alexametrics
23.8 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

Menahun Dwi Warno Jadi Pelukis Jalanan

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Di halte bus Jalan Mastrip, Kartoharjo, siang itu Dwi Warno tampak sedang sibuk dengan aktivitasnya. Tangannya memegang sebuah kuas kecil yang telah dicelupkan cat akrilik. Lalu, digoreskan ke permukaan kanvas yang diletakkan tepat di depannya.

Tidak jarang Dwi mencampurkan beberapa warna untuk menghasilkan komposisi yang diinginkan sebelum kuas menari-nari di kanvas. Beberapa menit berselang, lukisan dengan objek pohon pisang yang berbuah itu pun selesai dengan hasil sesuai ekspektasinya.

Dwi terbilang seniman lukis kawakan. Bagaimana tidak, pria 46 tahun itu fokus menjadikan dunia menggambar sebagai mata pencaharian sejak 1997 silam. Pun, dia sudah malang-melintang di sejumlah pameran seni lukis tingkat regional maupun nasional. ‘’Suka nggambar sejak kecil. Beranjak dewasa, saya kembangkan secara otodidak,’’ sebut warga Kelurahan Kanigoro, Kartoharjo, itu.

Namun, awalnya dia melukis sekadar untuk mengisi waktu luang. Menginjak bangku STM, seseorang guru seni rupanya memberikan petuah. Yakni, jika seni luksi ditekuni dengan serius bisa untuk sumber penghasilan. ‘’Kata-kata itu selalu saya ingat. Setelah berhenti kerja di tempat fotokopi, saya mencoba menekuni seni lukis untuk dikomersilkan (dijual, Red),’’ kenangnya.

Beda dengan pelukis lainnya yang biasa menggambar saat sepi, Dwi bisa melukis dalam kondisi apapun. Bahkan, tak jarang sebuah lukisan mampu diselesaikannya hanya dalam hitungan menit. ‘’Bisa ditunggu di tempat. Tidak ada satu jam insya Allah selesai,’’ ucap Dwi.

Baca Juga :  Puding Berhias Koin Emas

Beberapa tahun setelah mangkal di jalanan, Dwi memberanikan diri mengikuti sejumlah pameran. Paling jauh, dia pernah memajang sejumlah lukisannya dalam pameran di Jakarta pada 2007 silam. ‘’Alhamdulillah, waktu itu masuk 50 besar karya terbaik nasional,’’ ujarnya.

Di tahun yang sama, Dwi sempat dikejutkan dengan kedatangan seseorang ke rumahnya. Saat itu, praktisi spiritual asal Solo tersebut berminat membeli lukisan ratu pantai selatan karyanya. Lukisan tersebut akhirnya dilepas dengan harga Rp 7 juta. ‘’Orang itu berniat membeli setelah sebelumnya sempat melihat lukisan saya waktu pameran pusaka di Kota Madiun pada 2004 lalu,’’ ungkapnya.

Harga tersebut dinilai pantas. Sebab, butuh waktu hingga sepekan untuk menyelesaikan lukisan ratu pantai selatan itu. Pun, Dwi harus melakukan tirakat agar dapat menggambarkan wujud sang ratu. ‘’Bukan memuja ya. Saya hanya berdoa agar diberikan keselamatan lahir dan batin. Dan alhamdulillah, usaha saya dimudahkan,’’ tuturnya.

Tidak hanya itu, sekelas Bupati Magetan Suprawoto pernah membeli sebuah lukisan karya Dwi pada 2018 lalu. Kala itu, lukisan tersebut dihargai Rp 3,5 juta. ‘’Itu waktu ikut pameran komunitas di Magetan. Kebetulan Pak Bupati datang, lalu membeli lukisan saya,’’ kenangnya.

