27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Dwi Juli Sapta Rahita, Guru Seni Rupa yang Juga Seorang Kurator

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kesehariannya mengajar di sebuah SMK swasta di Kota Madiun. Namun, publik lebih mengenal Dwi Juli Sapta Rahita sebagai seorang pelukis dan kurator. Beberapa tulisan pun telah ditelurkan pria 25 tahun itu. Apa saja?

————-

Hari sudah beranjak malam. Namun, Dwi Juli Sapta Rahita masih disibukkan dengan aktivitasnya. Pria itu tampak sedang sibuk menata lembaran kertas yang berserakan di lantai ruang tamu rumahnya. Kemudian, memasukkannya ke sebuah map.

Setelah itu, dia ganti menata sejumlah buku yang menumpuk di sudut ruangan tersebut. Hampir semuanya bertema seni rupa. Maklum saja, Sapta merupakan guru seni rupa sebuah SMK swasta di Kota Madiun. ‘’Suka menggambar sejak TK,’’ ujar warga Jalan Alang-Alang, Demangan, Taman, itu.

Hobi menggambar semakin menjadi saat Sapta bersekolah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tak mengherankan pula selepas SMA dia memilih melanjutkan studi di jurusan seni rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Sejak itu pula Sapta juga mengenal ilmu membuat patung, performance art, dan kuratori. ‘’Saya meriset sendiri bukti seni rupa yang ada, kemudian dikonfirmasi kepada pelaku yang terlibat di dalamnya,’’ ungkap Sapta.

Baca Juga :  Fitra Alif, Sarjana Pertambangan yang Memilih Jadi Petani Hidroponik

Bagi Sapta, menjadi seorang kurator harus rajin menggali informasi hingga ke berbagai daerah. Pun, dia sengaja membeli buku karya dosen Universitas Indonesia (UI) untuk memperdalam ilmu tentang kuratori.

Hingga saat ini Sapta telah menghasilkan beberapa karya. Di antaranya, seputar dinamika seni rupa di Madiun, sejarah pelukis rakyat di Madiun, dan beberapa tulisan lainnya. Sapta juga sedang mempersiapkan karya seni instalasi menggunakan media arang, gerabah, dan tanah liat. ‘’Arangnya saya harus bikin sendiri, karena kalau beli di pasaran ukurannya tidak sesuai,” sebutnya. *** (isd/c1)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kesehariannya mengajar di sebuah SMK swasta di Kota Madiun. Namun, publik lebih mengenal Dwi Juli Sapta Rahita sebagai seorang pelukis dan kurator. Beberapa tulisan pun telah ditelurkan pria 25 tahun itu. Apa saja?

————-

Hari sudah beranjak malam. Namun, Dwi Juli Sapta Rahita masih disibukkan dengan aktivitasnya. Pria itu tampak sedang sibuk menata lembaran kertas yang berserakan di lantai ruang tamu rumahnya. Kemudian, memasukkannya ke sebuah map.

Setelah itu, dia ganti menata sejumlah buku yang menumpuk di sudut ruangan tersebut. Hampir semuanya bertema seni rupa. Maklum saja, Sapta merupakan guru seni rupa sebuah SMK swasta di Kota Madiun. ‘’Suka menggambar sejak TK,’’ ujar warga Jalan Alang-Alang, Demangan, Taman, itu.

Hobi menggambar semakin menjadi saat Sapta bersekolah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tak mengherankan pula selepas SMA dia memilih melanjutkan studi di jurusan seni rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Sejak itu pula Sapta juga mengenal ilmu membuat patung, performance art, dan kuratori. ‘’Saya meriset sendiri bukti seni rupa yang ada, kemudian dikonfirmasi kepada pelaku yang terlibat di dalamnya,’’ ungkap Sapta.

Baca Juga :  Ancaman Longsor Kalahkan Wasiat Almarhum Ayah

Bagi Sapta, menjadi seorang kurator harus rajin menggali informasi hingga ke berbagai daerah. Pun, dia sengaja membeli buku karya dosen Universitas Indonesia (UI) untuk memperdalam ilmu tentang kuratori.

Hingga saat ini Sapta telah menghasilkan beberapa karya. Di antaranya, seputar dinamika seni rupa di Madiun, sejarah pelukis rakyat di Madiun, dan beberapa tulisan lainnya. Sapta juga sedang mempersiapkan karya seni instalasi menggunakan media arang, gerabah, dan tanah liat. ‘’Arangnya saya harus bikin sendiri, karena kalau beli di pasaran ukurannya tidak sesuai,” sebutnya. *** (isd/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/