alexametrics
29.3 C
Madiun
Saturday, July 2, 2022

Sapto Djatmiko, Pejabat Pemkab Ponorogo yang Hobi Mengoleksi Vespa

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sejumlah skuter merek Vespa berjajar rapi di garasi rumah Sapto Djatmiko. Mulai yang terbilang jadul produksi 1960-an hingga keluaran 2000-an dimiliki salah seorang pejabat di lingkup Pemkab Ponorogo itu. Semuanya terlihat masih mulus dan berfungsi normal tanda rajin dirawat.

Sapto mulai menggandrungi sepeda motor jenis skuter buatan Italia tersebut sejak duduk di bangku SMA. Kali pertama dia memiliki Vespa PS. Namun, belakangan dijual. ‘’Dulu belum ada niat mengoleksi. Mulai kepingin punya Vespa lagi tiga tahun lalu,’’ kata asisten administrasi umum Sekretariat Daerah Ponorogo itu.

Kini Sapto memiliki koleksi enam Vespa dengan tipe dan tahun produksi berbeda. Yakni, VBB 1963, Sprint Bagol 1973, Sprint 1974, PTS 1978, Super 1982, dan PX 2000. ‘’Selain modelnya unik, solidaritas komunitas Vespa membuat saya semakin jatuh hati,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Peduli Budaya, Erick Thohir Dukung Reog Ponorogo Jadi Warisan Tak Benda UNESCO

Selama ini Sapto biasa mengendarai Vespa miliknya dengan kecepatan sedang sehingga bisa lebih menikmati perjalanan. Apalagi, dia merasa di usia yang telah menginjak 56 tahun sudah tidak pantas kebut-kebutan. ‘’Pelan-pelan saja, keliling kota. Kadang-kadang mencoba rute luar kota dengan teman-teman penggemar Vespa lainnya. Juga nongkrong bareng membahas motor dan pekerjaan,’’ sebut suami Aida Fitriana Miyasari itu.

Bagi pria yang juga berprofesi sebagai dokter hewan itu, mengoleksi Vespa sekaligus merupakan investasi. Sebab, harganya cenderung terus selalu naik. Perawatan mesinnya pun mudah dan tidak sulit mendapatkan onderdilnya di pasaran. ‘’Harganya tidak turun seperti merek sepeda motor lainnya,’’ kata Sapto.

Selama ini Sapto sengaja menggunakan sparepart orisinil untuk Vespanya. Bukan yang tiruan alias KW. ‘’Sebagian Vespa saya hasil restorasi sendiri. Cari onderdilnya yang asli sekarang gampang,’’ sebutnya. *** (ggi/isd)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sejumlah skuter merek Vespa berjajar rapi di garasi rumah Sapto Djatmiko. Mulai yang terbilang jadul produksi 1960-an hingga keluaran 2000-an dimiliki salah seorang pejabat di lingkup Pemkab Ponorogo itu. Semuanya terlihat masih mulus dan berfungsi normal tanda rajin dirawat.

Sapto mulai menggandrungi sepeda motor jenis skuter buatan Italia tersebut sejak duduk di bangku SMA. Kali pertama dia memiliki Vespa PS. Namun, belakangan dijual. ‘’Dulu belum ada niat mengoleksi. Mulai kepingin punya Vespa lagi tiga tahun lalu,’’ kata asisten administrasi umum Sekretariat Daerah Ponorogo itu.

Kini Sapto memiliki koleksi enam Vespa dengan tipe dan tahun produksi berbeda. Yakni, VBB 1963, Sprint Bagol 1973, Sprint 1974, PTS 1978, Super 1982, dan PX 2000. ‘’Selain modelnya unik, solidaritas komunitas Vespa membuat saya semakin jatuh hati,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dobrak Budaya Patriarki, Evi Muafiah Maknai Perjuangan Kartini

Selama ini Sapto biasa mengendarai Vespa miliknya dengan kecepatan sedang sehingga bisa lebih menikmati perjalanan. Apalagi, dia merasa di usia yang telah menginjak 56 tahun sudah tidak pantas kebut-kebutan. ‘’Pelan-pelan saja, keliling kota. Kadang-kadang mencoba rute luar kota dengan teman-teman penggemar Vespa lainnya. Juga nongkrong bareng membahas motor dan pekerjaan,’’ sebut suami Aida Fitriana Miyasari itu.

Bagi pria yang juga berprofesi sebagai dokter hewan itu, mengoleksi Vespa sekaligus merupakan investasi. Sebab, harganya cenderung terus selalu naik. Perawatan mesinnya pun mudah dan tidak sulit mendapatkan onderdilnya di pasaran. ‘’Harganya tidak turun seperti merek sepeda motor lainnya,’’ kata Sapto.

Selama ini Sapto sengaja menggunakan sparepart orisinil untuk Vespanya. Bukan yang tiruan alias KW. ‘’Sebagian Vespa saya hasil restorasi sendiri. Cari onderdilnya yang asli sekarang gampang,’’ sebutnya. *** (ggi/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/