Kisah Perselingkuhan Terlarang Dua Tokoh Wayang
Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Duryudana menyusuri setiap sudut istana Astina dengan amarah yang tak tertahan. Pendapa, taman, hingga kedaton putri telah ia datangi, namun bayang istrinya tak juga ditemukan. Kesabarannya runtuh.
Ia memanggil Burisrawa dengan suara menggelegar. “Ke mana kakakmu, Burisrawa? Jangan katakan kau tidak tahu!” bentaknya.
“Aku mengizinkanmu tinggal di Astina karena aku percaya padamu. Kau kuharap setia dan melaporkan setiap gerak-gerik prameswari. Apakah kau sudah tak tahu malu?”
Burisrawa gemetar. “Ampunkan hamba, kakang prabu,” ucapnya gugup.
“Sejujurnya, kakang mbok Banuwati keluar istana untuk bertemu Arjuna. Katanya ada perkara penting yang harus dibicarakan.”
Wajah Duryudana memerah. “Arjuna… lagi-lagi Arjuna!”
Napasnya memburu. “Mengapa Pandawa selalu menjadi kegaduhan hatiku?”
Ia memanggil Sengkuni. “Dawuh paduka,” jawab patih licik itu dengan suara tertahan.
“Siapkan keretaku. Aku akan mencarinya sendiri,” perintah Duryudana singkat.
Kereta Astina melaju kencang membelah malam. Di tengah perjalanan, Duryudana berpapasan dengan Arjuna yang baru kembali dari perburuan di hutan bersama para punakawan.
Ia menghentikan kereta dan turun dengan amarah membara. “Kau ke mana membawa istriku?” hardiknya.
Arjuna terkejut. “Apa maksud paduka, kakang prabu Astina?”
“Jangan berpura-pura!” teriak Duryudana.
“Burisrawa berkata Banuwati ingin bertemu denganmu. Cepat kembalikan istriku sebelum kesabaranku habis!”
Petruk melangkah maju dengan hati-hati.
“Ngapunten sinuwun. Sejak tadi ndara Arjuna berburu bersama kami. Kami tidak bertemu garwa paduka.”
“Diam!” bentak Duryudana.
“Kau hanya abdi. Tentu kau membela tuanmu!”
Arjuna menahan emosi. “Apakah kakang mbok Banuwati benar-benar tak ada di kedaton?”
“Jika ada, tak mungkin aku datang mencarimu sendirian!” jawab Duryudana. “Kembalikan istriku, Arjuna! Perebut istri orang!”
Tuduhan itu menghantam Arjuna seperti cambuk. Dadanya sesak. Tanpa menjawab, ia berbalik dan melangkah pergi.
Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk mencari kebenaran.
Arjuna berniat menemukan Banuwati, membuktikan bahwa ia tidak menculik, tidak menipu, dan tidak merendahkan kehormatan seorang ratu.
Meski hatinya dan hati Banuwati terikat rasa, ia tahu cinta tanpa kejujuran hanya akan melahirkan kehancuran.
Di malam yang sama, di bawah langit yang mulai kehilangan purnamanya, kebenaran dan fitnah berjalan saling berkejaran menuju satu titik yang tak terelakkan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani