alexametrics
23 C
Madiun
Thursday, July 7, 2022

Mendag Lutfi: Harga Komoditas Tinggi Untungkan Petani Negara Berkembang

SWISS – Saat menghadiri World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi tampil mengesankan. Bahkan, dia mendominasi saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema The Biggest Trade Deal in The World yang disponsori Channel News Asia (CNA) Singapura tersebut.

Dalam diskusi itu, Lutfi mengemukakan beberapa hal penting. Salah satunya menyatakan bahwa Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) benar-benar bisa menjadi solusi bagi perekonomian dunia yang kini dilanda inflasi tinggi.

Menurut dia, inflasi tinggi saat ini diakibatkan adanya hambatan perdagangan dunia yang disebabkan proteksionisme dan perang dagang. Termasuk tidak berfungsinya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). ”Ketika negara-negara maju menerapkan standar ganda, WTO justru tidak berkutik,” ucap Lutfi.

Lutfi menuturkan, tingginya harga komoditas dunia saat ini berdampak positif bagi para petani di negara-negara berkembang besar untuk meraup keuntungan. Misalnya seperti Indonesia, India, Brasil, dan Tiongkok.

”Ini ekuilibrium baru dalam perdagangan komoditas pangan dunia. Jangan dirusak dengan menyalahkan salah satu negara. Misalnya Tiongkok karena posisi dagangnya kurang menguntungkan. Bahaya kalau sejumlah negara maju berkelompok menerapkan standar ganda,” katanya.

Standar ganda yang dimaksud Lutfi adalah negara-negara yang sudah maju menyalahkan dan mengganggu perdagangan bebas dunia. Standar ganda itu diterapkan ketika posisi dagang terhadap suatu negara kurang menguntungkan.

”Harus ada kebersamaan dan kesetaraan kesempatan dalam perdagangan bebas dunia,” ingat Lutfi.

Lutfi sempat berdebat cukup tegang dengan panelis lainnya yaitu Tak Miinami selaku CEO Suntory Holdings, salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di dunia asal Jepang.

Dalam forum, Miinami menyatakan pesimistis dengan situasi perdagangan dunia saat ini. Apalagi, Tiongkok kini menutup pasarnya karena kebijakan zero covid. Menurut Miinami, peran Tiongkok perlu dibatasi dalam perdagangan dunia.

Lutfi menyesalkan pandangan Miinami tersebut. Apalagi, Jepang sudah menjadi negara maju. Dikatakan, dunia harus mengakui fakta-fakta tentang Tiongkok.

Misalnya ketika Tiongkok mulai mendominasi perdagangan dunia, dampak positifnya dapat dirasakan seluruh masyarakat dunia. Salah satunya karena harga barang-barang semakin terjangkau.

Baca Juga :  Dorong Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan di Jatim

”Kami di Indonesia sangat merasakan betul manfaatnya. Apalagi Tiongkok menjadi sumber utama transfer teknologi bagi negara-negara berkembang saat ini,” ungkap Lutfi.

Padahal, sambung Lutfi, Tiongkok baru bergabung dengan WTO pada 2001. Tapi, manfaatnya jauh lebih terasa dibanding 40 tahun lebih sejak perdagangan dunia didominasi kapitalisme barat.

”Biarkan harga pangan tinggi agar petani dan peternak di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, meningkatkan produksinya. Nanti harganya akan turun dengan sendirinya setelah pasokan melimpah,” ulas Lutfi.

Lutfi menyatakan, RCEP berpotensi memperbaiki tata niaga perdagangan dunia. Jika semula berbasis akumulasi dan konsentrasi kemakmuran, kini menuju tata niaga baru yang meratakan kemakmuran dan menciptakan kesejahteraan bersama.

Bila dievaluasi secara jujur, kata Lutfi, kondisi tersebut dipicu kompetisi atau persaingan bebas yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi makro. Karena itu, tata niaga dunia yang baru harus berbasis kolaborasi nondiskriminatif atau bersifat inklusif.

”Bila seluruh dunia sibuk berkolaborasi, tidak ada ruang untuk kompetisi yang sering kali berujung pada konflik antarnegara,” tegas Lutfi.

RCEP diikuti 10 negara ASEAN ditambah Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. RCEP adalah kerja sama perekonomian pertama di dunia yang menjadikan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sebagai anggota.

”Perdagangan bebas tidak harus berdasar persaingan bebas. Tapi, bisa juga dicapai melalui kolaborasi yang nondiskriminatif atau inklusif. Sudah ada bukti keberhasilannya yaitu ASEAN,” papar Lutfi.

Perekonomian ASEAN saat ini menempati posisi terbesar kelima di dunia. Total produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 3,3 triliun. Sedangkan total populasi masyarakatnya 630 juta orang. Padahal, latar belakang, bentuk pemerintahan, dan sistem perekonomian 10 negara ASEAN beragam.

”Di belahan dunia lain justru menciptakan pertentangan, bahkan perang dingin. Tapi di ASEAN, kami merajut persatuan, kesejahteraan bersama, dan kolaborasi untuk berperan lebih baik bagi perekonomian dunia,” tandas Lutfi. (*)

SWISS – Saat menghadiri World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi tampil mengesankan. Bahkan, dia mendominasi saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema The Biggest Trade Deal in The World yang disponsori Channel News Asia (CNA) Singapura tersebut.

Dalam diskusi itu, Lutfi mengemukakan beberapa hal penting. Salah satunya menyatakan bahwa Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) benar-benar bisa menjadi solusi bagi perekonomian dunia yang kini dilanda inflasi tinggi.

Menurut dia, inflasi tinggi saat ini diakibatkan adanya hambatan perdagangan dunia yang disebabkan proteksionisme dan perang dagang. Termasuk tidak berfungsinya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). ”Ketika negara-negara maju menerapkan standar ganda, WTO justru tidak berkutik,” ucap Lutfi.

Lutfi menuturkan, tingginya harga komoditas dunia saat ini berdampak positif bagi para petani di negara-negara berkembang besar untuk meraup keuntungan. Misalnya seperti Indonesia, India, Brasil, dan Tiongkok.

”Ini ekuilibrium baru dalam perdagangan komoditas pangan dunia. Jangan dirusak dengan menyalahkan salah satu negara. Misalnya Tiongkok karena posisi dagangnya kurang menguntungkan. Bahaya kalau sejumlah negara maju berkelompok menerapkan standar ganda,” katanya.

Standar ganda yang dimaksud Lutfi adalah negara-negara yang sudah maju menyalahkan dan mengganggu perdagangan bebas dunia. Standar ganda itu diterapkan ketika posisi dagang terhadap suatu negara kurang menguntungkan.

”Harus ada kebersamaan dan kesetaraan kesempatan dalam perdagangan bebas dunia,” ingat Lutfi.

Lutfi sempat berdebat cukup tegang dengan panelis lainnya yaitu Tak Miinami selaku CEO Suntory Holdings, salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di dunia asal Jepang.

Dalam forum, Miinami menyatakan pesimistis dengan situasi perdagangan dunia saat ini. Apalagi, Tiongkok kini menutup pasarnya karena kebijakan zero covid. Menurut Miinami, peran Tiongkok perlu dibatasi dalam perdagangan dunia.

Lutfi menyesalkan pandangan Miinami tersebut. Apalagi, Jepang sudah menjadi negara maju. Dikatakan, dunia harus mengakui fakta-fakta tentang Tiongkok.

Misalnya ketika Tiongkok mulai mendominasi perdagangan dunia, dampak positifnya dapat dirasakan seluruh masyarakat dunia. Salah satunya karena harga barang-barang semakin terjangkau.

Baca Juga :  Mendag Lutfi Ingatkan Kembali ke Perdagangan Kunci Pemulihan Ekonomi Dunia

”Kami di Indonesia sangat merasakan betul manfaatnya. Apalagi Tiongkok menjadi sumber utama transfer teknologi bagi negara-negara berkembang saat ini,” ungkap Lutfi.

Padahal, sambung Lutfi, Tiongkok baru bergabung dengan WTO pada 2001. Tapi, manfaatnya jauh lebih terasa dibanding 40 tahun lebih sejak perdagangan dunia didominasi kapitalisme barat.

”Biarkan harga pangan tinggi agar petani dan peternak di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, meningkatkan produksinya. Nanti harganya akan turun dengan sendirinya setelah pasokan melimpah,” ulas Lutfi.

Lutfi menyatakan, RCEP berpotensi memperbaiki tata niaga perdagangan dunia. Jika semula berbasis akumulasi dan konsentrasi kemakmuran, kini menuju tata niaga baru yang meratakan kemakmuran dan menciptakan kesejahteraan bersama.

Bila dievaluasi secara jujur, kata Lutfi, kondisi tersebut dipicu kompetisi atau persaingan bebas yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi makro. Karena itu, tata niaga dunia yang baru harus berbasis kolaborasi nondiskriminatif atau bersifat inklusif.

”Bila seluruh dunia sibuk berkolaborasi, tidak ada ruang untuk kompetisi yang sering kali berujung pada konflik antarnegara,” tegas Lutfi.

RCEP diikuti 10 negara ASEAN ditambah Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. RCEP adalah kerja sama perekonomian pertama di dunia yang menjadikan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sebagai anggota.

”Perdagangan bebas tidak harus berdasar persaingan bebas. Tapi, bisa juga dicapai melalui kolaborasi yang nondiskriminatif atau inklusif. Sudah ada bukti keberhasilannya yaitu ASEAN,” papar Lutfi.

Perekonomian ASEAN saat ini menempati posisi terbesar kelima di dunia. Total produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 3,3 triliun. Sedangkan total populasi masyarakatnya 630 juta orang. Padahal, latar belakang, bentuk pemerintahan, dan sistem perekonomian 10 negara ASEAN beragam.

”Di belahan dunia lain justru menciptakan pertentangan, bahkan perang dingin. Tapi di ASEAN, kami merajut persatuan, kesejahteraan bersama, dan kolaborasi untuk berperan lebih baik bagi perekonomian dunia,” tandas Lutfi. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/