KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sayup-sayup suara santri tengah menghafal Alquran terdengar saat memasuki gerbang Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mardhiyah, Kelurahan Demangan, Taman. Suasana sekitar pondok yang tenang membuat mereka bisa fokus membaca kitab suci.
Sementara, dari ujung gerbang pondok tampak Agus Mushoffa Izzuddin sedang berjalan menuju pusat suara lantunan Alquran di tengah ruangan. Siang itu, ada jadwal mengaji kitab kuning bersama para santrinya. ‘’Di sini pondok hafalan Alquran dengan program salafiyah,’’ kata pria 48 tahun itu.
Shofa –sapaan akrab Agus Mushoffa Izzuddin- dibesarkan di lingkungan Ponpes Al-Mujadadiyah, Kelurahan Demangan, Taman. Pada 1989 dia mondok di Pesantren Darul Ulum, Tambakberas, Jombang. Kala itu Shofa masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs).
Dia masih aktif nyantri sampai menamatkan pendidikan di madrasah aliyah (MA) pada 1996. Setelah itu, berpindah-pindah pondok untuk menggali ilmu yang belum diperoleh di pesantren terdahulu.
Secara keilmuan sebenarnya Shofa sudah terbilang mumpuni karena cukup lama tinggal di pondok. Namun, dia sengaja tabarru’ (mengharap berkah) kiai di bidang ihya’ dan kitab lainnya di Pare, Kediri, selama satu tahun. Setelah itu, Shofa sempat nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor untuk menekuni manajemen kepesantrenan di sana.
Shofa sengaja mondok di Gontor untuk studi banding lantaran dirinya bersama kakaknya diamanahi mengasuh Ponpes Al-Mujadadiyah. Pun, selepas dari Gontor, dia masih menggali ilmu di sejumlah pesantren lainnya. Salah satunya di Grobogan, Jawa Tengah, selama satu tahun. ‘’Saya baru pulang 2000-an saat usia 26 tahun,’’ kenangnya.
Sepulang dari Grobogan, Shofa kuliah di STAIN Ponorogo mengambil jurusan tafsir hadis. Namun, kegiatan perkuliahan bukan yang utama baginya. Sebab, selain belajar di kampus, dia bersama sang kakak aktif mengurus pondok peninggalan ayahnya. ‘’Lulus S-1, saya langsung melanjutkan ke jenjang S-2 di Insuri (Institut Sunan Giri, Red) Ponorogo,’’ ungkapnya.
Sebenarnya, kala itu Shofa sudah memiliki keinginan mendirikan pondok pesantren. Pun, punya sejumlah uang tabungan. Namun, saat meminta izin ibunya, dia diminta menggunakan uangnya untuk berangkat haji. ‘’Sepulang haji, ada tawaran untuk membeli lahan di belakang pondok,’’ ujarnya. ‘’Padahal, sebelumnya tidak pernah dilepas setiap kali ada yang ingin membeli,’’ imbuhnya.
Namun, kala itu Shofa tidak memiliki cukup uang. Namun, tiba-tiba ada seorang warga Kalimantan yang memberinya duit Rp 30 juta. Pada 2010, dia pun mulai mengelola pondok barunya dengan santri bisa dihitung jari saat itu. ‘’Istri saya fokus ke hafalan, saya di pembelajaran kitab,’’ tuturnya.
Berbekal pengalaman yang diperoleh dari berbagai pondok saat muda, Shofa tidak menghadapi kendala berarti dalam mengelola pesantrennya. Dia menerapkan ilmu kepesantrenan dari Jombang, ilmu salaf dari Kediri, dan manajemen pondok dari Gontor. ‘’Pondok saya sudah jalan 10 tahun. Saat ini jumlah santrinya mencapai 500-an,’’ ungkapnya.
Selain aktif mengurus pondok, Shofa tercatat sebagai ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Madiun. Selain itu, dia memiliki majelis taklim untuk para bapak setiap minggu. Fokusnya bidang spiritual dan tasawuf. Pun, Shofa sempat menulis buku untuk kurikulum santri di pondok. ‘’Saya bersyukur diberi waktu yang bermanfaat,’’ ucapnya. (mg7/isd/c1/her)
Editor : Hengky Ristanto