alexametrics
24.7 C
Madiun
Thursday, May 19, 2022

Winanda Praditama Rajin Mengoleksi Sneakers sejak SMA

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Ada Converse, Nike, Reebok, dan sejumlah sepatu branded lainnya. Selain harganya terbilang tidak murah, sebagian koleksi sneakers milik Winanda Praditama itu merupakan produk limited edition. ‘’Mulai mengoleksi sepatu sejak SMA,’’ kata Winanda, Senin (28/3).

Niat Winanda mengoleksi sepatu berawal dari kebiasaannya menonton MTV, acara musik di televisi yang melejit di era 2000-an. Kala itu dia sering melihat sepatu pemain band punk yang dinilai menarik. Salah satunya merek Converse.

Hanya, saat itu sepatu merek tersebut terbilang sulit diperoleh di Kota Madiun. Beruntung, Winanda memiliki kakak yang tinggal di Jakarta. ‘’Saya bisanya nitip atau beli langsung kalau ke sana (Jakarta, Red),’’ ungkap warga Kelurahan Sukosari, Kartoharjo, tersebut.

Koleksi sneakers Winanda semakin bertambah saat pria 29 tahun itu aktif bermain basket. Mayoritas dibeli setelah melihatnya di tayangan acara musik televisi maupun film. Sepatu Onitsuka yang desainnya mirip Nike Cortez, misalnya, dibelinya usai menonton film Kill Bill.

Meski begitu, Winanda tidak pernah membeli sneakers dengan harga lebih dari Rp 1 juta. Karena itu, tidak jarang dia harus menunggu hingga berbulan-bulan sampai sepatu yang diincarnya turun harga. ‘’Saya juga punya beberapa koleksi sepatu seken,’’ ungkapnya. ‘’Ada yang dapatnya di Gang Puntuk dengan harga Rp 15 ribu saja,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Para Peminat Sejarah Lokal Bersatu di Kompas Madya

Sebagian sepatu koleksi Winanda juga telah berpindah tangan ke kolektor lain dengan harga berlipat. ‘’Saya pernah membeli Nike Blazer dengan harga Rp 200 ribu dan saat dijual lagi laku Rp 600 ribu,’’ kenang Winanda.

Selama ini Winanda memilih merawat sendiri sepatu-sepatu koleksinya. Tidak sembarangan menggunakan jasa laundry. Sebab, umur pakai sneakers rata-rata hanya lima-enam tahun. Setelah itu, midsole-nya mengeropos atau jika ada elemen berbahan kulit biasanya retak.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Winanda biasa menggunakan sepatu-sepatu koleksinya secara bergantian setiap hari agar tidak rusak. Namun, sejak korona mewabah, sebagian terpaksa dijual. ‘’Sudah ada sekitar 80 yang saya jual, sekarang tinggal tersisa 20-an,’’ sebutnya.

Sepatu-sepatu koleksi Winanda yang telah berpindah tangan ke kolektor lain itu dibanderol Rp 250 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga tersebut disesuaikan kualitas dan faktor kelangkaan. ‘’Saya baru saja melepas Reebok Blacktop yang rilis 2014 seharga Rp 1,5 juta. Sepatu itu limited sekali karena hanya rilis tiga kali, tahun 1980-an, 1990-an, dan 2014,’’ bebernya. (mg7/isd/c1/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Ada Converse, Nike, Reebok, dan sejumlah sepatu branded lainnya. Selain harganya terbilang tidak murah, sebagian koleksi sneakers milik Winanda Praditama itu merupakan produk limited edition. ‘’Mulai mengoleksi sepatu sejak SMA,’’ kata Winanda, Senin (28/3).

Niat Winanda mengoleksi sepatu berawal dari kebiasaannya menonton MTV, acara musik di televisi yang melejit di era 2000-an. Kala itu dia sering melihat sepatu pemain band punk yang dinilai menarik. Salah satunya merek Converse.

Hanya, saat itu sepatu merek tersebut terbilang sulit diperoleh di Kota Madiun. Beruntung, Winanda memiliki kakak yang tinggal di Jakarta. ‘’Saya bisanya nitip atau beli langsung kalau ke sana (Jakarta, Red),’’ ungkap warga Kelurahan Sukosari, Kartoharjo, tersebut.

Koleksi sneakers Winanda semakin bertambah saat pria 29 tahun itu aktif bermain basket. Mayoritas dibeli setelah melihatnya di tayangan acara musik televisi maupun film. Sepatu Onitsuka yang desainnya mirip Nike Cortez, misalnya, dibelinya usai menonton film Kill Bill.

Meski begitu, Winanda tidak pernah membeli sneakers dengan harga lebih dari Rp 1 juta. Karena itu, tidak jarang dia harus menunggu hingga berbulan-bulan sampai sepatu yang diincarnya turun harga. ‘’Saya juga punya beberapa koleksi sepatu seken,’’ ungkapnya. ‘’Ada yang dapatnya di Gang Puntuk dengan harga Rp 15 ribu saja,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Sudirno, Perancang Uang Kertas Tahun 1980-an Asal Pacitan

Sebagian sepatu koleksi Winanda juga telah berpindah tangan ke kolektor lain dengan harga berlipat. ‘’Saya pernah membeli Nike Blazer dengan harga Rp 200 ribu dan saat dijual lagi laku Rp 600 ribu,’’ kenang Winanda.

Selama ini Winanda memilih merawat sendiri sepatu-sepatu koleksinya. Tidak sembarangan menggunakan jasa laundry. Sebab, umur pakai sneakers rata-rata hanya lima-enam tahun. Setelah itu, midsole-nya mengeropos atau jika ada elemen berbahan kulit biasanya retak.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Winanda biasa menggunakan sepatu-sepatu koleksinya secara bergantian setiap hari agar tidak rusak. Namun, sejak korona mewabah, sebagian terpaksa dijual. ‘’Sudah ada sekitar 80 yang saya jual, sekarang tinggal tersisa 20-an,’’ sebutnya.

Sepatu-sepatu koleksi Winanda yang telah berpindah tangan ke kolektor lain itu dibanderol Rp 250 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga tersebut disesuaikan kualitas dan faktor kelangkaan. ‘’Saya baru saja melepas Reebok Blacktop yang rilis 2014 seharga Rp 1,5 juta. Sepatu itu limited sekali karena hanya rilis tiga kali, tahun 1980-an, 1990-an, dan 2014,’’ bebernya. (mg7/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/