alexametrics
24.6 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Konsistensi Sukeni Entertainment Produksi Video Komedi

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kreativitas anak muda di Pacitan seakan tiada habisnya. Hanya bermodalkan kamera smartphone, sekumpulan anak muda sukses membuat konten komedi yang mengocok perut netizen. Channel YouTube yang dibuat Sukeni Entertainment telah diikuti 5 ribu penggemar.

Grup banyolan ini tercetus sejak dua tahun silam. Kala itu, Deni Setyawan dan beberapa temannya gabut tak ada kegiatan selama pandemi. Sehari-hari hanya nongkrong sana nongkrong sini. Singkat cerita, muncul ide membuat kanal YouTube bisnis untuk menyalurkan hobi. Apesnya, beberapa kali mengunggah video selalu minim apresiasi.

‘’Lalu ada yang usul diganti tema dagelan. Awalnya ragu karena tidak satu pun punya basic itu, tapi kami nekat mencoba,’’ kata Deni Setyawan, salah seorang pendiri Sukeni Entertainment, Minggu (13/3).

Enam bulan mengorganisasi channel menjadi waktu paling berat. Selain minim ide, dari tujuh anggotanya mayoritas sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak jarang warga lingkungan Barean, Sidoharjo, Pacitan, itu mengibuli sesama anggotanya agar menyempatkan waktu untuk ngumpul bareng.

‘’Saya ajak nongkrong, padahal mau diajak bikin video. Pernah teman-teman itu saya ajak jam delapan pagi, kumpulnya baru jam tiga sore,’’ ungkapnya.

Selain berpacu dengan kesibukan, casting dan akting pun sempat menjadi ganjalan. Maklum, dari rekan tongkrongannya tak satu pun yang memiliki latar pengalaman seni pertunjukan. Bahkan, beberapa kali take video mesti diulang lantaran pemain salah pelafalan hingga lupa skrip. Juga, sempat gonta-ganti talent. ‘’Kalau sekarang sekali take sudah lancar. Kalau baru gabung, paling lima-enam kali take gambar baru jadi,’’ papar Deni.

Baca Juga :  Dedikasi Eko Setiono pada Kelompok Barongsai TITD Hwie Ing Kiong

Satu video yang diproduksi rata-rata berdurasi 15 hingga 20 menit. Cukup pendek, namun butuh lebih dari enam jam untuk pengambilan gambarnya. Meski berat, Deni dkk konsisten berkarya dan memperketat jadwal produksi. Setiap pekan, satu video wajib diunggah ke kanal YouTube-nya. Selama dua tahun terakhir ini, baru satu kali absen unggah rekaman.

‘’Senin cari lokasi syuting, Selasa buat skrip, Rabu cari kostum, Jumat pendalaman karakter, Minggu ambil gambar. Urutannya begitu setiap pekannya,’’ jelas sarjana pendidikan olahraga STKIP Pacitan tersebut.

Buah kerja keras Deni dkk mulai menunjukkan hasil. Saban unggahan, empat hingga lima ribu penonton selalu terpingkal menyaksikan kekocakan mereka. Agar tak kalah saing, mereka sengaja membuat konsep berbeda dengan memasukkan dagelan berbeda di setiap scene. Meski tak miliki timeline utama, terpenting lucu dan berhasil membuat penonton tertawa.  ‘’Yang penting ada banyolannya,’’ pungkas Deni. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Kreativitas anak muda di Pacitan seakan tiada habisnya. Hanya bermodalkan kamera smartphone, sekumpulan anak muda sukses membuat konten komedi yang mengocok perut netizen. Channel YouTube yang dibuat Sukeni Entertainment telah diikuti 5 ribu penggemar.

Grup banyolan ini tercetus sejak dua tahun silam. Kala itu, Deni Setyawan dan beberapa temannya gabut tak ada kegiatan selama pandemi. Sehari-hari hanya nongkrong sana nongkrong sini. Singkat cerita, muncul ide membuat kanal YouTube bisnis untuk menyalurkan hobi. Apesnya, beberapa kali mengunggah video selalu minim apresiasi.

‘’Lalu ada yang usul diganti tema dagelan. Awalnya ragu karena tidak satu pun punya basic itu, tapi kami nekat mencoba,’’ kata Deni Setyawan, salah seorang pendiri Sukeni Entertainment, Minggu (13/3).

Enam bulan mengorganisasi channel menjadi waktu paling berat. Selain minim ide, dari tujuh anggotanya mayoritas sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak jarang warga lingkungan Barean, Sidoharjo, Pacitan, itu mengibuli sesama anggotanya agar menyempatkan waktu untuk ngumpul bareng.

‘’Saya ajak nongkrong, padahal mau diajak bikin video. Pernah teman-teman itu saya ajak jam delapan pagi, kumpulnya baru jam tiga sore,’’ ungkapnya.

Selain berpacu dengan kesibukan, casting dan akting pun sempat menjadi ganjalan. Maklum, dari rekan tongkrongannya tak satu pun yang memiliki latar pengalaman seni pertunjukan. Bahkan, beberapa kali take video mesti diulang lantaran pemain salah pelafalan hingga lupa skrip. Juga, sempat gonta-ganti talent. ‘’Kalau sekarang sekali take sudah lancar. Kalau baru gabung, paling lima-enam kali take gambar baru jadi,’’ papar Deni.

Baca Juga :  Perspa Tak Gentar Hadapi Persiga Trenggalek

Satu video yang diproduksi rata-rata berdurasi 15 hingga 20 menit. Cukup pendek, namun butuh lebih dari enam jam untuk pengambilan gambarnya. Meski berat, Deni dkk konsisten berkarya dan memperketat jadwal produksi. Setiap pekan, satu video wajib diunggah ke kanal YouTube-nya. Selama dua tahun terakhir ini, baru satu kali absen unggah rekaman.

‘’Senin cari lokasi syuting, Selasa buat skrip, Rabu cari kostum, Jumat pendalaman karakter, Minggu ambil gambar. Urutannya begitu setiap pekannya,’’ jelas sarjana pendidikan olahraga STKIP Pacitan tersebut.

Buah kerja keras Deni dkk mulai menunjukkan hasil. Saban unggahan, empat hingga lima ribu penonton selalu terpingkal menyaksikan kekocakan mereka. Agar tak kalah saing, mereka sengaja membuat konsep berbeda dengan memasukkan dagelan berbeda di setiap scene. Meski tak miliki timeline utama, terpenting lucu dan berhasil membuat penonton tertawa.  ‘’Yang penting ada banyolannya,’’ pungkas Deni. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/