alexametrics
27.8 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

Yoen Ayomi, Desainer Kebaya Modern Asal Magetan

Bagi ibu dua anak ini, kebaya harus mengikuti perkembangan dunia fashion. Modelnya modern tanpa menghilangkan unsur Jawa. Pemesan kebaya buatannya datang dari kalangan penyanyi.

FATIHAH IBNU FIQRI, Jawa Pos Radar Magetan

SEBUAH kebaya yang tergantung di etalase ruang tamu rumah perempuan 40 tahun itu terlihat elegan. Atasan pakaian blus tradisional dari kain tule itu berhiaskan manik-manik. Dikombinasikan bordir motif bunga warna merah dan emas.

Bagian bawahnya tidak kalah anggun dengan bahan kain brokat berwarna hitam legam. ‘’Kebaya ini sempat ikut pameran wedding exhibition di Kota Madiun beberapa waktu lalu,’’ kata Yoen Ayomi, perancang pakaian adat Jawa itu.

Ayomi dikenal sebagai desainer kebaya modern di tempat tinggalnya KPR Magetan Indah, Purwosari, Magetan. Pemesannya bukan hanya masyarakat umum, melainkan juga penyanyi asal Jakarta dan Surabaya. Bahkan, dipesan oleh warga Jepang yang menikah dengan orang Indonesia.

Dia memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memasarkan produk dan menggaet pemesan. ‘’Ada 10 karyawan yang membantu mengerjakan pesanan,’’ ujarnya.

Ayomi bukan lulusan desain grafis atau memiliki latar belakang pendidikan tata busana. Kemampuan menjahit juga tidak dipelajari lewat kursus. ‘’Saya belajar otodidak sejak 2010,’’ ungkapnya sembari menyebut karyawannya yang malah dikursuskan menjahit.

Baca Juga :  Ratusan Pencinta VW Madiun Raya Bersatu di MVC

Momen Ayomi menjadi desainer kebaya bisa dibilang karena ketidaksengajaan. Sepuluh tahun lalu, dia sedih melihat koleksi kebayanya rusak. Modelnya juga banyak yang jadul. Tidak ingin dibuang sia-sia, dia memodifikasinya dengan bantuan jasa tukang jahit langganannya. Modelnya modern tanpa menghilangkan unsur Jawa-nya. ‘’Karena hasilnya lumayan bagus, teman-teman jadi ingin bajunya dioprek,’’ jelasnya.

Ketika pesanan mulai berdatangan, Ayomi menghadapi situasi sulit. Penjahit yang biasa dimintai tolong harus menyelesaikan orderan orang lain. Khawatir pesanan sejawatnya tidak rampung, dia nekat membeli mesin jahit manual. ‘’Lalu, saya mengajak tetangga yang butuh pekerjaan untuk membantu,’’ ucap ibu dua anak itu sembari menyebut proses pembuatan rata-rata butuh waktu tiga bulan.

Ayomi tidak mematok harga pasti. Dia menyesuaikan bujet pemesan. Walau diakuinya harga berbanding luruh terhadap kualitas. ‘’Meski bujet tidak besar, saya tetap membuat kebaya yang nyaman dipakai dengan manik harga terjangkau agar kebaya terlihat elegan,’’ tuturnya. *(cor/c1)

Bagi ibu dua anak ini, kebaya harus mengikuti perkembangan dunia fashion. Modelnya modern tanpa menghilangkan unsur Jawa. Pemesan kebaya buatannya datang dari kalangan penyanyi.

FATIHAH IBNU FIQRI, Jawa Pos Radar Magetan

SEBUAH kebaya yang tergantung di etalase ruang tamu rumah perempuan 40 tahun itu terlihat elegan. Atasan pakaian blus tradisional dari kain tule itu berhiaskan manik-manik. Dikombinasikan bordir motif bunga warna merah dan emas.

Bagian bawahnya tidak kalah anggun dengan bahan kain brokat berwarna hitam legam. ‘’Kebaya ini sempat ikut pameran wedding exhibition di Kota Madiun beberapa waktu lalu,’’ kata Yoen Ayomi, perancang pakaian adat Jawa itu.

Ayomi dikenal sebagai desainer kebaya modern di tempat tinggalnya KPR Magetan Indah, Purwosari, Magetan. Pemesannya bukan hanya masyarakat umum, melainkan juga penyanyi asal Jakarta dan Surabaya. Bahkan, dipesan oleh warga Jepang yang menikah dengan orang Indonesia.

Dia memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memasarkan produk dan menggaet pemesan. ‘’Ada 10 karyawan yang membantu mengerjakan pesanan,’’ ujarnya.

Ayomi bukan lulusan desain grafis atau memiliki latar belakang pendidikan tata busana. Kemampuan menjahit juga tidak dipelajari lewat kursus. ‘’Saya belajar otodidak sejak 2010,’’ ungkapnya sembari menyebut karyawannya yang malah dikursuskan menjahit.

Baca Juga :  Usung Game Ouzi The Healer, Dua Pelajar SMA Ini Menangi Kompetisi se-Asia Tenggara

Momen Ayomi menjadi desainer kebaya bisa dibilang karena ketidaksengajaan. Sepuluh tahun lalu, dia sedih melihat koleksi kebayanya rusak. Modelnya juga banyak yang jadul. Tidak ingin dibuang sia-sia, dia memodifikasinya dengan bantuan jasa tukang jahit langganannya. Modelnya modern tanpa menghilangkan unsur Jawa-nya. ‘’Karena hasilnya lumayan bagus, teman-teman jadi ingin bajunya dioprek,’’ jelasnya.

Ketika pesanan mulai berdatangan, Ayomi menghadapi situasi sulit. Penjahit yang biasa dimintai tolong harus menyelesaikan orderan orang lain. Khawatir pesanan sejawatnya tidak rampung, dia nekat membeli mesin jahit manual. ‘’Lalu, saya mengajak tetangga yang butuh pekerjaan untuk membantu,’’ ucap ibu dua anak itu sembari menyebut proses pembuatan rata-rata butuh waktu tiga bulan.

Ayomi tidak mematok harga pasti. Dia menyesuaikan bujet pemesan. Walau diakuinya harga berbanding luruh terhadap kualitas. ‘’Meski bujet tidak besar, saya tetap membuat kebaya yang nyaman dipakai dengan manik harga terjangkau agar kebaya terlihat elegan,’’ tuturnya. *(cor/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/