alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Dari Bonsai, Rohmad Wahyudi Raih Pundi-Pundi Rupiah

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Hari sudah menjelang sore. Rohmad Wahyudi bergegas mengambil gunting pemotong ranting tanaman. Lalu, beranjak ke sebuah lahan. Dengan hati-hati pria 43 tahun itu lantas memangkas sebagian ranting tanaman bonsai yang dibudidayakannya. Selesai memotong ranting bonsai, dia menyiram pohon kerdilnya dengan air.

Rutinitas seperti itu dilakoni Rohmad sejak tiga tahun lalu. Saat ini, sekitar 500 bonsai dikembangkan warga Nambangan Lor, Manguharjo, itu di lahan sewaan seluas 1.000 meter persegi. ‘’Karena memang suka dengan bonsai,’’ ujar Rohmad, Jumat (4/2).

Berbagai jenis bonsai dibudidayakan Rohmad. Di antaranya, beringin, sepreh, sianci, hokianti, loa, bugenvil, arabica, dan beringin. Namun, jenis yang paling disukainya adalah kimeng. Alasannya, pembentukan maupun penggabungan rantingnya terbilang mudah.

Tak sekadar hobi, bonsai yang dibudidayakannya juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Harganya tergantung bentuk. Ada yang mulai ratusan ribu, ada pula yang mesti ditebus dengan duit hingga puluhan juta rupiah. ‘’Paling mahal saya jual Rp 12 juta,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Shokaido Special Kids, Perguruan Karate untuk Anak Istimewa

Selama ini Rohmad kerap berburu bakal bonsai hingga luar daerah. Kemudian, dirawat hingga benar-benar ‘’jadi’’ dan nilainya berlipat. ‘’Menjadikan bonsai layak jual butuh waktu lama, itu yang menjadikannya mahal,’’ tutur pria yang juga hobi mengoleksi barang antik tersebut.

Menanam dan merawat bonsai gampang-gampang susah. Tak jarang Rohmad mendapati tanamannya mati. Jika sudah begitu, dia dipastikan merugi. ‘’Kalau sudah mati ya mau gimana lagi,’’ ucapnya. ‘’Simpel saja, bukan rezeki,’’ imbuhnya.

Selain bonsai, Rohmad juga membudidayakan pohon pule dan baobab. Pohon berukuran besar itu biasanya oleh pembeli dijadikan penghias taman. ‘’Harganya Rp 2 juta sampai Rp 5 juta,’’ ujarnya. (ggi/isd/c1/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Hari sudah menjelang sore. Rohmad Wahyudi bergegas mengambil gunting pemotong ranting tanaman. Lalu, beranjak ke sebuah lahan. Dengan hati-hati pria 43 tahun itu lantas memangkas sebagian ranting tanaman bonsai yang dibudidayakannya. Selesai memotong ranting bonsai, dia menyiram pohon kerdilnya dengan air.

Rutinitas seperti itu dilakoni Rohmad sejak tiga tahun lalu. Saat ini, sekitar 500 bonsai dikembangkan warga Nambangan Lor, Manguharjo, itu di lahan sewaan seluas 1.000 meter persegi. ‘’Karena memang suka dengan bonsai,’’ ujar Rohmad, Jumat (4/2).

Berbagai jenis bonsai dibudidayakan Rohmad. Di antaranya, beringin, sepreh, sianci, hokianti, loa, bugenvil, arabica, dan beringin. Namun, jenis yang paling disukainya adalah kimeng. Alasannya, pembentukan maupun penggabungan rantingnya terbilang mudah.

Tak sekadar hobi, bonsai yang dibudidayakannya juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Harganya tergantung bentuk. Ada yang mulai ratusan ribu, ada pula yang mesti ditebus dengan duit hingga puluhan juta rupiah. ‘’Paling mahal saya jual Rp 12 juta,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Sepekan Tambah 637 Kasus Baru, IDI Sebut BOR RS di Kota Madiun Masih Teratasi

Selama ini Rohmad kerap berburu bakal bonsai hingga luar daerah. Kemudian, dirawat hingga benar-benar ‘’jadi’’ dan nilainya berlipat. ‘’Menjadikan bonsai layak jual butuh waktu lama, itu yang menjadikannya mahal,’’ tutur pria yang juga hobi mengoleksi barang antik tersebut.

Menanam dan merawat bonsai gampang-gampang susah. Tak jarang Rohmad mendapati tanamannya mati. Jika sudah begitu, dia dipastikan merugi. ‘’Kalau sudah mati ya mau gimana lagi,’’ ucapnya. ‘’Simpel saja, bukan rezeki,’’ imbuhnya.

Selain bonsai, Rohmad juga membudidayakan pohon pule dan baobab. Pohon berukuran besar itu biasanya oleh pembeli dijadikan penghias taman. ‘’Harganya Rp 2 juta sampai Rp 5 juta,’’ ujarnya. (ggi/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/