Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Wahyu Timbul Kencana 1, Menghilangnya Puntadewa

Ki Damar • Senin, 15 Desember 2025 | 23:30 WIB
Ilustrasi turunnya wahyu dalam cerita wayang
Ilustrasi turunnya wahyu dalam cerita wayang

Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Setelah kekalahan dalam permainan dadu melawan Kurawa, Pandawa dijatuhi hukuman mengasingkan diri di Hutan Kamyaka selama dua belas tahun.

Usai itu, mereka masih harus menjalani satu tahun penyamaran di sebuah kerajaan, dengan syarat mutlak tidak boleh diketahui.

Jika ketahuan, hukuman tiga belas tahun harus diulang dari awal. Pandawa menerima semua itu dengan lapang dada dan menjalani takdirnya dengan ikhlas.

Di masa pengasingan itu, Dewi Kunti datang ke Hutan Kamyaka. Ia ingin menemui anak-anaknya, menguatkan hati mereka yang sedang diuji nasib.

Namun sejak pagi, Puntadewa, sang sulung, tidak terlihat.

Entah ke mana ia pergi. Keadaan itu membuat para Pandawa dan Dewi Drupadi diliputi kegelisahan, terlebih ketika sang ibu menanyakan keberadaan putra pertamanya.

“Kenapa kalian hanya diam, anak-anakku. Ke mana kakakmu Puntadewa? Bima, jawablah. Drupadi, engkau istrinya, tentu kau tahu ke mana ia pergi,” ujar Dewi Kunti dengan nada cemas.

Mereka saling berpandangan, tak satu pun mampu memberi jawaban. Wajah-wajah itu menunjukkan kebingungan yang sama.

“Maafkan kami, Kanjeng Ibu,” kata Bima akhirnya. “Sejak pagi Sinuwun Puntadewa tidak terlihat. Kami pun masih berusaha mencarinya, namun belum menemukannya.”

Hati Dewi Kunti kian diliputi kecemasan. Ia teringat bahwa hukuman berat yang kini mereka jalani berawal dari keputusan Puntadewa sendiri.

Ego sang sulung dalam permainan dadu telah menyeret seluruh keluarga ke dalam penderitaan.

“Yang paling ibu takutkan,” ucap Dewi Kunti lirih.

“Jangan-jangan kakakmu pergi karena merasa bersalah pada kalian semua, karena telah membawa saudara-saudaranya ke dalam kesengsaraan ini.”

Arjuna melangkah mendekati ibunya. Ia menggenggam tangan Dewi Kunti yang telah keriput dan bergetar, lalu menciumnya dengan penuh bakti.

Tangan itu mungkin tak lagi sekuat dulu, tetapi kasihnya tetap menjadi penyangga hati para Pandawa dalam masa pengasingan yang sunyi.

(*/naz)

*Penulis adalah alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #bima #Pandawa #Lakon #wayang