alexametrics
24.6 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Santoso, Mantan Wartawan Jawa Pos yang Melejitkan Tokoh Bondet di Era 1990-an

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Usianya sudah tidak muda lagi. Namun, hasrat berkarya di dunia jurnalistik masih menggebu-gebu dalam benak Santoso. Mantan wartawan dan redaktur Jawa Pos itu masih konsisten menulis di usianya yang telah menginjak 66 tahun.

Hampir setiap hari jari-jari Santoso mengetik berita untuk kemudian dikirim ke media massa. Terbit atau tidak, urusan kesekian bagi ayah dua anak itu. ‘’Saya juga buat media kecil-kecilan sebagai wadah tulisan,’’ kata Santoso, kemarin (9/2).

Pembaca Jawa Pos era 1990-an pasti akrab dengan Bondet, tokoh sentral dalam rubrik Opo Maneh. Kala itu, sosok Bondet begitu populer, terutama di kalangan grassroot (akar rumput). Meski Bondet merupakan tokoh fiktif, kisah dalam Opo Maneh ditulis based on true story alias berdasarkan fakta.

Rubrik Opo Maneh berisi serba-serbi kriminalitas, kisah asmara, dan kehidupan masyarakat yang dikemas dalam bahasa ringan dan ’’nakal’’ khas akar rumput. Siapa sangka, rubrik tersebut berhasil mendongkrak oplah koran Jawa Pos di tingkat eceran. ‘’Saat itu bos saya (Dahlan Iskan, Red) minta ada berita ringan, unik, dan kalau bisa lucu, jangan melulu serius atau berat,’’ kenang Santoso.

Sukses menggawangi rubrik Opo Maneh berbuah apresiasi bagi warga Jalan Turi Indah, Kelurahan Kelun, Kartoharjo, itu. Dalam buku karya Santoso berjudul Bondet (Sisi Hitam Seorang Wartawan) yang diterbitkan 2012 silam, Dahlan Iskan-lah yang menulis prakatanya.

Baca Juga :  Pasutri Asal Madiun Ini Jatuh Cinta pada Musang

Selain menggawangi rubrik Opo Maneh, kala itu Santoso didapuk sebagai redaktur wilayah Jawa Timur. Dia bertugas memoles berita-berita kategori indepth news. Tanggung jawab lainnya adalah meng-handle rubrik Kontak Jodoh. ‘’Orang-orang lebih mengenal saya dengan nama Bondet,’’ ungkap suami Herry Siswati itu.

Mengapa memilih nama Bondet sebagai tokoh sentral Opo Maneh? Inspirasinya sederhana. Saat edisi pertama rubrik tersebut, terbayang di benak Santoso nama Bondet Hardjito, teman kuliahnya yang biasa naik angkutan umum bersamanya saat berangkat kuliah ke kampus. ‘’Beliau tidak sedikit pun marah ke saya,’’ katanya.

Santoso terjun ke dunia jurnalistik sejak 1978 silam dan pensiun pada 2000. Di pengujung purna tugasnya dia sempat terlibat proyek uji coba Jawa Pos cetak koran di luar Surabaya. Kala itu, Santoso ditunjuk membawahi wilayah Madiun Raya sebelum akhirnya lahir Jawa Pos Radar Madiun. ‘’Ya bisa dibilang ada sedikit kontribusi waktu lahirnya Radar Madiun,’’ imbuh mantan ketua PWI Madiun itu.

Bagi Santoso, seorang jurnalis harus memiliki komitmen serta disiplin luar biasa. Pun, tahan banting dan paham betul etika jurnalistik. Baginya, wartawan bukan tukang tulis, melainkan bisa memainkan peran untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (mg7/isd/c1)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Usianya sudah tidak muda lagi. Namun, hasrat berkarya di dunia jurnalistik masih menggebu-gebu dalam benak Santoso. Mantan wartawan dan redaktur Jawa Pos itu masih konsisten menulis di usianya yang telah menginjak 66 tahun.

Hampir setiap hari jari-jari Santoso mengetik berita untuk kemudian dikirim ke media massa. Terbit atau tidak, urusan kesekian bagi ayah dua anak itu. ‘’Saya juga buat media kecil-kecilan sebagai wadah tulisan,’’ kata Santoso, kemarin (9/2).

Pembaca Jawa Pos era 1990-an pasti akrab dengan Bondet, tokoh sentral dalam rubrik Opo Maneh. Kala itu, sosok Bondet begitu populer, terutama di kalangan grassroot (akar rumput). Meski Bondet merupakan tokoh fiktif, kisah dalam Opo Maneh ditulis based on true story alias berdasarkan fakta.

Rubrik Opo Maneh berisi serba-serbi kriminalitas, kisah asmara, dan kehidupan masyarakat yang dikemas dalam bahasa ringan dan ’’nakal’’ khas akar rumput. Siapa sangka, rubrik tersebut berhasil mendongkrak oplah koran Jawa Pos di tingkat eceran. ‘’Saat itu bos saya (Dahlan Iskan, Red) minta ada berita ringan, unik, dan kalau bisa lucu, jangan melulu serius atau berat,’’ kenang Santoso.

Sukses menggawangi rubrik Opo Maneh berbuah apresiasi bagi warga Jalan Turi Indah, Kelurahan Kelun, Kartoharjo, itu. Dalam buku karya Santoso berjudul Bondet (Sisi Hitam Seorang Wartawan) yang diterbitkan 2012 silam, Dahlan Iskan-lah yang menulis prakatanya.

Baca Juga :  Puding Berhias Koin Emas

Selain menggawangi rubrik Opo Maneh, kala itu Santoso didapuk sebagai redaktur wilayah Jawa Timur. Dia bertugas memoles berita-berita kategori indepth news. Tanggung jawab lainnya adalah meng-handle rubrik Kontak Jodoh. ‘’Orang-orang lebih mengenal saya dengan nama Bondet,’’ ungkap suami Herry Siswati itu.

Mengapa memilih nama Bondet sebagai tokoh sentral Opo Maneh? Inspirasinya sederhana. Saat edisi pertama rubrik tersebut, terbayang di benak Santoso nama Bondet Hardjito, teman kuliahnya yang biasa naik angkutan umum bersamanya saat berangkat kuliah ke kampus. ‘’Beliau tidak sedikit pun marah ke saya,’’ katanya.

Santoso terjun ke dunia jurnalistik sejak 1978 silam dan pensiun pada 2000. Di pengujung purna tugasnya dia sempat terlibat proyek uji coba Jawa Pos cetak koran di luar Surabaya. Kala itu, Santoso ditunjuk membawahi wilayah Madiun Raya sebelum akhirnya lahir Jawa Pos Radar Madiun. ‘’Ya bisa dibilang ada sedikit kontribusi waktu lahirnya Radar Madiun,’’ imbuh mantan ketua PWI Madiun itu.

Bagi Santoso, seorang jurnalis harus memiliki komitmen serta disiplin luar biasa. Pun, tahan banting dan paham betul etika jurnalistik. Baginya, wartawan bukan tukang tulis, melainkan bisa memainkan peran untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (mg7/isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/