Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Di sebuah hutan tak jauh dari Bale Sigala-gala, kabar baik muncul: Pandawa ternyata masih hidup.
Mereka diselamatkan oleh Garangan Putih, yang ternyata adalah malihan Batara Antaboga.
Sang dewa ular menolong bukan tanpa alasan. Dewi Nagagini, putrinya, menangis dan berharap dinikahkan dengan Raden Bima.
“Raden, apakah kau sudi menerima anak perempuanku?” tanya Batara Antaboga dengan sungguh-sungguh.
Bima terkejut. “Wah, aku belum cukup dewasa, dan Kakangku Puntadewa belum menikah. Bukankah lebih baik jika Puntadewa yang menikah lebih dulu?” jawabnya ragu.
Dewi Kunti, ibu Pandawa, menatap Bima dengan penuh harap.
“Bima, anakku, tidak baik menolak permintaan seorang dewa. Lagipula ia telah menyelamatkan kita semua dari maut. Jika bukan karena pertolongan Batara, kita tak tahu nasib kita. Kita berhutang nyawa pada mereka.”
Batara Antaboga menenangkan.
“Kunti, jangan memaksa anakmu. Aku mengenal Bima. Ia bukan orang yang mudah goyah. Nagagini selalu bercerita tentang keberanianmu. Hati tidak bisa dipaksa.”
Bima menghela napas panjang lalu mengangguk.
“Baiklah, Pukulun. Aku akan menikahi putrimu. Namun ijinkan aku meminta satu syarat, setelah pernikahan, aku dan saudaraku akan melanjutkan perjalanan. Kami sedang mengembara, menolong siapa pun yang membutuhkan. Jika itu bisa diterima, maka aku terima.”
Batara Antaboga tersenyum. “Aku tidak keberatan. Pandawa adalah satria luhur yang selalu mendarmakan kebaikan. Dengan demikian, ijab kabul patut dilangsungkan.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani