23.6 C
Madiun
Sunday, November 27, 2022

Septian Dwita Kharisma dan Kegandrungannya pada Sejarah

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sejarah lekat dengan keseharian Septian Dwita Kharisma. Sejak berstatus mahasiswa, pria 27 tahun itu getol melakukan penelitian seputar sejarah. Pun, salah satu hasil penelitiannya sempat memenangi lomba tingkat provinsi.

————-

Dua lemari yang dipenuhi buku tampak menghiasi ruang tamu rumah Septian Dwita Kharisma di Jalan Munggut Yani, Perumahan Mojopurno, Kabupaten Madiun. Beberapa lainnya menumpuk di bawah meja kerjanya. Hampir semuanya bertema sejarah. ‘’Mengoleksi buku sejarah sejak SMK,’’ ujar Septian.

Kala itu, Septian remaja biasa menghabiskan waktunya di perpustakaan daerah saban sepulang sekolah untuk berburu buku sejarah. Singkat kata, nyaris tidak ada hari dilaluinya tanpa membaca buku sejarah. ‘’Biasanya baca-baca setelah mengerjakan tugas sekolah,’’ ungkapnya.

Lulus dari SMK, Septian melanjutkan studi di jurusan sejarah salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Madiun. Sejak itu pula pria yang kini berusia 27 tahun tersebut mulai rajin mengunjungi rumah para pejuang kemerdekaan di Kota Madiun serta membuat penelitian tentang sejarah.

Baca Juga :  Jadi Peserta Bukan Penerima Upah BPJamsostek, Bayar Rp 16.800 Per Bulan

Salah satu hasil penelitiannya berjudul Sejarah Kelompok Samin di Madiun pada 1908-1914. Pun, lewat tulisan itu, pada 2021 lalu Septian berhasil memenangi lomba penulisan sejarah lokal tingkat Jatim. ‘’Cari info soal sejarah itu tidak mudah,’’ sebut guru SMPN 6 Kota Madiun tersebut.

Beberapa tulisan karya Septian juga di-posting di akun Facebook pribadinya. Di antaranya, seputar kiprah Abikoesno Cokrosoejoso, adik H.O.S. Cokroaminoto yang merupakan penggagas sumpah presiden. Kemudian, sejarah Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Madiun pada 1943-1945 serta sejarah Marx House di Madiun. ‘’Yang belum ter-publish penelitian tentang Tan Malaka di Madiun. Saat ini saya masih melengkapi datanya,’’ ujarnya. *** (isd/c1)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sejarah lekat dengan keseharian Septian Dwita Kharisma. Sejak berstatus mahasiswa, pria 27 tahun itu getol melakukan penelitian seputar sejarah. Pun, salah satu hasil penelitiannya sempat memenangi lomba tingkat provinsi.

————-

Dua lemari yang dipenuhi buku tampak menghiasi ruang tamu rumah Septian Dwita Kharisma di Jalan Munggut Yani, Perumahan Mojopurno, Kabupaten Madiun. Beberapa lainnya menumpuk di bawah meja kerjanya. Hampir semuanya bertema sejarah. ‘’Mengoleksi buku sejarah sejak SMK,’’ ujar Septian.

Kala itu, Septian remaja biasa menghabiskan waktunya di perpustakaan daerah saban sepulang sekolah untuk berburu buku sejarah. Singkat kata, nyaris tidak ada hari dilaluinya tanpa membaca buku sejarah. ‘’Biasanya baca-baca setelah mengerjakan tugas sekolah,’’ ungkapnya.

Lulus dari SMK, Septian melanjutkan studi di jurusan sejarah salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Madiun. Sejak itu pula pria yang kini berusia 27 tahun tersebut mulai rajin mengunjungi rumah para pejuang kemerdekaan di Kota Madiun serta membuat penelitian tentang sejarah.

Baca Juga :  Inspektorat Tempati Eks Rumdin Ketua DPRD Kota Madiun

Salah satu hasil penelitiannya berjudul Sejarah Kelompok Samin di Madiun pada 1908-1914. Pun, lewat tulisan itu, pada 2021 lalu Septian berhasil memenangi lomba penulisan sejarah lokal tingkat Jatim. ‘’Cari info soal sejarah itu tidak mudah,’’ sebut guru SMPN 6 Kota Madiun tersebut.

Beberapa tulisan karya Septian juga di-posting di akun Facebook pribadinya. Di antaranya, seputar kiprah Abikoesno Cokrosoejoso, adik H.O.S. Cokroaminoto yang merupakan penggagas sumpah presiden. Kemudian, sejarah Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Madiun pada 1943-1945 serta sejarah Marx House di Madiun. ‘’Yang belum ter-publish penelitian tentang Tan Malaka di Madiun. Saat ini saya masih melengkapi datanya,’’ ujarnya. *** (isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/