alexametrics
26.8 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Sihman Hadi Soemarto, Pemimpin Laskar Hizbullah Ponorogo

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kemerdekaan Indonesia ke-77 tahun ini menekankan optimisme bangkit dari segala situasi. Sihman Hadi Soemarto turut mempertaruhkan nyawa melawan penjajah Belanda di Surabaya. Dialah pejuang pra kemerdekaan dari Bumi Reog.

——————————-

FOTO tertata rapi di rumah Sihman Hadi Soemarto. Menampilkan perjalanannya menjadi pejuang hingga veteran. Seperti foto saat dirinya menghadiri Konferensi Kawedanan Ponorogo tanggal 1 Januari 1953 di pendapa yang dihadiri oleh Bupati R. Moehamad Mangoendipradja. Beberapa piagam penghargaan selama menjadi tokoh pejuang kemerdekaan juga terpasang rapi di dinding kediamannya di Kelurahan Kauman.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Kalimat takbir yang selalu diucapkan Sihman dan 60 anggota Laskar Hizbullah Ponorogo saat Belanda menyerbu mereka di malam hari. Hanya berbekal keyakinan ‘mati tertembak akan masuk surga’ yang dijadikannya kekuatan saat berdiri di medan pertempuran. ‘’Kami saat itu hanya memakai pakaian seadanya,’’ kenangnya.

Sihman bergabung dalam barisan Hizbullah dalam usia yang masih cukup belia, 17 tahun. Saat itu dia menjadi laskar termuda. Namun, keahlian dan semangatnya tidak kalah dengan anggota lainnya. Hal tersebut yang membuatnya dipilih menjadi pemimpin Laskar Hizbullah Ponorogo. ‘’Saya saat itu memimpin empat wilayah. Meliputi Tambakbayan, Brotonegaran, Kauman (Kota), dan Paju,’’ tutur suami Nur Jannah itu.

Sebelum Sihman dan Laskar Hizbullah dikirim ke Surabaya dalam pertempuran melawan Belanda 1946 silam, mereka dilatih terlebih dahulu di Batalion Yudo (sekarang Kodim 0802 Ponorogo) di bawah komando Mayor Jenderal TNI Suprapto Sukowati. Mereka diajarkan menggunakan senjata, penyamaran, dan taktik perang gerilya. ‘’Setiap hari menggelar latihan di lapangan Desa Brotonegaran,’’ ujar kakek 13 cucu dan 13 cicit itu.

Masih teringat jelas dalam benak Sihman saat Mayor Jenderal TNI Suprapto Sukowati menepuk pundaknya dan berkata, ‘’Kamu masih kecil kok sudah berani, hati-hati ya.’’ Kalimat tersebut justru membuatnya tak gentar dalam menghadapi peperangan kala itu. Karena dia termasuk yang paling kecil, dia diletakkan di posisi paling depan.

Baca Juga :  Jajanan Ice Smoke Memercikkan Api, Seorang Bocah di Ponorogo Alami Luka Bakar

Setelah melakukan latihan di batalion, mereka ditugaskan ke Surabaya dengan mengendarai kereta. Kereta itu mengangkut pasukan-pasukan dari berbagai kelompok di Ponorogo. Ketika mereka memasuki daerah Pagotan, terdengar suara tembakan dari berbagai arah. Suara itu berasal dari senapan tentara Belanda yang melakukan pencegatan. ‘’Di Pagotan kereta kami ditembaki secara beruntun. Alhamdulillah, pelurunya tidak mengenai kereta, hanya mengenai pohon,’’ urai kakek 96 tahun tersebut.

Tak hanya mendapat pencegatan saat perjalanan, setibanya di Surabaya Sihman juga mengalami situasi menegangkan. Dentuman bom dan tembakan kala itu menewaskan salah satu anggota Laskar Hizbullah. Bahkan, helm yang digunakannya untuk perang terserempet timah panas. ‘’Alhamdulillah, saya masih diberi keselamatan. Peluru itu hanya menyerempet helm saya,’’ ucapnya.

Setahun kemudian, mereka melanjutkan perang di Semarang. Saat di Semarang pada 1947 silam itu, Sihman harus bersembunyi  dan tinggal di atas gunung yang bawahnya langsung sungai. Salah melangkah bisa celaka. Satu bulan di sana harus bertahan menghadapi gempuran tentara Belanda. Bahkan, mereka sempat menahan haus dan lapar. Saat malam hari harus melakukan gerilya. ‘’Saat menyelinap ke dalam hutan, lalu melihat sinar lampu dari Belanda, saya langsung berteriak tengkurap,’’ imbuhnya.

