27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Kecintaan Santi Suwarsih pada Seni Tradisional Tak Pernah Luntur

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Usianya sudah kepala tujuh. Namun, Santi Suwarsih alias Mbah Pesek masih aktif menghibur warga dalam berbagai kesempatan. Perpaduan tari dan humor menjadi ciri khas penampilan warga Kelurahan Pangongangan, Manguharjo, itu selama ini.

————–

Nama aslinya Santi Suwarsih. Namun, perempuan sepuh itu sehari-hari lebih sering disapa Mbah Pesek. Ya, warga Jalan Merapi, Gang Lodayan, Kelurahan Pangongangan, Manguharjo, itu memang sudah tidak muda lagi. Usianya telah menginjak kepala tujuh.

Meski begitu, semangatnya nguri-uri budaya tradisional, khususnya seni tari, tidak pernah luntur. ‘’Suka menari sejak kelas IV SD. Belajar sendiri, tak ada yang mengajari,’’ ujar Mbah Pesek kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Saat menginjak usia belasan, Mbah Pesek mulai bereksperimen dengan mengombinasikan tarian dan dagelan. Tujuannya agar penonton tidak bosan. ‘’Ternyata (kolaborasi tari-dagelan) masuk juga. Banyak yang suka,’’ ujar perempuan 74 tahun itu.

Baca Juga :  Mbah Kusnan 59 Tahun Konsisten Produksi Gamelan

Sejak itu pula Mbah Pesek yang memiliki nama panggung Santi Lionaning Blang Gentak Kluget-Kluget tersebut mulai merambah panggung wayang orang. Pun, sempat menarik perhatian seniman kondang Kirun. ‘’Dulu sering manggung,’’ tuturnya.

Selama malang melintang di dunia pementasan, Mbah Pesek biasa mengandalkan instingnya ketimbang menghafalkan skrip. ‘’Biasanya sebelum manggung cuma dikasih tahu garis besarnya seperti ini, selebihnya saya kembangkan sendiri,’’ ungkapnya.

‘’Misalnya diminta memerankan orang gila. Semuanya mengalir saja. Kalau lawan main tidak paham kadang saya plesetkan sampai dia paham,’’ imbuhnya. (mg4/isd)

KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Usianya sudah kepala tujuh. Namun, Santi Suwarsih alias Mbah Pesek masih aktif menghibur warga dalam berbagai kesempatan. Perpaduan tari dan humor menjadi ciri khas penampilan warga Kelurahan Pangongangan, Manguharjo, itu selama ini.

————–

Nama aslinya Santi Suwarsih. Namun, perempuan sepuh itu sehari-hari lebih sering disapa Mbah Pesek. Ya, warga Jalan Merapi, Gang Lodayan, Kelurahan Pangongangan, Manguharjo, itu memang sudah tidak muda lagi. Usianya telah menginjak kepala tujuh.

Meski begitu, semangatnya nguri-uri budaya tradisional, khususnya seni tari, tidak pernah luntur. ‘’Suka menari sejak kelas IV SD. Belajar sendiri, tak ada yang mengajari,’’ ujar Mbah Pesek kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Saat menginjak usia belasan, Mbah Pesek mulai bereksperimen dengan mengombinasikan tarian dan dagelan. Tujuannya agar penonton tidak bosan. ‘’Ternyata (kolaborasi tari-dagelan) masuk juga. Banyak yang suka,’’ ujar perempuan 74 tahun itu.

Baca Juga :  Savira Sumbang Emas Ketiga bagi Kota Madiun di Porprov 2022

Sejak itu pula Mbah Pesek yang memiliki nama panggung Santi Lionaning Blang Gentak Kluget-Kluget tersebut mulai merambah panggung wayang orang. Pun, sempat menarik perhatian seniman kondang Kirun. ‘’Dulu sering manggung,’’ tuturnya.

Selama malang melintang di dunia pementasan, Mbah Pesek biasa mengandalkan instingnya ketimbang menghafalkan skrip. ‘’Biasanya sebelum manggung cuma dikasih tahu garis besarnya seperti ini, selebihnya saya kembangkan sendiri,’’ ungkapnya.

‘’Misalnya diminta memerankan orang gila. Semuanya mengalir saja. Kalau lawan main tidak paham kadang saya plesetkan sampai dia paham,’’ imbuhnya. (mg4/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/