alexametrics
23 C
Madiun
Thursday, July 7, 2022

Reparasi Alas Kaki Jalanan di Ponorogo Eksis sampai Sekarang

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Payung besar tak seberapa tinggi dengan warna mencolok itu menjadi tempat mangkal sehari-hari. Duduk di bawahnya sembari berlindung dari panas dan hujan, Juprianto mengerjakan beberapa sandal milik pelanggan.

Dia menekuni jasa reparasi alas kaki sejak anak pertamanya duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) hingga kini telah mancik SMA kelas XI. ‘’Awalnya saya bantu saudara membuat ikat pinggang dengan menjahit tangan. Dengan kemampuan itu, saya akhirnya memutuskan buka jasa sol ini,” katanya, Selasa (17/5).

Jupri –sapaan akrab Juprianto– bukan tukang sol pertama. Pria berusia 50 tahun itu bercerita bahwa jasa sol sepatu di jalan yang kini paling ramai di Ponorogo itu sudah ada sejak dirinya masih kecil. Kini, tak kurang dari 12 tukang sol sandal dan sepatu yang tetap eksis sampai sekarang.

Soal tarifnya relatif tak ada kenaikan. Tak jarang Jupri tak mematok tarif khusus sehingga upahnya sesuka hati pelanggan. Hanya berkisar Rp 10 ribu-Rp 20 ribuan. ”Nggak berani naikkan tarif, takut kehilangan pelanggan,” ujar pria asal Nambangrejo, Sukorejo, itu.

Baca Juga :  Libur Nataru, Konsumsi BBM Warga Ponorogo Melonjak

Tarif paling murah biasanya untuk jasa pengeleman. Prosesnya juga tidak makan waktu lama. Beda dengan jasa penggantian sol yang relatif lebih lama. ”Kalau ganti sol harus diratakan dengan dikerok terlebih dahulu,” tuturnya.

Kualitas garapan Jupri tak perlu diragukan lagi. Pengalamannya 14 tahun terakhir membuat kualitas jahitannya rapi seperti buatan pabrik. ”Alhamdulillah saya sudah punya pelanggan hingga Madiun dan Magetan,” ungkapnya.

Ramadan kemarin bapak dua anak itu mendapatkan orderan menjahit sandal 500 pasang dari sebuah toko di Parang, Magetan. Orderan tersebut dikerjakannya sendiri di rumahnya mulai puasa 11 hari hingga Lebaran kurang empat hari. Setiap harinya Jupri lembur mulai pukul 09.00-02.00. ‘’Alhamdulillah sampai kini masih diberi rezeki,’’ pungkasnya. *** (fac/fin/c1)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Payung besar tak seberapa tinggi dengan warna mencolok itu menjadi tempat mangkal sehari-hari. Duduk di bawahnya sembari berlindung dari panas dan hujan, Juprianto mengerjakan beberapa sandal milik pelanggan.

Dia menekuni jasa reparasi alas kaki sejak anak pertamanya duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) hingga kini telah mancik SMA kelas XI. ‘’Awalnya saya bantu saudara membuat ikat pinggang dengan menjahit tangan. Dengan kemampuan itu, saya akhirnya memutuskan buka jasa sol ini,” katanya, Selasa (17/5).

Jupri –sapaan akrab Juprianto– bukan tukang sol pertama. Pria berusia 50 tahun itu bercerita bahwa jasa sol sepatu di jalan yang kini paling ramai di Ponorogo itu sudah ada sejak dirinya masih kecil. Kini, tak kurang dari 12 tukang sol sandal dan sepatu yang tetap eksis sampai sekarang.

Soal tarifnya relatif tak ada kenaikan. Tak jarang Jupri tak mematok tarif khusus sehingga upahnya sesuka hati pelanggan. Hanya berkisar Rp 10 ribu-Rp 20 ribuan. ”Nggak berani naikkan tarif, takut kehilangan pelanggan,” ujar pria asal Nambangrejo, Sukorejo, itu.

Baca Juga :  Libur Nataru, Konsumsi BBM Warga Ponorogo Melonjak

Tarif paling murah biasanya untuk jasa pengeleman. Prosesnya juga tidak makan waktu lama. Beda dengan jasa penggantian sol yang relatif lebih lama. ”Kalau ganti sol harus diratakan dengan dikerok terlebih dahulu,” tuturnya.

Kualitas garapan Jupri tak perlu diragukan lagi. Pengalamannya 14 tahun terakhir membuat kualitas jahitannya rapi seperti buatan pabrik. ”Alhamdulillah saya sudah punya pelanggan hingga Madiun dan Magetan,” ungkapnya.

Ramadan kemarin bapak dua anak itu mendapatkan orderan menjahit sandal 500 pasang dari sebuah toko di Parang, Magetan. Orderan tersebut dikerjakannya sendiri di rumahnya mulai puasa 11 hari hingga Lebaran kurang empat hari. Setiap harinya Jupri lembur mulai pukul 09.00-02.00. ‘’Alhamdulillah sampai kini masih diberi rezeki,’’ pungkasnya. *** (fac/fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/