23.6 C
Madiun
Sunday, November 27, 2022

Melihat Budi Daya Maggot ala Pemuda Desa Gunungsari

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Budi daya maggot BSF mulai merambah Kabupaten Madiun. Itu seperti dilakukan Bernadi S. Dangin bersama sejumlah pemuda Desa Gunungsari, Madiun. Pun, usaha tersebut menjanjikan keuntungan menggiurkan mengingat permintaan pasar yang tinggi.

————-

Belasan biopond berisi ribuan maggot black soldier fly (BSF) tampak menghiasi lahan semi-outdoor di Desa Garon, Balerejo, Madiun, itu. Tak jauh dari biopond tersebut terlihat onggokan sampah organik yang merupakan sumber makanan maggot.

‘’Maggot di biopond ini umurnya tidak sama, dari anakan sampai dewasa. Jadi, bisa dipanen setiap hari,’’ kata penasihat kelompok sadar wisata (pokdarwis) pengelola budi daya maggot Desa Gunungsari, Madiun, Bernadi S. Dangin.

Dangin bersama beberapa pemuda di desanya membudidayakan maggot sejak Oktober tahun lalu. Kini, mereka telah memiliki 18 biopond atau media budi daya maggot. Satu unit sekali panen bisa menghasilkan sekitar 30 kilogram maggot siap jual. ‘’Butuh kurang lebih 36 hari dari masa kawin sampai bisa dipanen,’’ ungkapnya.

Setidaknya ada lima fase siklus maggot BSF. Dimulai masa kawin BSF dewasa selama 4-5 hari. Setelah itu, BSF jantan langsung mati dan bangkainya dimanfaatkan sebagai media atraktan. Yakni, pemancing BSF betina untuk bertelur di papan atau jaring.

Baca Juga :  Di Balik 25 Tahun Perjalanan Ponpes Al-Muttaqin

Butuh waktu 3-4 hari bagi telur BSF untuk menetas dan turun ke biopond. ‘’Ada masa kawin, bertelur, menjadi larva (maggot, Red), prepupa (pra kepompong), kepompong, dan lalat (BSF) dewasa untuk masa kawin selama 7 hari,’’ beber Dangin.

Kendati merupakan jenis bakteri, BSF tidak menularkan penyakit. Sebab, sifat maggot BSF cenderung selektif memilih makanan. Tidak menyukai bangkai atau daging busuk. Melainkan sampah organik yang telah terfermentasi. ‘’Sehari bisa habis satu kuintal sampah organik untuk makanannya,’’ kata Dangin.

Selama ini maggot hasil budi daya Dangin dkk biasa dibeli kalangan peternak ikan. Mereka juga menjual kasgot alias sisa sampah yang telah diurai maggot sebagai pupuk tanaman, terutama bonsai. ‘’Banyak juga pembeli dari luar daerah. Belum lama ini ada permintaan setengah ton dari Sidoarjo,’’ ungkapnya.

Dangin dkk menjual maggot fresh Rp 7.000-Rp 10.000 per kilogram. Sedangkan pupuk kasgot dibanderol Rp 3.000. ‘’Inginnya kami juga memproduksi dry maggot dan minyak dari maggot,’’ ujarnya. *** (isd/c1)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Budi daya maggot BSF mulai merambah Kabupaten Madiun. Itu seperti dilakukan Bernadi S. Dangin bersama sejumlah pemuda Desa Gunungsari, Madiun. Pun, usaha tersebut menjanjikan keuntungan menggiurkan mengingat permintaan pasar yang tinggi.

————-

Belasan biopond berisi ribuan maggot black soldier fly (BSF) tampak menghiasi lahan semi-outdoor di Desa Garon, Balerejo, Madiun, itu. Tak jauh dari biopond tersebut terlihat onggokan sampah organik yang merupakan sumber makanan maggot.

‘’Maggot di biopond ini umurnya tidak sama, dari anakan sampai dewasa. Jadi, bisa dipanen setiap hari,’’ kata penasihat kelompok sadar wisata (pokdarwis) pengelola budi daya maggot Desa Gunungsari, Madiun, Bernadi S. Dangin.

Dangin bersama beberapa pemuda di desanya membudidayakan maggot sejak Oktober tahun lalu. Kini, mereka telah memiliki 18 biopond atau media budi daya maggot. Satu unit sekali panen bisa menghasilkan sekitar 30 kilogram maggot siap jual. ‘’Butuh kurang lebih 36 hari dari masa kawin sampai bisa dipanen,’’ ungkapnya.

Setidaknya ada lima fase siklus maggot BSF. Dimulai masa kawin BSF dewasa selama 4-5 hari. Setelah itu, BSF jantan langsung mati dan bangkainya dimanfaatkan sebagai media atraktan. Yakni, pemancing BSF betina untuk bertelur di papan atau jaring.

Baca Juga :  Grup Angklung Sendang Gayam Kentalkan Nuansa Malioboro di PSC

Butuh waktu 3-4 hari bagi telur BSF untuk menetas dan turun ke biopond. ‘’Ada masa kawin, bertelur, menjadi larva (maggot, Red), prepupa (pra kepompong), kepompong, dan lalat (BSF) dewasa untuk masa kawin selama 7 hari,’’ beber Dangin.

Kendati merupakan jenis bakteri, BSF tidak menularkan penyakit. Sebab, sifat maggot BSF cenderung selektif memilih makanan. Tidak menyukai bangkai atau daging busuk. Melainkan sampah organik yang telah terfermentasi. ‘’Sehari bisa habis satu kuintal sampah organik untuk makanannya,’’ kata Dangin.

Selama ini maggot hasil budi daya Dangin dkk biasa dibeli kalangan peternak ikan. Mereka juga menjual kasgot alias sisa sampah yang telah diurai maggot sebagai pupuk tanaman, terutama bonsai. ‘’Banyak juga pembeli dari luar daerah. Belum lama ini ada permintaan setengah ton dari Sidoarjo,’’ ungkapnya.

Dangin dkk menjual maggot fresh Rp 7.000-Rp 10.000 per kilogram. Sedangkan pupuk kasgot dibanderol Rp 3.000. ‘’Inginnya kami juga memproduksi dry maggot dan minyak dari maggot,’’ ujarnya. *** (isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/