alexametrics
31.1 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Jalan Panjang Muthmainnah Merintis Pondok Asuh Siti Hajar

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Meski usianya sudah terbilang senja, saban hari Muthmainnah selalu menyempatkan berkunjung ke Pondok Asuh Siti Hajar di Kelurahan Patihan, Manguharjo. Pagi itu, misalnya, dia sengaja datang sekadar duduk santai sambil menyapa anak-anak yang sedang asyik bermain.

Sesekali dia juga mengurus administrasi dan menggantikan pengasuh pondok asuh yang sedang ada urusan. ‘’Selagi masih bisa berjalan, saya akan tetap beraktivitas,’’ kata perempuan 77 tahun itu.

Pondok Asuh Siti Hajar berdiri pada 1997 silam. Perintisnya lima orang. Seorang di antaranya mendiang suami Muthmainnah. Kini, pendiri yang tersisa tinggal dua perempuan, Muthmainnah dan seorang kawannya.

Pendirian pondok asuh itu didasari keprihatinan saat mengetahui banyak anak lingkungan sekitar tidak bisa mengenyam pendidikan lantaran faktor ekonomi keluarga. ‘’Kami mulai merintis di sebuah rumah sederhana,’’ ungkap Muthmainnah, Jumat (29/4).

Meski layaknya panti asuhan, Muthmainnah dkk sengaja mengonsep lembaganya seperti pondok pesantren. Banyak kegiatan rutin yang bermuatan materi keagamaan. Mulai mengaji usai salat fardu, istighotsah, hingga tausiyah untuk pembinaan mental anak. ‘’Kegiatan selama Ramadan masih sama, cuma ada tambahan buka bersama dan tadarus setiap malam,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Wali Kota Madiun Ikuti Kebijakan Lepas Masker Pemerintah tapi Enggan Sembrono

Meski fokus pada materi keagamaan, anak-anak penghuni Siti Hajar tetap mendapat mata pelajaran formal. Pun, lembaga pendidikan yang ada mulai TK, MI, SDI, hingga MTs yang tersebar di kantor-kantor cabang. ‘’Untuk jenjang SLTA, kami bebaskan memilih sesuai minat dan bakat masing-masing,’’ tuturnya.

Setelah lulus SMA, anak-anak penghuni Siti Hajar tidak lagi menjadi tanggung jawab pondok asuh. Pihak pondok asuh sekadar memberikan dukungan jika ada siswa mendapatkan beasiswa melanjutkan ke perguruan tinggi. ‘’Kami beri uang saku setiap bulannya,’’ kata Muthmainnah.

Muthmainnah merupakan alumnus Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Malang. Pun, di sana dia tinggal di sebuah asrama. Setelah lulus, perempuan itu melanjutkan kuliah di UIN Malang jurusan tarbiyah. Setelah meraih gelar sarjana, dia mengajar di PGA Muhammadiyah Kota Madiun.

‘’Tidak lama kemudian, saya dimutasi ke SMAN 5,’’ sebutnya. ‘’Beberapa tahun berselang, saya bersama rekan di SMAN 5 lantas merintis pondok asuh,’’ imbuhnya.

Meski tidak sedarah, Muthmainnah berusaha menjadi ibu yang baik bagi para anak asuhnya. Pun, menyalurkan hobi mereka secara tepat. ‘’Misalnya ada yang gemar menjahit, kami upayakan mencari donatur untuk menyumbang mesin jahit,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Meski usianya sudah terbilang senja, saban hari Muthmainnah selalu menyempatkan berkunjung ke Pondok Asuh Siti Hajar di Kelurahan Patihan, Manguharjo. Pagi itu, misalnya, dia sengaja datang sekadar duduk santai sambil menyapa anak-anak yang sedang asyik bermain.

Sesekali dia juga mengurus administrasi dan menggantikan pengasuh pondok asuh yang sedang ada urusan. ‘’Selagi masih bisa berjalan, saya akan tetap beraktivitas,’’ kata perempuan 77 tahun itu.

Pondok Asuh Siti Hajar berdiri pada 1997 silam. Perintisnya lima orang. Seorang di antaranya mendiang suami Muthmainnah. Kini, pendiri yang tersisa tinggal dua perempuan, Muthmainnah dan seorang kawannya.

Pendirian pondok asuh itu didasari keprihatinan saat mengetahui banyak anak lingkungan sekitar tidak bisa mengenyam pendidikan lantaran faktor ekonomi keluarga. ‘’Kami mulai merintis di sebuah rumah sederhana,’’ ungkap Muthmainnah, Jumat (29/4).

Meski layaknya panti asuhan, Muthmainnah dkk sengaja mengonsep lembaganya seperti pondok pesantren. Banyak kegiatan rutin yang bermuatan materi keagamaan. Mulai mengaji usai salat fardu, istighotsah, hingga tausiyah untuk pembinaan mental anak. ‘’Kegiatan selama Ramadan masih sama, cuma ada tambahan buka bersama dan tadarus setiap malam,’’ ujarnya.

Baca Juga :  THM Dirazia, Satpol PP Kota Madiun Minta Tak Buka Saat Ramadan

Meski fokus pada materi keagamaan, anak-anak penghuni Siti Hajar tetap mendapat mata pelajaran formal. Pun, lembaga pendidikan yang ada mulai TK, MI, SDI, hingga MTs yang tersebar di kantor-kantor cabang. ‘’Untuk jenjang SLTA, kami bebaskan memilih sesuai minat dan bakat masing-masing,’’ tuturnya.

Setelah lulus SMA, anak-anak penghuni Siti Hajar tidak lagi menjadi tanggung jawab pondok asuh. Pihak pondok asuh sekadar memberikan dukungan jika ada siswa mendapatkan beasiswa melanjutkan ke perguruan tinggi. ‘’Kami beri uang saku setiap bulannya,’’ kata Muthmainnah.

Muthmainnah merupakan alumnus Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Malang. Pun, di sana dia tinggal di sebuah asrama. Setelah lulus, perempuan itu melanjutkan kuliah di UIN Malang jurusan tarbiyah. Setelah meraih gelar sarjana, dia mengajar di PGA Muhammadiyah Kota Madiun.

‘’Tidak lama kemudian, saya dimutasi ke SMAN 5,’’ sebutnya. ‘’Beberapa tahun berselang, saya bersama rekan di SMAN 5 lantas merintis pondok asuh,’’ imbuhnya.

Meski tidak sedarah, Muthmainnah berusaha menjadi ibu yang baik bagi para anak asuhnya. Pun, menyalurkan hobi mereka secara tepat. ‘’Misalnya ada yang gemar menjahit, kami upayakan mencari donatur untuk menyumbang mesin jahit,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/