung sekaligus abdi kinasih para Pandawa. Dialah yang bisa meruwat kalian,” jawab Begawan Tambrapeta.
Endang Perdapa mengangguk setuju, “Baiklah, Bapa. Jika itu membuat hatimu tenang, aku siap.”
Mereka bertiga lalu bersiap menuju Negara Amarta. Bekal perjalanan dipersiapkan. Doa dipanjatkan agar perjalanan mereka selamat.
Di tengah perjalanan, langkah mereka terhenti. Dua raksasa besar menghadang jalan.
“Hentikan langkah kalian! Aku Kalajaya, dan ini adikku Kalantaka. Kami lapar. Beruntung sekali kalian datang!” teriak Kalajaya sambil tertawa menyeramkan.
Begawan Tambrapeta berdiri tegak, melindungi kedua putrinya.
“Dasar raksasa, jangan mengganggu kami! Dewa akan mengutuk kalian jika berani mencelakakan kami,” ucapnya tegas.
Namun Kalantaka malah tertawa keras.
“Dewa? Kami menjadi seperti ini karena kutukan dewa! Apa lagi yang bisa mereka lakukan pada kami?”
Begawan Tambrapeta menatap keduanya dengan marah.
“Kami sedang dalam perjalanan menemui Kyai Semar. Jika kalian menghalangi, kalian akan menerima bencana yang lebih besar.” (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Begawan Tambrapeta alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan