alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Batu Bara Bikin Harga Listrik Indonesia Murah, Begini Penjelasannya

JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun – Batu bara menjadi komoditas utama energi nasional dengan kontribusi paling besar dibandingkan sumber daya alam (SDA) lainnya. Selain itu, batu bara juga mempengaruhi rendahnya harga tarif dasar listrik (TDL) di Indonesia.

Hal tersebut disebabkan karena selama ini PLTU berbasis batu bara adalah yang paling kompetitif. Seperti diketahui, pemerintah menyebutkan saat ini harga listrik dari PLTU sekitar USD 6–8 sen per kWh.

Tentu harga itu jauh berbeda jika dibandingkan dengan PLTS plus baterai. Di sisi lain, PT PLN mengklaim bahwa biaya produksi PLTS plus baterai lebih besar. Yakni USD 12 sen per kWh. Namun demikian, diharapkan penggunaan harga energi baru terbarukan (EBT) terus turun seiring pelaksanaan transisi energi.

Saat ini, PLTU disebut menguasai pembangkit secara nasional dengan porsi 36,9 gigawatt (GW) listrik. Jumlah itu setara 50 persen dari total kapasitas terpasang energi nasional sekitar 73,73 GW sampai Desember 2021. Selain itu, disusul oleh PLTGU 12,4 GW, PLTG/MG 8,5 GW, PLTD 4,9 GW hingga PLTA 6,4 GW.

‘’Listrik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat modern. Saya piker kita semua sepakat, bahwa kita bisa bayangkan kehidupan kita kalau tidak ada listrik,’’ jelas Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Puji Muhardi, Puji Muhardi, Jumat (13/5).

Baca Juga :  Februari, Penyaluran BNI Griya Tumbuh di Atas 8 Persen

Sementara itu, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan bahwa sektor kelistrikan saat ini pengelolaannya 59 persen didominasi oleh PLN. Lalu, independent power producer (IPP) 28 persen serta sejumlah instansi lainnya. ‘’Energy mix yang disebut bauran energi, listrik yang kita nikmati sampai saat ini, nyaris 66 persennya datang dari PLTU. Itu suatu kebanggaan, juga suatu tantangan,’’ katanya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyebutkan, batu bara akan dioptimalkan selama masa transisi energi. Dia memperkirakan baru bara masih cukup menjanjikan sebagai sumber energi dalam dua dekade ke depan.

‘’Sejauh ini batu bara terbukti masih sebagai sumber energi yang paling murah (affordable).Selain itu, batu bara juga memenuhi beberapa unsur untuk ketahanan energi yaitu, availability (ketersediaan yang relatif masih cukup banyak), acceptability (dapat diterima apalagi dengan perkembangan teknologi pembangkit listrik yang rendah emisi–clean coal technology), dan accessibility (mudah di akses),’’ terang Hendra. (her/*)

JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun – Batu bara menjadi komoditas utama energi nasional dengan kontribusi paling besar dibandingkan sumber daya alam (SDA) lainnya. Selain itu, batu bara juga mempengaruhi rendahnya harga tarif dasar listrik (TDL) di Indonesia.

Hal tersebut disebabkan karena selama ini PLTU berbasis batu bara adalah yang paling kompetitif. Seperti diketahui, pemerintah menyebutkan saat ini harga listrik dari PLTU sekitar USD 6–8 sen per kWh.

Tentu harga itu jauh berbeda jika dibandingkan dengan PLTS plus baterai. Di sisi lain, PT PLN mengklaim bahwa biaya produksi PLTS plus baterai lebih besar. Yakni USD 12 sen per kWh. Namun demikian, diharapkan penggunaan harga energi baru terbarukan (EBT) terus turun seiring pelaksanaan transisi energi.

Saat ini, PLTU disebut menguasai pembangkit secara nasional dengan porsi 36,9 gigawatt (GW) listrik. Jumlah itu setara 50 persen dari total kapasitas terpasang energi nasional sekitar 73,73 GW sampai Desember 2021. Selain itu, disusul oleh PLTGU 12,4 GW, PLTG/MG 8,5 GW, PLTD 4,9 GW hingga PLTA 6,4 GW.

‘’Listrik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat modern. Saya piker kita semua sepakat, bahwa kita bisa bayangkan kehidupan kita kalau tidak ada listrik,’’ jelas Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Puji Muhardi, Puji Muhardi, Jumat (13/5).

Baca Juga :  Dorong UMKM Go Global, BNI Xpora Gandeng ICC Indonesia

Sementara itu, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan bahwa sektor kelistrikan saat ini pengelolaannya 59 persen didominasi oleh PLN. Lalu, independent power producer (IPP) 28 persen serta sejumlah instansi lainnya. ‘’Energy mix yang disebut bauran energi, listrik yang kita nikmati sampai saat ini, nyaris 66 persennya datang dari PLTU. Itu suatu kebanggaan, juga suatu tantangan,’’ katanya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyebutkan, batu bara akan dioptimalkan selama masa transisi energi. Dia memperkirakan baru bara masih cukup menjanjikan sebagai sumber energi dalam dua dekade ke depan.

‘’Sejauh ini batu bara terbukti masih sebagai sumber energi yang paling murah (affordable).Selain itu, batu bara juga memenuhi beberapa unsur untuk ketahanan energi yaitu, availability (ketersediaan yang relatif masih cukup banyak), acceptability (dapat diterima apalagi dengan perkembangan teknologi pembangkit listrik yang rendah emisi–clean coal technology), dan accessibility (mudah di akses),’’ terang Hendra. (her/*)

Most Read

Artikel Terbaru

/