27.6 C
Madiun
Saturday, December 10, 2022

Mbah Mamik, Tiga Belas Tahun Produksi Garuda Pancasila

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Sekarang ini sudah jarang dijumpai Garuda Pancasila dipajang di dinding rumah warga. Turunnya semangat patriotisme itu membuat Mbah Mamik Bambang Sutejo prihatin. Sekaligus memotivasinya untuk terus memproduksi lambang negara dari stirofoam.

————————————-

TUMPUKAN stirofoam bekas menyambut setiap tamu yang datang ke rumah Mbah Mamik di Lingkungan Gemulung.  Itu bukan sembarang limbah, melainkan kerajinan buah tangan mantan kepala Desa Tanjungsari, Pacitan, tersebut. Tiga belas tahun sudah, kakek 12 cucu itu menekuni kerajinan tangan ini. Berawal dari hobinya sejak kecil, lambat laun tergerak membuat karya seni bernilai. ‘’Limbah stirofoam kalau dibuang sulit terurai dan mencemari lingkungan. Setelah purnatugas Kades, saya tertarik memanfaatkannya sebagai bahan baku kerajinan,’’ terangnya.

Kakek 72 tahun itu tergerak membuat kerajinan Garuda Pancasila karena prihatin dengan minimnya semangat patriotisme warga. Dia mulai jarang menjumpai lambang negara tersebut dipajang sebagai hiasan dinding di rumah. ‘’Hari kemerdekaan ini jadi momen yang pas untuk memupuk kembali semangat patriotisme kita,’’ tuturnya.

Bagi Mbah Mamik, membuat Burung Garuda berbahan stirofoam bukan perkara sulit. Mulai memotong bahan yang telah terpola, satu per satu bagian tubuh garuda itu dipotong menggunakan peralatan khusus. Seperti solder hingga penggunting mini buatan sendiri. Sabar dan telaten menjadi kunci pembuatan karyanya. Butuh waktu lama untuk merekatkan bagian-bagian detailnya. Pemasangannya tidak boleh asal-asalan. ‘’Karena ini lambang negara, jadi nggak boleh asal-asalan. Jumlahnya harus sesuai undang-undang, juga presisi agar enak dipandang,’’ tegasnya sembari menyebut stirofoam bekas didapatnya dari nelayan dan pedagang buah.

Baca Juga :  Pasien Korona dari Luar Pacitan Terus Bertambah

Meski terbilang rumit, Mbah Mamik tak mematok harga mahal untuk setiap karyanya. Ukuran 50 sentimeter dihargainya Rp 150 ribu, sedangkan 1 meter dibanderol Rp 350 ribu.  Terkadang nilai jual menyesuaikan kesepakatan dengan pembeli. ‘’Terjual sampai ke beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Juga pernah saya berikan kepada sejumah pejabat negara,’’ terangnya seraya menyebut Menparekraf Sandiaga Uno.

HUT ke-77 RI ini, Mbah Mamik berharap rasa cinta tanah air tetap terpelihara di kalangan generasi penerus bangsa. Meski hanya sebatas membuat kerajinan, dirinya ingin menjadi bagian dari upaya merawat semangat patriotisme. *** (gen/fin/c1)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Sekarang ini sudah jarang dijumpai Garuda Pancasila dipajang di dinding rumah warga. Turunnya semangat patriotisme itu membuat Mbah Mamik Bambang Sutejo prihatin. Sekaligus memotivasinya untuk terus memproduksi lambang negara dari stirofoam.

————————————-

TUMPUKAN stirofoam bekas menyambut setiap tamu yang datang ke rumah Mbah Mamik di Lingkungan Gemulung.  Itu bukan sembarang limbah, melainkan kerajinan buah tangan mantan kepala Desa Tanjungsari, Pacitan, tersebut. Tiga belas tahun sudah, kakek 12 cucu itu menekuni kerajinan tangan ini. Berawal dari hobinya sejak kecil, lambat laun tergerak membuat karya seni bernilai. ‘’Limbah stirofoam kalau dibuang sulit terurai dan mencemari lingkungan. Setelah purnatugas Kades, saya tertarik memanfaatkannya sebagai bahan baku kerajinan,’’ terangnya.

Kakek 72 tahun itu tergerak membuat kerajinan Garuda Pancasila karena prihatin dengan minimnya semangat patriotisme warga. Dia mulai jarang menjumpai lambang negara tersebut dipajang sebagai hiasan dinding di rumah. ‘’Hari kemerdekaan ini jadi momen yang pas untuk memupuk kembali semangat patriotisme kita,’’ tuturnya.

Bagi Mbah Mamik, membuat Burung Garuda berbahan stirofoam bukan perkara sulit. Mulai memotong bahan yang telah terpola, satu per satu bagian tubuh garuda itu dipotong menggunakan peralatan khusus. Seperti solder hingga penggunting mini buatan sendiri. Sabar dan telaten menjadi kunci pembuatan karyanya. Butuh waktu lama untuk merekatkan bagian-bagian detailnya. Pemasangannya tidak boleh asal-asalan. ‘’Karena ini lambang negara, jadi nggak boleh asal-asalan. Jumlahnya harus sesuai undang-undang, juga presisi agar enak dipandang,’’ tegasnya sembari menyebut stirofoam bekas didapatnya dari nelayan dan pedagang buah.

Baca Juga :  Hidup Sehat tanpa Narkoba

Meski terbilang rumit, Mbah Mamik tak mematok harga mahal untuk setiap karyanya. Ukuran 50 sentimeter dihargainya Rp 150 ribu, sedangkan 1 meter dibanderol Rp 350 ribu.  Terkadang nilai jual menyesuaikan kesepakatan dengan pembeli. ‘’Terjual sampai ke beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Juga pernah saya berikan kepada sejumah pejabat negara,’’ terangnya seraya menyebut Menparekraf Sandiaga Uno.

HUT ke-77 RI ini, Mbah Mamik berharap rasa cinta tanah air tetap terpelihara di kalangan generasi penerus bangsa. Meski hanya sebatas membuat kerajinan, dirinya ingin menjadi bagian dari upaya merawat semangat patriotisme. *** (gen/fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/