alexametrics
30.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Kalapas I Madiun Kunrat Kasmiri Prioritaskan Pendekatan Emosional kepada Napi

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sudah lebih dari tiga dekade, rutinitas sehari-hari Kunrat Kasmiri tak jauh dari penanganan warga binaan (wabin). Sejak 1987 silam, pria kelahiran Bandung itu bekerja di bidang pemasyarakatan. ‘’Awalnya tidak ada keinginan kerja di lapas (lembaga pemasyarakatan). Siapa yang bercita-cita jadi pegawai penjara. Tapi, mungkin sudah takdir saya akhirnya mengabdi di lapas. Semua saya syukuri,’’ kata kepala Lapas Kelas I Madiun itu, Rabu (15/6).

Kunrat bekerja di bidang pemasyarakatan setelah lulus SMA. Tiga tahun berselang, dia menempuh pendidikan di Akademi Ilmu Pemasyarakatan hingga lulus pada 1993. Kunrat juga sempat kuliah di STIA LAN Bandung.  Kemudian, dia ditugaskan sebagai staf hingga menjabat kepala keamanan Lapas Kelas II-A Banceuy, Bandung.

Kunrat bertugas di Lapas Kelas II-A Banceuy selama 18 tahun sebelum akhirnya dipindah ke Pandeglang sebagai kepala rutan setempat. Di tahun yang sama dia melanjutkan pendidikan magister di STIA LAN Bandung dan lulus pada 2006.

Setelah itu, Kunrat ditunjuk sebagai kepala Lapas Narkotika Kelas II-A Tanjungpinang. Tiga tahun kemudian menjabat kepala Bidang Pembinaan Kantor Wilayah Kemenkum-HAM Kepulauan Riau hingga akhirnya menjabat kepala Lapas Kelas I Madiun tahun ini.

Baca Juga :  Cara Sutejo Bimbing Penulis Muda hingga Matang Berkarya

Pria 56 tahun itu menilai Lapas Kelas I Madiun tidak jauh berbeda dengan lapas-lapas lainnya. Pun, dituntut mampu menangani wabin. Termasuk mengendalikan kerusuhan antarwabin. ‘’Bagaimana menyusun strategi meminimalkan atau mencegah kerusuhan dengan keterbatasan yang ada. Bukan hal yang mudah, tapi bukan juga hal yang tidak bisa dilakukan,’’ tuturnya.

Bagi Kunrat, lapas tak jauh dari masalah karena merupakan tempat orang yang bermasalah. Wabin yang mau mendengar serta menaati aturan merupakan hal berkesan baginya. ‘’Kota Madiun situasinya lebih kondusif. Masyarakatnya memiliki toleransi yang tinggi,’’ sebut ayah dua anak itu.

Penanganan wabin tidak melulu dengan kekerasan. Pendekatan emosional serta berbaur akrab dengan mereka adalah langkah strategis yang dilakukan Kunrat. ‘’Bagaimana kami bisa membuat wabin menjadi lebih baik dan dapat segera berbaur dengan masyarakat lain,’’ tuturnya. *** (ggi/isd/c1)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sudah lebih dari tiga dekade, rutinitas sehari-hari Kunrat Kasmiri tak jauh dari penanganan warga binaan (wabin). Sejak 1987 silam, pria kelahiran Bandung itu bekerja di bidang pemasyarakatan. ‘’Awalnya tidak ada keinginan kerja di lapas (lembaga pemasyarakatan). Siapa yang bercita-cita jadi pegawai penjara. Tapi, mungkin sudah takdir saya akhirnya mengabdi di lapas. Semua saya syukuri,’’ kata kepala Lapas Kelas I Madiun itu, Rabu (15/6).

Kunrat bekerja di bidang pemasyarakatan setelah lulus SMA. Tiga tahun berselang, dia menempuh pendidikan di Akademi Ilmu Pemasyarakatan hingga lulus pada 1993. Kunrat juga sempat kuliah di STIA LAN Bandung.  Kemudian, dia ditugaskan sebagai staf hingga menjabat kepala keamanan Lapas Kelas II-A Banceuy, Bandung.

Kunrat bertugas di Lapas Kelas II-A Banceuy selama 18 tahun sebelum akhirnya dipindah ke Pandeglang sebagai kepala rutan setempat. Di tahun yang sama dia melanjutkan pendidikan magister di STIA LAN Bandung dan lulus pada 2006.

Setelah itu, Kunrat ditunjuk sebagai kepala Lapas Narkotika Kelas II-A Tanjungpinang. Tiga tahun kemudian menjabat kepala Bidang Pembinaan Kantor Wilayah Kemenkum-HAM Kepulauan Riau hingga akhirnya menjabat kepala Lapas Kelas I Madiun tahun ini.

Baca Juga :  Bangga Dipoles Pelatih Vokal Papan Atas Indra Aziz

Pria 56 tahun itu menilai Lapas Kelas I Madiun tidak jauh berbeda dengan lapas-lapas lainnya. Pun, dituntut mampu menangani wabin. Termasuk mengendalikan kerusuhan antarwabin. ‘’Bagaimana menyusun strategi meminimalkan atau mencegah kerusuhan dengan keterbatasan yang ada. Bukan hal yang mudah, tapi bukan juga hal yang tidak bisa dilakukan,’’ tuturnya.

Bagi Kunrat, lapas tak jauh dari masalah karena merupakan tempat orang yang bermasalah. Wabin yang mau mendengar serta menaati aturan merupakan hal berkesan baginya. ‘’Kota Madiun situasinya lebih kondusif. Masyarakatnya memiliki toleransi yang tinggi,’’ sebut ayah dua anak itu.

Penanganan wabin tidak melulu dengan kekerasan. Pendekatan emosional serta berbaur akrab dengan mereka adalah langkah strategis yang dilakukan Kunrat. ‘’Bagaimana kami bisa membuat wabin menjadi lebih baik dan dapat segera berbaur dengan masyarakat lain,’’ tuturnya. *** (ggi/isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru