
Jawa Pos Radar Madiun – Sepeda motor pernah menjadi andalan Antoni untuk mengangkut jeruk Semboro. Jumlah buah yang dibawa pun terbatas. Namun, usaha yang dirintis dari bisnis keluarga itu kini berkembang jauh.
Saat panen raya, jaringan usahanya mampu mengirim dua hingga tiga truk jeruk sehari ke berbagai daerah, bahkan hingga Papua.
Setiap truk mengangkut sekitar 6,5–7 ton jeruk. Artinya, dalam sehari, volume pengiriman saat panen raya dapat mencapai sekitar 13–21 ton.
Perjalanan Antoni membesarkan usaha jeruk tidak berlangsung singkat. Dia mengenal bisnis tersebut dari ibunya yang bekerja sebagai petani sekaligus pedagang jeruk.
Pada 1997, Antoni mulai menekuni budidaya jeruk Semboro. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2001, dia memperluas usaha ke perdagangan dan pengiriman antardaerah.
Namun, keterbatasan modal sempat menjadi penghambat. Persoalan serupa juga dialami sejumlah pedagang kecil di sekitarnya.
Antoni kemudian membentuk klaster usaha yang beranggotakan 22 orang. Sebagian besar anggotanya merupakan pedagang jeruk skala kecil yang membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha.
Melalui kelompok tersebut, para pedagang memperoleh akses pembiayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), termasuk melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
’’Teman-teman pedagang kecil sebenarnya punya pasar dan kemauan berkembang, tetapi sering terkendala modal,’’ ujar Antoni.
Dukungan pembiayaan tersebut membantu anggota klaster meningkatkan kapasitas usaha secara bertahap.



