alexametrics
24.1 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Ario Sabrang Damar Panuluh Koleksi Ratusan Kaset Pita

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pagi itu, Ario Sabrang Damar Panuluh tampak sibuk dengan komputernya. Sembari mengerjakan desain, dia lantas meraih satu dari ratusan kaset pita yang tertata rapi di rak tempel ruang kerjanya. Selain kaset pita, di rak itu juga terdapat sejumlah compact disc (CD) dan piringan hitam.

Sabrang sengaja mengambil album kaset pita Slayer –band thrash metal asal Amerika Serikat- berjudul Show No Mercy yang dirilis pada 1983 silam. ‘’Itu salah satu koleksi kaset album saya yang paling tua,’’ kata warga Dusun Doragan, Desa Munggut, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, itu, Sabtu (26/3).

Sabrang akrab dengan musik sejak kecil. Kala itu, sang ayah sempat membelikan Sabrang kecil album Peterpan dan Scorpion. Pun, dia mulai rajin merekam lagu-lagu rock yang disiarkan sebuah stasiun radio ke kaset kosongan. Menginjak bangku SMP, Sabrang ganti getol mengunduh lagu-lagu dari internet. ‘’Waktu SMA saya lebih aktif ngeband,’’ ungkapnya.

Saat kuliah di Surabaya, Sabrang sengaja nyambi kerja dan sebagian gajinya disisihkan untuk membeli kaset album band favoritnya. Meski menyukai musik metal dan hardcore punk, koleksinya tidak melulu dua genre itu. Melainkan hampir semua aliran musik, mulai pop, blues, hingga hiphop.

Baca Juga :  Naik-Turun Tangga demi Adegan Romantis di Video Klip

Kala itu, nyaris saban pekan dia berburu kaset di Pasar Gembong yang merupakan salah satu pusat penjualan barang bekas di Surabaya. ‘’Saya punya kios langganan yang khusus jual kaset. Harganya waktu itu Rp 5.000-Rp 10 ribu per biji. Jauh  lebih murah dibanding beli di pasar online,’’ sebutnya.

Sabrang juga rajin mengikuti record store day -acara jual beli rilisan album band- di berbagai daerah seperti Solo, Jogjakarta, Surabaya, dan Malang. ‘’Makin lama tahun rilisnya, biasanya masih sulit dicari,’’ kata pria 29 tahun itu.

Pada 2015, dia sempat mendapat durian runtuh. Seorang kolektor menghibahkan sekitar 200 kaset miliknya kepada Sabrang lantaran anak-anaknya tidak ada yang berminat meneruskannya. ‘’Saking banyaknya, sampai butuh tiga kardus (kaset yang diberikan kepada Sabrang, Red),’’ kenangnya.

Kini, koleksi kaset pita Sabrang berjumlah sekitar 500 biji dan semuanya masih berfungsi. Sedangkan koleksi CD mencapai 200-an keping. Sementara, piringan hitam ada puluhan. *** (isd/c1)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pagi itu, Ario Sabrang Damar Panuluh tampak sibuk dengan komputernya. Sembari mengerjakan desain, dia lantas meraih satu dari ratusan kaset pita yang tertata rapi di rak tempel ruang kerjanya. Selain kaset pita, di rak itu juga terdapat sejumlah compact disc (CD) dan piringan hitam.

Sabrang sengaja mengambil album kaset pita Slayer –band thrash metal asal Amerika Serikat- berjudul Show No Mercy yang dirilis pada 1983 silam. ‘’Itu salah satu koleksi kaset album saya yang paling tua,’’ kata warga Dusun Doragan, Desa Munggut, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, itu, Sabtu (26/3).

Sabrang akrab dengan musik sejak kecil. Kala itu, sang ayah sempat membelikan Sabrang kecil album Peterpan dan Scorpion. Pun, dia mulai rajin merekam lagu-lagu rock yang disiarkan sebuah stasiun radio ke kaset kosongan. Menginjak bangku SMP, Sabrang ganti getol mengunduh lagu-lagu dari internet. ‘’Waktu SMA saya lebih aktif ngeband,’’ ungkapnya.

Saat kuliah di Surabaya, Sabrang sengaja nyambi kerja dan sebagian gajinya disisihkan untuk membeli kaset album band favoritnya. Meski menyukai musik metal dan hardcore punk, koleksinya tidak melulu dua genre itu. Melainkan hampir semua aliran musik, mulai pop, blues, hingga hiphop.

Baca Juga :  Keluhkan Keberadaan Combine Harvester

Kala itu, nyaris saban pekan dia berburu kaset di Pasar Gembong yang merupakan salah satu pusat penjualan barang bekas di Surabaya. ‘’Saya punya kios langganan yang khusus jual kaset. Harganya waktu itu Rp 5.000-Rp 10 ribu per biji. Jauh  lebih murah dibanding beli di pasar online,’’ sebutnya.

Sabrang juga rajin mengikuti record store day -acara jual beli rilisan album band- di berbagai daerah seperti Solo, Jogjakarta, Surabaya, dan Malang. ‘’Makin lama tahun rilisnya, biasanya masih sulit dicari,’’ kata pria 29 tahun itu.

Pada 2015, dia sempat mendapat durian runtuh. Seorang kolektor menghibahkan sekitar 200 kaset miliknya kepada Sabrang lantaran anak-anaknya tidak ada yang berminat meneruskannya. ‘’Saking banyaknya, sampai butuh tiga kardus (kaset yang diberikan kepada Sabrang, Red),’’ kenangnya.

Kini, koleksi kaset pita Sabrang berjumlah sekitar 500 biji dan semuanya masih berfungsi. Sedangkan koleksi CD mencapai 200-an keping. Sementara, piringan hitam ada puluhan. *** (isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/