alexametrics
31.7 C
Madiun
Monday, May 16, 2022

Elya Widi Astuti Konsisten Kembangkan Batik Motif Jaduran

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, ternyata memiliki motif batik khas. Namanya Jaduran. Elya Widi Astuti, perajin batik Desa Candimulyo, konsisten mengembangkan corak tersebut sejak lima tahun lalu. Batik corak Jaduran merupakan perpaduan tekstur kayu jati, durian, dan situs Ngurawan. ‘’Daerah Dolopo sini kan banyak pohon jati dan durian,’’ ujar Ely, sapaan akrab Elya Widi Astuti, Selasa (12/10).

Jaduran dijadikan corak batik khas Dolopo bermula dari lomba motif batik yang digelar pada 2015 silam dan dimenangkan seorang siswa SMP. Kemudian, camat Dolopo kala itu meminta Ely untuk mengembangkannya. ‘’Saya lalu ikut pelatihan. Mulai yang diadakan pemkab sampai mahasiswa ISI Surakarta,’’ ungkapnya.

Proses pembuatan batik tulis harus melalui beberapa tahapan. Dimulai dengan menggambar motif di kertas HVS. Kemudian, diblat di kain putih jenis primisima ukuran 2,25×1,15 meter menggunakan pensil 8-B. Setelah itu, dilukis dengan canting mengikuti pola yang ada. ‘’Lalu, diberi warna jenis remasol,’’ paparnya.

Baca Juga :  Ony Optimistis Sapu Bersih Dukungan

Setelah pewarnaan, kain didiamkan semalaman agar warnanya lebih meresap pada kain. Jika dirasa sudah cukup, dilakukan penguncian dengan waterglass. Kemudian, didiamkan semalaman dengan cara dijeber. ‘’Finishing-nya dicelup-celupkan di air mendidih sampai sisa-sisa malamnya hilang,’’ beber Ely.

Kain batik buatan Ely kini sudah melanglang buana di pasar domestik maupun mancanegara seperti Kanada, Qatar, Taiwan, dan Prancis. Sedangkan banderol harganya mulai Rp 150 ribu hingga Rp 1,3 juta per lembar. ‘’Saya juga terima pesanan dalam bentuk baju, jaket, syal, selendang, dan sebagainya sesuai permintaan konsumen,’’ ujarnya. (tr1/c1/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, ternyata memiliki motif batik khas. Namanya Jaduran. Elya Widi Astuti, perajin batik Desa Candimulyo, konsisten mengembangkan corak tersebut sejak lima tahun lalu. Batik corak Jaduran merupakan perpaduan tekstur kayu jati, durian, dan situs Ngurawan. ‘’Daerah Dolopo sini kan banyak pohon jati dan durian,’’ ujar Ely, sapaan akrab Elya Widi Astuti, Selasa (12/10).

Jaduran dijadikan corak batik khas Dolopo bermula dari lomba motif batik yang digelar pada 2015 silam dan dimenangkan seorang siswa SMP. Kemudian, camat Dolopo kala itu meminta Ely untuk mengembangkannya. ‘’Saya lalu ikut pelatihan. Mulai yang diadakan pemkab sampai mahasiswa ISI Surakarta,’’ ungkapnya.

Proses pembuatan batik tulis harus melalui beberapa tahapan. Dimulai dengan menggambar motif di kertas HVS. Kemudian, diblat di kain putih jenis primisima ukuran 2,25×1,15 meter menggunakan pensil 8-B. Setelah itu, dilukis dengan canting mengikuti pola yang ada. ‘’Lalu, diberi warna jenis remasol,’’ paparnya.

Baca Juga :  Agus Mushoffa Izzuddin Akrab dengan Dunia Pesantren sejak Belia

Setelah pewarnaan, kain didiamkan semalaman agar warnanya lebih meresap pada kain. Jika dirasa sudah cukup, dilakukan penguncian dengan waterglass. Kemudian, didiamkan semalaman dengan cara dijeber. ‘’Finishing-nya dicelup-celupkan di air mendidih sampai sisa-sisa malamnya hilang,’’ beber Ely.

Kain batik buatan Ely kini sudah melanglang buana di pasar domestik maupun mancanegara seperti Kanada, Qatar, Taiwan, dan Prancis. Sedangkan banderol harganya mulai Rp 150 ribu hingga Rp 1,3 juta per lembar. ‘’Saya juga terima pesanan dalam bentuk baju, jaket, syal, selendang, dan sebagainya sesuai permintaan konsumen,’’ ujarnya. (tr1/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/