alexametrics
24.8 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Muhammad Fuad Hariri Jadi Pengasuh Ponpes sejak Usia 22 Tahun

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sepulang dari tempat dinasnya di MIN 1 Kota Madiun, Muhammad Fuad Hariri bergegas berganti pakaian. Beberapa menit kemudian, dia ganti sibuk mengajar para santrinya di Pondok Pesantren (Ponpes) Gading, Manguharjo. Sementara, selepas magrib Fuad bersiap menuju Masjid Agung Baitul Hakim. ‘’Saya takmir di sana,’’ kata pria 55 tahun itu.

Sejak kecil Fuad sudah akrab dengan dunia santri. Saat usia SD dia mulai belajar di Ponpes Gedongsari, Kecamatan Prambon, Nganjuk, yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Pun, selama kuliah di Malang juga tinggal di pondok. ‘’Saya memang dididik orang tua untuk tinggal di pondok,’’ sebutnya.

Setelah lulus kuliah pada 1989 di usia 22 tahun, Fuad diminta menjadi pengasuh Ponpes Gading, Kota Madiun, bersama Kiai Syamsul Maarif. Pesantren Gading didirikan pada 1917 oleh Kiai Hasan Mustari, salah seorang murid Pangeran Diponegoro.

Kala itu fokus pengajarannya pada madrasah diniyah. Kurikulumnya mengacu sistem salafiyah yang hanya fokus pada kitab kuning. ‘’Setelah itu, ada lembaga formal PGA (pendidikan guru agama) setara SMA,’’ ungkap Fuad.

Baca Juga :  Yoen Ayomi, Desainer Kebaya Modern Asal Magetan

Seiring perkembangannya yang pesat, PGA berubah status menjadi madrasah aliyah (MA). Kemudian, pada 1980 berdiri SMK Beringin yang bekerja sama dengan Sekolah Pertanian dan Pembangunan (SPP) Cokroaminoto sampai 1990.

Setelah itu, baru ada lembaga formal lagi pada 2002 bersamaan berdirinya Raudlatul Athfal (RA) Az-Zahra yang sampai sekarang masih aktif. ‘’Pada 2016 juga mulai berdiri MI Azarul Ulum,’’ ujar Fuad yang juga menjabat kepala MIN 1 Kota Madiun itu.

Meski lembaga formalnya kerap buka tutup, pembelajaran di pondok tetap aktif. Pembelajaran nonformal itu rutin dilaksanakan setiap hari. Dimulai setelah subuh dengan pengajian kitab dan Alquran hingga usai isya. Mayoritas yang nyantri di Ponpes Gading merupakan warga sekitar. Kebanyakan kategori santri laju alias pergi-pulang. Sedangkan yang menetap di pondok hanya sekitar 30 santri.

Bagi Fuad, ilmu agama sangat penting. Terutama di era digital yang ditandai mudahnya mengakses berbagai informasi. Karena itu, dia mewajibkan anak-anaknya tinggal di pesantren. ‘’Jika dibekali dengan ilmu agama, insya Allah akan lebih kokoh menghadapi tantangan dunia luar,’’ tuturnya. (mg7/isd/c1)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sepulang dari tempat dinasnya di MIN 1 Kota Madiun, Muhammad Fuad Hariri bergegas berganti pakaian. Beberapa menit kemudian, dia ganti sibuk mengajar para santrinya di Pondok Pesantren (Ponpes) Gading, Manguharjo. Sementara, selepas magrib Fuad bersiap menuju Masjid Agung Baitul Hakim. ‘’Saya takmir di sana,’’ kata pria 55 tahun itu.

Sejak kecil Fuad sudah akrab dengan dunia santri. Saat usia SD dia mulai belajar di Ponpes Gedongsari, Kecamatan Prambon, Nganjuk, yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Pun, selama kuliah di Malang juga tinggal di pondok. ‘’Saya memang dididik orang tua untuk tinggal di pondok,’’ sebutnya.

Setelah lulus kuliah pada 1989 di usia 22 tahun, Fuad diminta menjadi pengasuh Ponpes Gading, Kota Madiun, bersama Kiai Syamsul Maarif. Pesantren Gading didirikan pada 1917 oleh Kiai Hasan Mustari, salah seorang murid Pangeran Diponegoro.

Kala itu fokus pengajarannya pada madrasah diniyah. Kurikulumnya mengacu sistem salafiyah yang hanya fokus pada kitab kuning. ‘’Setelah itu, ada lembaga formal PGA (pendidikan guru agama) setara SMA,’’ ungkap Fuad.

Baca Juga :  Pengalaman Danrem 081/DSJ Kolonel Inf Deni Rejeki saat Bertugas di Kalimantan

Seiring perkembangannya yang pesat, PGA berubah status menjadi madrasah aliyah (MA). Kemudian, pada 1980 berdiri SMK Beringin yang bekerja sama dengan Sekolah Pertanian dan Pembangunan (SPP) Cokroaminoto sampai 1990.

Setelah itu, baru ada lembaga formal lagi pada 2002 bersamaan berdirinya Raudlatul Athfal (RA) Az-Zahra yang sampai sekarang masih aktif. ‘’Pada 2016 juga mulai berdiri MI Azarul Ulum,’’ ujar Fuad yang juga menjabat kepala MIN 1 Kota Madiun itu.

Meski lembaga formalnya kerap buka tutup, pembelajaran di pondok tetap aktif. Pembelajaran nonformal itu rutin dilaksanakan setiap hari. Dimulai setelah subuh dengan pengajian kitab dan Alquran hingga usai isya. Mayoritas yang nyantri di Ponpes Gading merupakan warga sekitar. Kebanyakan kategori santri laju alias pergi-pulang. Sedangkan yang menetap di pondok hanya sekitar 30 santri.

Bagi Fuad, ilmu agama sangat penting. Terutama di era digital yang ditandai mudahnya mengakses berbagai informasi. Karena itu, dia mewajibkan anak-anaknya tinggal di pesantren. ‘’Jika dibekali dengan ilmu agama, insya Allah akan lebih kokoh menghadapi tantangan dunia luar,’’ tuturnya. (mg7/isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/