alexametrics
24.6 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Bertugas di Kota Madiun, AKBP Suryono Usung Sikap SEHAT

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Dalam perjalanan menuju lokasi sebuah kegiatan pagi itu, AKBP Suryono mendadak meminta sopirnya menghentikan laju kendaraan. Dia sedang menggali kenangan masa remajanya saat main ke Kota Madiun 27 tahun silam.

Suryono lantas meminta sang sopir putar balik sambil menghafal arah mata angin dan jalanan kota ini. ‘’Saya tidak asing dengan Kota Madiun karena waktu SMA sering main ke Sri Ratu (nama mal sebelum berganti Lawu Plaza, Red),’’ kenangnya, Kamis (10/3).

Sejatinya Suryono berasal dari Bojonegoro. Namun, selepas SMP memilih melanjutkan studi ke STM 1 Ngawi. Lulus dari STM, dia lantas merantau ke Kalimantan mengikuti pamannya. Pada 1996 Suryono mengikuti seleksi masuk Secaba Polri. ‘’Saat itu pesertanya hanya 371, tidak sebanyak di Jawa,’’ ujarnya.

Singkat cerita, Suryono lolos Sekolah Polisi Negara (SPN). Lulus SPN, dia melanjutkan pendidikan di Akpol dan selesai pada 2003. Setelah itu, ditugaskan di Polda Riau. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan lulus pada 2011. ‘’Waktu itu saya memilih dua lokasi, Jawa Timur dan Kaltim (Kalimantan Timur),’’ ungkapnya. ‘’Syukurlah, saya ditempatkan di Kaltim, tempat merantau saya dulu,’’ imbuhnya.

Suryono dipercaya memegang sejumlah jabatan selama bertugas di Polda Kaltim. Mulai Ps. Kasi Rendal Ops Subdit Binops Dit Polair hingga Kanit Subdit 4 Ditintelkam. Sembari menjalankan aktivitasnya sebagai polisi, kala itu dia mengambil gelar magister di Universitas Mulawarman. Sebelumnya, Suryono sempat menempuh pendidikan di Universitas Bhayangkara, Jakarta Raya. ‘’Saya mendapat predikat cum laude untuk lulusan PTIK,’’ sebutnya.

Dia sempat bertugas di Sulawesi Tengah periode 2017-2019 sebelum akhirnya ditugaskan di Polda Jatim sampai menjabat Kasubdit 1 Ditreskrimsus polda setempat. Banyak kasus besar dan berhasil dipecahkannya kala itu. Di antaranya, pembakaran Polsek Tambelangan, Sampang, hak cipta 17 artis, kosmetik ilegal, dan investasi bodong. ‘’Yang paling berkesan saat menangani kasus pembakaran Polsek Tambelangan dan investasi bodong MeMiles,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Peduli Kesehatan Warga, Penerbit Erlangga Gelar Bakti Sosial

Kala itu Suryono cukup kesulitan melakukan penyelidikan kasus pembakaran Polsek Tambelangan lantaran faktor karakter warga setempat. Pun, harus bekerja ekstra untuk menggali informasi dari saksi. Tak hanya itu, tersangka tidak mengakui perbuatannya meski ada saksi maupun barang buktinya. ‘’Untuk kasus investasi bodong, waktu itu berhasil menyelamatkan uang Rp 256 miliar,’’ tuturnya. ‘’Korbannya ratusan ribu orang,’’ imbuhnya.

Per 24 Februari lalu, Suryono resmi menggantikan AKBP Dewa Putu Eka Darmawan sebagai Kapolres Madiun Kota. Saat apel perdana dengan anggota, dia mengenalkan jargon SEHAT untuk pelayanan penegakan hukum. Yakni, singkatan dari sopan, empati, humanis, amanah, dan tegas. Tujuannya mengubah kesan menakutkan saat masuk kantor polisi. ‘’Kita dahulukan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan yang baik sebelum menegakkan hukum,’’ ujar Suryono.

Di luar aktivitasnya sebagai polisi, bapak dua anak itu biasa menghabiskan waktu senggangnya dengan berolahraga. Hampir setiap pagi dia berlari mengitari Kota Madiun. Suryono juga gemar menulis. Saat ini dia sedang menyiapkan buku berjudul ‘’Anak Gembala yang Menjadi Perwira’’. Buku itu merupakan kisah perjalanan hidupnya sampai menjabat Kapolres Madiun Kota.

