alexametrics
23.8 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Abdul Wahid, Antara Jabatan Baru sebagai Kakemenag Kota Madiun dan Impiannya

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Aspek religi ditanamkan betul oleh orang tua Abdul Wahid kepadanya sejak kecil. Tidak salah jika dia memilih kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya. Lulus perguruan tinggi pada 1996 silam, Wahid lantas mengajar pelajaran agama di SMAN 4  Bojonegoro sampai 2008.

Di sela aktivitasnya sebagai pendidik kala itu, pria 49 tahun tersebut menempuh pendidikan magister di Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang. Lulus S-2 perguruan tinggi itu, Wahid kemudian mengabdi di kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro.

Wahid menjabat pengawas di bawah Seksi Pendidikan Agama Kemenag Bojonegoro hingga 2013. Lalu, berlanjut menjadi Kasi pendidikan agama Islam sampai 2016. Setelah itu, menjabat Kasi pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Kemudian, pada 2018 Wahid diamanahi jabatan Kasi pendidikan madrasah sebelum akhirnya dipercaya sebagai kepala Kemenag (Kakemenag) Kota Madiun awal Februari ini.

Beberapa tahun sebelum pindah ke Kota Pendekar, Wahid mulai getol berinovasi mengembangkan digitalisasi di madrasah. Salah satunya menerapkan ujian nasional (UN) berbasis digital untuk seluruh madrasah ibtidaiyah (MI) di Bojonegoro. Siswa menjawab soal dengan aplikasi dan mendapat pertanyaan acak. ‘’Jadi, tidak bisa nyontek kawan di sampingnya,’’ ujar Wahid yang baru sepekan menjabat Kakemenag Kota Madiun itu, Rabu (9/2).

Baca Juga :  Isfatunnisa Laris Diundang Jadi Penerjemah Rilis Pers Kepolisian

Wahid tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Baru seminggu bertugas di Kota Madiun dia sudah akrab dengan Wali Kota Maidi. ‘’Kami akan bersinergi terus dengan pemkot,’’ kata pria asal Kecamatan Kapas, Bojonegoro, itu.

Pun, dia telah melakukan sejumlah pemetaan. Salah satu targetnya menjadikan MAN 2 Kota Madiun pilot project madrasah berprestasi di Jawa Timur. Sebab, selama ini MAN 2 dikenal memiliki banyak murid yang moncer. Baik bidang akademik maupun ekstrakurikuler. ‘’Tapi, program di luar dunia pendidikan seperti zakat, umrah, dan haji juga tetap mendapat perhatian,’’ tegasnya.

Di luar tugasnya sebagai pejabat Kemenag, Wahid kerap memanfaatkan waktu luangnya dengan mengisi pengajian. Pun, dia getol mengampanyekan moderasi beragama. (mg7/isd/c1/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Aspek religi ditanamkan betul oleh orang tua Abdul Wahid kepadanya sejak kecil. Tidak salah jika dia memilih kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya. Lulus perguruan tinggi pada 1996 silam, Wahid lantas mengajar pelajaran agama di SMAN 4  Bojonegoro sampai 2008.

Di sela aktivitasnya sebagai pendidik kala itu, pria 49 tahun tersebut menempuh pendidikan magister di Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang. Lulus S-2 perguruan tinggi itu, Wahid kemudian mengabdi di kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro.

Wahid menjabat pengawas di bawah Seksi Pendidikan Agama Kemenag Bojonegoro hingga 2013. Lalu, berlanjut menjadi Kasi pendidikan agama Islam sampai 2016. Setelah itu, menjabat Kasi pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Kemudian, pada 2018 Wahid diamanahi jabatan Kasi pendidikan madrasah sebelum akhirnya dipercaya sebagai kepala Kemenag (Kakemenag) Kota Madiun awal Februari ini.

Beberapa tahun sebelum pindah ke Kota Pendekar, Wahid mulai getol berinovasi mengembangkan digitalisasi di madrasah. Salah satunya menerapkan ujian nasional (UN) berbasis digital untuk seluruh madrasah ibtidaiyah (MI) di Bojonegoro. Siswa menjawab soal dengan aplikasi dan mendapat pertanyaan acak. ‘’Jadi, tidak bisa nyontek kawan di sampingnya,’’ ujar Wahid yang baru sepekan menjabat Kakemenag Kota Madiun itu, Rabu (9/2).

Baca Juga :  Lebaran, Pengunjung Bioskop Membeludak

Wahid tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Baru seminggu bertugas di Kota Madiun dia sudah akrab dengan Wali Kota Maidi. ‘’Kami akan bersinergi terus dengan pemkot,’’ kata pria asal Kecamatan Kapas, Bojonegoro, itu.

Pun, dia telah melakukan sejumlah pemetaan. Salah satu targetnya menjadikan MAN 2 Kota Madiun pilot project madrasah berprestasi di Jawa Timur. Sebab, selama ini MAN 2 dikenal memiliki banyak murid yang moncer. Baik bidang akademik maupun ekstrakurikuler. ‘’Tapi, program di luar dunia pendidikan seperti zakat, umrah, dan haji juga tetap mendapat perhatian,’’ tegasnya.

Di luar tugasnya sebagai pejabat Kemenag, Wahid kerap memanfaatkan waktu luangnya dengan mengisi pengajian. Pun, dia getol mengampanyekan moderasi beragama. (mg7/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/