----------
SALAH satu ruang kelas di SDN 05 Madiun Lor itu ibarat seperti panggung pertunjukan drama. Tampak seorang perempuan yang berdiri di dekat papan tulis tersebut kemudian menjelaskan tentang materi dialog kepada puluhan siswanya. Mulai dari dialog sebagai pemeran antagonis, protagonis, dan tritagonis.
Semua diperagakan oleh perempuan bernama Wiwik itu dengan penuh penjiwaan. Termasuk saat memasuki adegan sedih dan menangis. ‘’Kadang saya membawakan peran bukan saat manggung saja. Ketika mengajar sekalipun selalu saya selipkan tentang pembawaan peran,’’ kata Budhe Sulung –sapaan akrab Wiwik Romiati.
Ketika diminta untuk menceritakan pengalamannya selama 40 tahun menjadi seniman teater, wajah Budhe Sulung tampak begitu cerah.
Dengan gamblangnya, perempuan parobaya itu menjelaskan tentang seni teater hingga akhirnya bisa begitu jatuh cinta pada kesenian tersebut. ‘’Saat ini, seni teater itu sangat minim peminat. Bahkan, bisa dikatakan hampir punah,’’ katanya.
Seni teater, bagi Budhe Sulung, memang sudah mendarah daging. Seolah-olah dia punya prinsip di mana pun tempatnya harus melestarikan kesenian teater. ‘’Karena itu, siswa saya berikan pembelajaran tentang kesenian ini,’’ ujar warga Jalan Cempedak, Kelurahan/Kecamatan Taman tersebut.
Kecintaannya terhadap seni peran sudah terajut sejak duduk di bangku SD. Berbagai peran juga telah dilakoni perempuan berusia 50 tahun itu. ‘’Dari SD–SMP saya dihadapkan dengan pembawaan peran yang berbeda-beda. Tapi, saat SMA hingga kuliah, hobi berteater itu sempat terhenti karena tidak mendapatkan izin dari orang tua,’’ ungkapnya.
Meski demikian, semangatnya tidak pernah padam. Kesempatan berteater muncul kembali setelah menjadi guru. Dari situ kemudian Budhe Sulung membulatkan tekad untuk terus melestarikan kesenian teater ke anak didiknya hingga sekarang. (mg4/her) Editor : Hengky Ristanto