Jawa Pos Radar Madiun – Banyak aktor muda bermunculan di industri film Indonesia, nama Jourdy Pranata patut menjadi perhatian.
Wajahnya tenang, ekspresinya tulus, dan gaya aktingnya tak berlebihan.
Dalam waktu singkat, dia berhasil menembus barisan aktor muda papan atas berkat konsistensi dan karakter yang kuat di setiap peran.
Profil Jourdy Pranata dari Teater ke Layar Lebar
Lahir di Bandung, 2 Januari 1994, Jourdy Pranata tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan dunia seni.
Sejak kecil, ia sudah tertarik pada panggung dan ekspresi. Ketertarikan itu membawanya menekuni dunia teater sebelum akhirnya terjun ke industri film.
Perjalanan kariernya dimulai dari film pendek dan produksi teater kecil. Namun, publik baru benar-benar mengenalnya setelah tampil sebagai Bayu dalam film Geez & Ann (2021).
Perannya sebagai sahabat yang tulus dan realistis membuat banyak penonton jatuh hati. Jourdy tidak tampil megah, tapi justru mengena karena kesederhanaan aktingnya.
Keberhasilan Geez & Ann membuka jalan bagi Jourdy untuk mengeksplorasi berbagai genre.
Ia tak ingin terjebak pada satu tipe peran. Tahun-tahun berikutnya menjadi momentum penting dalam kariernya:
“Garis Waktu” (2022) – beradu akting dengan Reza Rahadian dan Michelle Zudith, memperlihatkan kematangan emosi dalam karakter yang penuh dilema.
“Kukira Kau Rumah” (2022) – menampilkan sisi emosional dan empatik seorang pria yang berjuang memahami kondisi mental pasangannya.
“Kereta Berdarah” (2023) – membuktikan kemampuannya di genre thriller dengan karakter tegang dan misterius.
“Jurnal Risa: Lembaran Terakhir” (2024) – memperlihatkan sisi gelap dan intens yang jarang ia tampilkan sebelumnya.
Keempat film ini menegaskan satu hal: Jourdy bukan sekadar aktor tampan, melainkan aktor dengan teknik dan perasaan. (cor)
Editor : Andi Chorniawan