Dwi biasa mangkal di halte bus Mastrip mulai pukul 10.00 hingga 14.00. Satu biah lukisan dibanderol mulai Rp 150 ribu sampai Rp 750 ribu. ‘’Harga menyesuaikan tingkat kesulitan dan ukuran. Harga itu sudah termasuk frame,’’ ujarnya. *** (isd)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Di halte bus Jalan Mastrip, Kartoharjo, siang itu Dwi Warno tampak sedang sibuk dengan aktivitasnya. Tangannya memegang sebuah kuas kecil yang telah dicelupkan cat akrilik. Lalu, digoreskan ke permukaan kanvas yang diletakkan tepat di depannya.

Tidak jarang Dwi mencampurkan beberapa warna untuk menghasilkan komposisi yang diinginkan sebelum kuas menari-nari di kanvas. Beberapa menit berselang, lukisan dengan objek pohon pisang yang berbuah itu pun selesai dengan hasil sesuai ekspektasinya.

Dwi terbilang seniman lukis kawakan. Bagaimana tidak, pria 46 tahun itu fokus menjadikan dunia menggambar sebagai mata pencaharian sejak 1997 silam. Pun, dia sudah malang-melintang di sejumlah pameran seni lukis tingkat regional maupun nasional. ‘’Suka nggambar sejak kecil. Beranjak dewasa, saya kembangkan secara otodidak,’’ sebut warga Kelurahan Kanigoro, Kartoharjo, itu.

Namun, awalnya dia melukis sekadar untuk mengisi waktu luang. Menginjak bangku STM, seseorang guru seni rupanya memberikan petuah. Yakni, jika seni luksi ditekuni dengan serius bisa untuk sumber penghasilan. ‘’Kata-kata itu selalu saya ingat. Setelah berhenti kerja di tempat fotokopi, saya mencoba menekuni seni lukis untuk dikomersilkan (dijual, Red),’’ kenangnya.

Beda dengan pelukis lainnya yang biasa menggambar saat sepi, Dwi bisa melukis dalam kondisi apapun. Bahkan, tak jarang sebuah lukisan mampu diselesaikannya hanya dalam hitungan menit. ‘’Bisa ditunggu di tempat. Tidak ada satu jam insya Allah selesai,’’ ucap Dwi.

Baca Juga :  SMPN 2 Madiun Lockdown, Empat Guru dan Dua Siswa Positif Covid-19

Beberapa tahun setelah mangkal di jalanan, Dwi memberanikan diri mengikuti sejumlah pameran. Paling jauh, dia pernah memajang sejumlah lukisannya dalam pameran di Jakarta pada 2007 silam. ‘’Alhamdulillah, waktu itu masuk 50 besar karya terbaik nasional,’’ ujarnya.

Di tahun yang sama, Dwi sempat dikejutkan dengan kedatangan seseorang ke rumahnya. Saat itu, praktisi spiritual asal Solo tersebut berminat membeli lukisan ratu pantai selatan karyanya. Lukisan tersebut akhirnya dilepas dengan harga Rp 7 juta. ‘’Orang itu berniat membeli setelah sebelumnya sempat melihat lukisan saya waktu pameran pusaka di Kota Madiun pada 2004 lalu,’’ ungkapnya.

Harga tersebut dinilai pantas. Sebab, butuh waktu hingga sepekan untuk menyelesaikan lukisan ratu pantai selatan itu. Pun, Dwi harus melakukan tirakat agar dapat menggambarkan wujud sang ratu. ‘’Bukan memuja ya. Saya hanya berdoa agar diberikan keselamatan lahir dan batin. Dan alhamdulillah, usaha saya dimudahkan,’’ tuturnya.

Tidak hanya itu, sekelas Bupati Magetan Suprawoto pernah membeli sebuah lukisan karya Dwi pada 2018 lalu. Kala itu, lukisan tersebut dihargai Rp 3,5 juta. ‘’Itu waktu ikut pameran komunitas di Magetan. Kebetulan Pak Bupati datang, lalu membeli lukisan saya,’’ kenangnya.

Dwi biasa mangkal di halte bus Mastrip mulai pukul 10.00 hingga 14.00. Satu biah lukisan dibanderol mulai Rp 150 ribu sampai Rp 750 ribu. ‘’Harga menyesuaikan tingkat kesulitan dan ukuran. Harga itu sudah termasuk frame,’’ ujarnya. *** (isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/