alexametrics
23.4 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Dedikasi Eko Setiono pada Kelompok Barongsai TITD Hwie Ing Kiong

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Satu per satu kepala barongsai dikeluarkan Eko Setiono dari ruang penyimpanan. Kemudian, diletakkan di meja dan kursi di halaman belakang Kelenteng Hwie Ing Kiong. Kepala barongsai itu sengaja dijemur di bawah terik matahari.

Sekitar satu jam berselang, Eko bersama anggota kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong mengambilnya dari tempat penjemuran. Selanjutnya, masing-masing dua personel memainkan replika makhluk menyerupai singa itu. Gerakannya rancak mengikuti iringan musik yang dimainkan.

Sesekali barongsai memperagakan gerakan akrobatik. Di saat lain matanya berkedip-kedip dengan jenaka. Latihan bersama itu dilakukan seminggu dua kali. ’’Walaupun tidak ada pertunjukan, latihan tetap dilakukan untuk menjaga fisik dan ketangkasan,’’ ujar Eko yang melatih kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong sejak 2003 silam itu, Selasa (1/2).

Hampir tiga tahun, bersamaan pandemi Covid-19, barongsai TITD Hwie Ing Kiong vakum dari pentas. Kendati demikian, latihan maupun perawatan tetap dilakukan. Kepala barongsai rutin dijemur agar bulunya awet. ‘’Harganya juga tidak murah, sekitar Rp 5 juta sampai Rp 15 juta,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Resign dari PNS, Bernadi Sabit Dangin Pilih Fokus Berburu Fosil

Eko lantas membeber lebih detail seputar seni barongsai. Saat tampil, barongsai selalu diiringi musik tambur jeng dan kenong. Selain itu, ada tarian naga liong. Pun, ada semacam kode pada musik pengiring yang menuntun gerakan pemain. ‘’Jadi pemain barongsai tidak mudah, butuh kecerdasan, ketangkasan, dan kekuatan,’’ ujar bapak satu anak itu.

Barongsai terbagi dalam tiga atraksi. Yakni, dasar, pentas kursi atau meja, dan tonggak. Permainan tonggak membutuhkan pemain yang sudah memiliki jam terbang tinggi.

Kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong memiliki sederet prestasi mentereng. Di antaranya, memenangi lima kategori dalam Festival Barongsai Terbuka Trofi Jawa Pos di Surabaya 2020 dan piala bergilir barongsai Jawa Timur kategori atraksi tonggak.

Meski identik dengan kesenian asal Tiongkok, anggota kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong mayoritas warga pribumi. ‘’Saya sendiri seorang muslim, niat saya melestarikan kesenian dan menghibur masyarakat,’’ tuturnya. (ggi/isd/c1/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Satu per satu kepala barongsai dikeluarkan Eko Setiono dari ruang penyimpanan. Kemudian, diletakkan di meja dan kursi di halaman belakang Kelenteng Hwie Ing Kiong. Kepala barongsai itu sengaja dijemur di bawah terik matahari.

Sekitar satu jam berselang, Eko bersama anggota kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong mengambilnya dari tempat penjemuran. Selanjutnya, masing-masing dua personel memainkan replika makhluk menyerupai singa itu. Gerakannya rancak mengikuti iringan musik yang dimainkan.

Sesekali barongsai memperagakan gerakan akrobatik. Di saat lain matanya berkedip-kedip dengan jenaka. Latihan bersama itu dilakukan seminggu dua kali. ’’Walaupun tidak ada pertunjukan, latihan tetap dilakukan untuk menjaga fisik dan ketangkasan,’’ ujar Eko yang melatih kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong sejak 2003 silam itu, Selasa (1/2).

Hampir tiga tahun, bersamaan pandemi Covid-19, barongsai TITD Hwie Ing Kiong vakum dari pentas. Kendati demikian, latihan maupun perawatan tetap dilakukan. Kepala barongsai rutin dijemur agar bulunya awet. ‘’Harganya juga tidak murah, sekitar Rp 5 juta sampai Rp 15 juta,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Mochamad Zaenuri Olah Rempah-Rempah Jadi Minuman Herbal

Eko lantas membeber lebih detail seputar seni barongsai. Saat tampil, barongsai selalu diiringi musik tambur jeng dan kenong. Selain itu, ada tarian naga liong. Pun, ada semacam kode pada musik pengiring yang menuntun gerakan pemain. ‘’Jadi pemain barongsai tidak mudah, butuh kecerdasan, ketangkasan, dan kekuatan,’’ ujar bapak satu anak itu.

Barongsai terbagi dalam tiga atraksi. Yakni, dasar, pentas kursi atau meja, dan tonggak. Permainan tonggak membutuhkan pemain yang sudah memiliki jam terbang tinggi.

Kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong memiliki sederet prestasi mentereng. Di antaranya, memenangi lima kategori dalam Festival Barongsai Terbuka Trofi Jawa Pos di Surabaya 2020 dan piala bergilir barongsai Jawa Timur kategori atraksi tonggak.

Meski identik dengan kesenian asal Tiongkok, anggota kelompok barongsai TITD Hwie Ing Kiong mayoritas warga pribumi. ‘’Saya sendiri seorang muslim, niat saya melestarikan kesenian dan menghibur masyarakat,’’ tuturnya. (ggi/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/