23.6 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Mbah Kusnan 59 Tahun Konsisten Produksi Gamelan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sejak 1963 silam, Mbah Kusnan setia menjadi perajin gamelan. Tetap eksis meski usianya kini telah mancik kepala tujuh. Hasil jerih payahnya tak hanya diapresiasi konsumen dalam negeri. Namun, juga merambah hingga Malaysia, Singapura, dan Amerika.

————-

Gong, gendang, bonang, dan seperangkat gamelan memenuhi ruang depan rumah Mbah Kusnan di Paju. Sederet foto juga terpajang rapi di dinding ruang tamu. Salah satunya, foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat mengunjungi rumah produksinya. ‘’Beliau tiba-tiba datang ke rumah untuk melihat gamelan buatan saya,’’ kenangnya.

Mbah Kusnan mulai tertarik dengan gamelan sejak SD. Setiap jam istirahat, dia selalu mendatangi tempat perajin gamelan di depan sekolahnya. ‘’Saya selalu memperhatikan bagaimana cara membuat gamelan,’’ ujar bapak dua anak itu.

Ketika duduk di bangku kelas VIII SMP, Mbah Kusnan remaja mulai tergabung dalam grup karawitan. Di tahun itulah, dia mulai mencoba membuat gamelan untuk keperluan pribadi. ‘’Awalnya hanya iseng, kemudian dipakai untuk main karawitan. Ternyata ada yang nawar,’’ ucap kakek 72 tahun itu.

Setelah berhasil menjual gamelan buatannya, Mbah Kusnan mengajak sembilan teman karawitannya untuk bekerja sama. Di tahap awal itu, dia sudah mendapatkan satu-dua pembeli. ‘’Awal jualan, saya dapat sepuluh ribu dibagi sembilan orang,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Dari Dunia Fotografi, Bagus-Dwi Jadi Perajin Furnitur Hemat Ruang

Pasang surut bisnis sudah dirasakan Mbah Kusnan sejak SMP. Ketika sepi orderan, dia tak putus asa. Melainkan memutar otak agar produk alat musik tradisional buatannya tetap terjual. ‘’Saat itu langsung mencari pasar yang bagus untuk menjual gamelan. Seperti ke Solo, Jogjakarta, dan Bali,’’ ujarnya.

Perhitungan Mbah Kusnan tepat. Gamelannya laku keras saat dijual ke tiga kota budaya tersebut. Sejak saat itulah, usahanya terus berkembang hingga merambah pasar mancanegara. ‘’1990 silam, saya ikut pameran gamelan di Amerika selama delapan hari. Tempatnya persis di depan Gedung Putih di Washington DC. Di sana, saya juga diamanahi mengisi seminar tentang pembuatan gamelan,’’ kenangnya.

Kini, bahan untuk membuat gamelan lebih mudah didapatkan. Di masa awal merintis, Mbah Kusnan memanfaatkan drum bekas. Sekarang pilihan bahan baku semakin beragam. Bisa pakai besi atau kuningan. Harganya variatif mulai kisaran Rp 50 juta hingga Rp 200 juta. ‘’Sepanjang jalan ini yang jualan gamelan juga saudara-saudara saya. Saya yang menyuruh mereka untuk berbisnis gamelan,’’ pungkasnya. *** (kid/c1)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sejak 1963 silam, Mbah Kusnan setia menjadi perajin gamelan. Tetap eksis meski usianya kini telah mancik kepala tujuh. Hasil jerih payahnya tak hanya diapresiasi konsumen dalam negeri. Namun, juga merambah hingga Malaysia, Singapura, dan Amerika.

————-

Gong, gendang, bonang, dan seperangkat gamelan memenuhi ruang depan rumah Mbah Kusnan di Paju. Sederet foto juga terpajang rapi di dinding ruang tamu. Salah satunya, foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat mengunjungi rumah produksinya. ‘’Beliau tiba-tiba datang ke rumah untuk melihat gamelan buatan saya,’’ kenangnya.

Mbah Kusnan mulai tertarik dengan gamelan sejak SD. Setiap jam istirahat, dia selalu mendatangi tempat perajin gamelan di depan sekolahnya. ‘’Saya selalu memperhatikan bagaimana cara membuat gamelan,’’ ujar bapak dua anak itu.

Ketika duduk di bangku kelas VIII SMP, Mbah Kusnan remaja mulai tergabung dalam grup karawitan. Di tahun itulah, dia mulai mencoba membuat gamelan untuk keperluan pribadi. ‘’Awalnya hanya iseng, kemudian dipakai untuk main karawitan. Ternyata ada yang nawar,’’ ucap kakek 72 tahun itu.

Setelah berhasil menjual gamelan buatannya, Mbah Kusnan mengajak sembilan teman karawitannya untuk bekerja sama. Di tahap awal itu, dia sudah mendapatkan satu-dua pembeli. ‘’Awal jualan, saya dapat sepuluh ribu dibagi sembilan orang,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Elya Widi Astuti Konsisten Kembangkan Batik Motif Jaduran

Pasang surut bisnis sudah dirasakan Mbah Kusnan sejak SMP. Ketika sepi orderan, dia tak putus asa. Melainkan memutar otak agar produk alat musik tradisional buatannya tetap terjual. ‘’Saat itu langsung mencari pasar yang bagus untuk menjual gamelan. Seperti ke Solo, Jogjakarta, dan Bali,’’ ujarnya.

Perhitungan Mbah Kusnan tepat. Gamelannya laku keras saat dijual ke tiga kota budaya tersebut. Sejak saat itulah, usahanya terus berkembang hingga merambah pasar mancanegara. ‘’1990 silam, saya ikut pameran gamelan di Amerika selama delapan hari. Tempatnya persis di depan Gedung Putih di Washington DC. Di sana, saya juga diamanahi mengisi seminar tentang pembuatan gamelan,’’ kenangnya.

Kini, bahan untuk membuat gamelan lebih mudah didapatkan. Di masa awal merintis, Mbah Kusnan memanfaatkan drum bekas. Sekarang pilihan bahan baku semakin beragam. Bisa pakai besi atau kuningan. Harganya variatif mulai kisaran Rp 50 juta hingga Rp 200 juta. ‘’Sepanjang jalan ini yang jualan gamelan juga saudara-saudara saya. Saya yang menyuruh mereka untuk berbisnis gamelan,’’ pungkasnya. *** (kid/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/