Setelah melakukan peperangan di Semarang, Sihman dikirim pulang dan kembali memulai perjuangannya dalam gerakan G30S tahun 1965 silam. Saat itu dia sudah menjadi pegawai urusan agama. Setelah itu, dia diangkat menjadi lurah Kauman pada 1950. ‘’Anak muda zaman sekarang harus kuat, maju, dan cerdas,’’ pesannya. (mg2/kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kemerdekaan Indonesia ke-77 tahun ini menekankan optimisme bangkit dari segala situasi. Sihman Hadi Soemarto turut mempertaruhkan nyawa melawan penjajah Belanda di Surabaya. Dialah pejuang pra kemerdekaan dari Bumi Reog.

——————————-

FOTO tertata rapi di rumah Sihman Hadi Soemarto. Menampilkan perjalanannya menjadi pejuang hingga veteran. Seperti foto saat dirinya menghadiri Konferensi Kawedanan Ponorogo tanggal 1 Januari 1953 di pendapa yang dihadiri oleh Bupati R. Moehamad Mangoendipradja. Beberapa piagam penghargaan selama menjadi tokoh pejuang kemerdekaan juga terpasang rapi di dinding kediamannya di Kelurahan Kauman.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Kalimat takbir yang selalu diucapkan Sihman dan 60 anggota Laskar Hizbullah Ponorogo saat Belanda menyerbu mereka di malam hari. Hanya berbekal keyakinan ‘mati tertembak akan masuk surga’ yang dijadikannya kekuatan saat berdiri di medan pertempuran. ‘’Kami saat itu hanya memakai pakaian seadanya,’’ kenangnya.

Sihman bergabung dalam barisan Hizbullah dalam usia yang masih cukup belia, 17 tahun. Saat itu dia menjadi laskar termuda. Namun, keahlian dan semangatnya tidak kalah dengan anggota lainnya. Hal tersebut yang membuatnya dipilih menjadi pemimpin Laskar Hizbullah Ponorogo. ‘’Saya saat itu memimpin empat wilayah. Meliputi Tambakbayan, Brotonegaran, Kauman (Kota), dan Paju,’’ tutur suami Nur Jannah itu.

Sebelum Sihman dan Laskar Hizbullah dikirim ke Surabaya dalam pertempuran melawan Belanda 1946 silam, mereka dilatih terlebih dahulu di Batalion Yudo (sekarang Kodim 0802 Ponorogo) di bawah komando Mayor Jenderal TNI Suprapto Sukowati. Mereka diajarkan menggunakan senjata, penyamaran, dan taktik perang gerilya. ‘’Setiap hari menggelar latihan di lapangan Desa Brotonegaran,’’ ujar kakek 13 cucu dan 13 cicit itu.

Masih teringat jelas dalam benak Sihman saat Mayor Jenderal TNI Suprapto Sukowati menepuk pundaknya dan berkata, ‘’Kamu masih kecil kok sudah berani, hati-hati ya.’’ Kalimat tersebut justru membuatnya tak gentar dalam menghadapi peperangan kala itu. Karena dia termasuk yang paling kecil, dia diletakkan di posisi paling depan.

Baca Juga :  Tangan Sri Widiastuti Terampil Bikin Kerajinan Bunga Sabun

Setelah melakukan latihan di batalion, mereka ditugaskan ke Surabaya dengan mengendarai kereta. Kereta itu mengangkut pasukan-pasukan dari berbagai kelompok di Ponorogo. Ketika mereka memasuki daerah Pagotan, terdengar suara tembakan dari berbagai arah. Suara itu berasal dari senapan tentara Belanda yang melakukan pencegatan. ‘’Di Pagotan kereta kami ditembaki secara beruntun. Alhamdulillah, pelurunya tidak mengenai kereta, hanya mengenai pohon,’’ urai kakek 96 tahun tersebut.

Tak hanya mendapat pencegatan saat perjalanan, setibanya di Surabaya Sihman juga mengalami situasi menegangkan. Dentuman bom dan tembakan kala itu menewaskan salah satu anggota Laskar Hizbullah. Bahkan, helm yang digunakannya untuk perang terserempet timah panas. ‘’Alhamdulillah, saya masih diberi keselamatan. Peluru itu hanya menyerempet helm saya,’’ ucapnya.

Setahun kemudian, mereka melanjutkan perang di Semarang. Saat di Semarang pada 1947 silam itu, Sihman harus bersembunyi  dan tinggal di atas gunung yang bawahnya langsung sungai. Salah melangkah bisa celaka. Satu bulan di sana harus bertahan menghadapi gempuran tentara Belanda. Bahkan, mereka sempat menahan haus dan lapar. Saat malam hari harus melakukan gerilya. ‘’Saat menyelinap ke dalam hutan, lalu melihat sinar lampu dari Belanda, saya langsung berteriak tengkurap,’’ imbuhnya.

Setelah melakukan peperangan di Semarang, Sihman dikirim pulang dan kembali memulai perjuangannya dalam gerakan G30S tahun 1965 silam. Saat itu dia sudah menjadi pegawai urusan agama. Setelah itu, dia diangkat menjadi lurah Kauman pada 1950. ‘’Anak muda zaman sekarang harus kuat, maju, dan cerdas,’’ pesannya. (mg2/kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/