alexametrics
23.7 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Jamu Tradisional Kemasan Buatan Anie Mardianie Diburu Warga

JIWAN, Jawa Pos Radar Madiun – Malam itu Anie Mardianie tampak sibuk di dapur rumahnya. Satu per satu kunyit dan kencur dalam wadah plastik dibersihkan dengan air. Setelah bersih, kedua jenis empon-empon tersebut dimasukkan ke panci berisi air panas. Kemudian, perempuan 48 tahun itu merebus gula aren, gula pasir, dan asam.

Beberapa saat berselang, kunyit dan kencur yang direbus diangkat, lalu ditiriskan. Setelah dingin, Anie memblendernya bersama gula aren, gula pasir, dan asam. ‘’Ini sedang bikin beras kencur, prosesnya sama seperti membuat kunyit asam. Cuma ditambahkan beras sangrai waktu diblender,’’ kata warga Desa Sambirejo, Jiwan, Kabupaten Madiun, itu, Jumat (4/2).

Sudah sekitar setahun Anie memproduksi jamu beras kencur dan kunyit asam. Idenya terinspirasi dari tren warga berburu ramuan untuk menjaga imunitas tubuh bersamaan ledakan kasus Covid-19. ‘’Sebelumnya saya membuat jamu herbal, tapi belakangan sepi peminat,’’ ungkapnya.

Produk jamu tradisional hasil racikan Anie yang diberi nama Djamoe Demang Perkoel itu dikemas dalam wadah botol ukuran 350 mililiter. Setiap harinya, ibu satu anak itu rata-rata memproduksi 25 botol. Per botol dijual Rp 5.000. ‘’Tapi, kalau ada pesanan bisa bikin 50-150 botol,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Ridho Sasongko, Jebolan Kakang Mbakyu yang Owner Agensi Modeling

Anie memilih membatasi produksinya bukan tanpa alasan. Selain khawatir tak terjual semuanya, jamu produksinya tidak bertahan lama. Kunyit asam, misalnya, bertahan 3-4 hari jika disimpan di lemari es. Sedangkan beras kencur hanya dua hari. ‘’Takut basi, karena saya berkomitmen menjual jamu segar,’’ ujarnya.

Anie juga tidak menjual jamu produksinya ke luar kota. Sebab, waktu pengiriman memengaruhi kualitas dan rasa jamu. ‘’Mending jual sedikit-sedikit saja, walaupun keuntungan sedikit yang penting lumintu,’’ tutur istri Agung Priyanto tersebut.

Selama ini Anie sekadar memasarkan jamu produksinya ke lingkungan tempat tinggalnya, sekolah, dan perkantoran. Pun, strategi pemasarannya hanya mengandalkan nomor ponsel yang dicantumkan pada kemasan botol jamu. ‘’Dari mulut ke mulut saja sih sementara ini, alhamdulillah ada hasilnya,’’ ucap Anie. (ggi/isd/c1/her)

JIWAN, Jawa Pos Radar Madiun – Malam itu Anie Mardianie tampak sibuk di dapur rumahnya. Satu per satu kunyit dan kencur dalam wadah plastik dibersihkan dengan air. Setelah bersih, kedua jenis empon-empon tersebut dimasukkan ke panci berisi air panas. Kemudian, perempuan 48 tahun itu merebus gula aren, gula pasir, dan asam.

Beberapa saat berselang, kunyit dan kencur yang direbus diangkat, lalu ditiriskan. Setelah dingin, Anie memblendernya bersama gula aren, gula pasir, dan asam. ‘’Ini sedang bikin beras kencur, prosesnya sama seperti membuat kunyit asam. Cuma ditambahkan beras sangrai waktu diblender,’’ kata warga Desa Sambirejo, Jiwan, Kabupaten Madiun, itu, Jumat (4/2).

Sudah sekitar setahun Anie memproduksi jamu beras kencur dan kunyit asam. Idenya terinspirasi dari tren warga berburu ramuan untuk menjaga imunitas tubuh bersamaan ledakan kasus Covid-19. ‘’Sebelumnya saya membuat jamu herbal, tapi belakangan sepi peminat,’’ ungkapnya.

Produk jamu tradisional hasil racikan Anie yang diberi nama Djamoe Demang Perkoel itu dikemas dalam wadah botol ukuran 350 mililiter. Setiap harinya, ibu satu anak itu rata-rata memproduksi 25 botol. Per botol dijual Rp 5.000. ‘’Tapi, kalau ada pesanan bisa bikin 50-150 botol,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Korban Begal Payudara Mayoritas Masih di Bawah Umur

Anie memilih membatasi produksinya bukan tanpa alasan. Selain khawatir tak terjual semuanya, jamu produksinya tidak bertahan lama. Kunyit asam, misalnya, bertahan 3-4 hari jika disimpan di lemari es. Sedangkan beras kencur hanya dua hari. ‘’Takut basi, karena saya berkomitmen menjual jamu segar,’’ ujarnya.

Anie juga tidak menjual jamu produksinya ke luar kota. Sebab, waktu pengiriman memengaruhi kualitas dan rasa jamu. ‘’Mending jual sedikit-sedikit saja, walaupun keuntungan sedikit yang penting lumintu,’’ tutur istri Agung Priyanto tersebut.

Selama ini Anie sekadar memasarkan jamu produksinya ke lingkungan tempat tinggalnya, sekolah, dan perkantoran. Pun, strategi pemasarannya hanya mengandalkan nomor ponsel yang dicantumkan pada kemasan botol jamu. ‘’Dari mulut ke mulut saja sih sementara ini, alhamdulillah ada hasilnya,’’ ucap Anie. (ggi/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/