‘’Saya ingin memberikan edukasi bahwa siapa pun bisa sukses tanpa harus memandang status keluarga dan menghapus kesan bahwa menjadi polisi itu harus bayar,’’ tutur pria 45 tahun itu. (mg7/isd/c1)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Dalam perjalanan menuju lokasi sebuah kegiatan pagi itu, AKBP Suryono mendadak meminta sopirnya menghentikan laju kendaraan. Dia sedang menggali kenangan masa remajanya saat main ke Kota Madiun 27 tahun silam.

Suryono lantas meminta sang sopir putar balik sambil menghafal arah mata angin dan jalanan kota ini. ‘’Saya tidak asing dengan Kota Madiun karena waktu SMA sering main ke Sri Ratu (nama mal sebelum berganti Lawu Plaza, Red),’’ kenangnya, Kamis (10/3).

Sejatinya Suryono berasal dari Bojonegoro. Namun, selepas SMP memilih melanjutkan studi ke STM 1 Ngawi. Lulus dari STM, dia lantas merantau ke Kalimantan mengikuti pamannya. Pada 1996 Suryono mengikuti seleksi masuk Secaba Polri. ‘’Saat itu pesertanya hanya 371, tidak sebanyak di Jawa,’’ ujarnya.

Singkat cerita, Suryono lolos Sekolah Polisi Negara (SPN). Lulus SPN, dia melanjutkan pendidikan di Akpol dan selesai pada 2003. Setelah itu, ditugaskan di Polda Riau. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan lulus pada 2011. ‘’Waktu itu saya memilih dua lokasi, Jawa Timur dan Kaltim (Kalimantan Timur),’’ ungkapnya. ‘’Syukurlah, saya ditempatkan di Kaltim, tempat merantau saya dulu,’’ imbuhnya.

Suryono dipercaya memegang sejumlah jabatan selama bertugas di Polda Kaltim. Mulai Ps. Kasi Rendal Ops Subdit Binops Dit Polair hingga Kanit Subdit 4 Ditintelkam. Sembari menjalankan aktivitasnya sebagai polisi, kala itu dia mengambil gelar magister di Universitas Mulawarman. Sebelumnya, Suryono sempat menempuh pendidikan di Universitas Bhayangkara, Jakarta Raya. ‘’Saya mendapat predikat cum laude untuk lulusan PTIK,’’ sebutnya.

Dia sempat bertugas di Sulawesi Tengah periode 2017-2019 sebelum akhirnya ditugaskan di Polda Jatim sampai menjabat Kasubdit 1 Ditreskrimsus polda setempat. Banyak kasus besar dan berhasil dipecahkannya kala itu. Di antaranya, pembakaran Polsek Tambelangan, Sampang, hak cipta 17 artis, kosmetik ilegal, dan investasi bodong. ‘’Yang paling berkesan saat menangani kasus pembakaran Polsek Tambelangan dan investasi bodong MeMiles,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kapolres Madiun Kota Rangkul Perguruan Silat Dukung Program Kamtibmas

Kala itu Suryono cukup kesulitan melakukan penyelidikan kasus pembakaran Polsek Tambelangan lantaran faktor karakter warga setempat. Pun, harus bekerja ekstra untuk menggali informasi dari saksi. Tak hanya itu, tersangka tidak mengakui perbuatannya meski ada saksi maupun barang buktinya. ‘’Untuk kasus investasi bodong, waktu itu berhasil menyelamatkan uang Rp 256 miliar,’’ tuturnya. ‘’Korbannya ratusan ribu orang,’’ imbuhnya.

Per 24 Februari lalu, Suryono resmi menggantikan AKBP Dewa Putu Eka Darmawan sebagai Kapolres Madiun Kota. Saat apel perdana dengan anggota, dia mengenalkan jargon SEHAT untuk pelayanan penegakan hukum. Yakni, singkatan dari sopan, empati, humanis, amanah, dan tegas. Tujuannya mengubah kesan menakutkan saat masuk kantor polisi. ‘’Kita dahulukan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan yang baik sebelum menegakkan hukum,’’ ujar Suryono.

Di luar aktivitasnya sebagai polisi, bapak dua anak itu biasa menghabiskan waktu senggangnya dengan berolahraga. Hampir setiap pagi dia berlari mengitari Kota Madiun. Suryono juga gemar menulis. Saat ini dia sedang menyiapkan buku berjudul ‘’Anak Gembala yang Menjadi Perwira’’. Buku itu merupakan kisah perjalanan hidupnya sampai menjabat Kapolres Madiun Kota.

‘’Saya ingin memberikan edukasi bahwa siapa pun bisa sukses tanpa harus memandang status keluarga dan menghapus kesan bahwa menjadi polisi itu harus bayar,’’ tutur pria 45 tahun itu. (mg7/isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/